Adik Kesayangan CEO

Adik Kesayangan CEO
Chapter 25 (Di Vila part 1)


__ADS_3

"Baiklah aku akan ikut. Tapi.." Sofia sedikit enggan untuk meneruskan kalimatnya.


"Tapi apa kak, katakanlah jangan sungkan." Ucap Melisa yang melihat keraguan Sofia.


"Tapi jangan jauh jauh liburannya. Apalagi sampai naik kapal laut." Ada sedikit cerita antara Sofia dan laut. Ia pernah mengikuti perlombaan designer muda yang di gelar di Malaysia. Saat SMA, ia mengambil jurusan tata busana. Ia menjadi perwakilan dari sekolahnya untuk mengikuti ajang kompetisi . Dan saat itu ia berangkat ke Malaysia dengan menempuh jalur laut. Saat di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang ia tumpangi mengalami insiden kebocoran yang mengakibatkan kapal tersebut nyaris tenggelam. Sejak saat itu ia memiliki trauma dengan kapal laut. Bukan hanya kapal laut. Ia juga takut dengan apapun alat transportasi yang berhubungan dengan air.


"Sofia pernah hampir tenggelam karena kapal yang ia tumpangi mengalami kecelakaan nak." Ibu Sofia mencoba memberi penjelasan tentang apa yang di risaukan anaknya.


"Kita liburannya tidak jauh kok. Di dalam negeri saja. Kita akan ke pulau XX." Alan memberi penjelasan tentang kemana tempat tujuan yang ia rencanakan untuk berlibur.


"Apa? itu pulau terluar di negeri ini kan? Tidak jauh katamu." Protes Sofia.


"Kita hanya perlu waktu dua jam jika menempuh jalur udara." Jawab Alan dengan enteng.


"Hhhh, baiklah. Terserah kalian saja." Kini Sofia memilih pasrah dan mengikuti alur yang mereka inginkan.


"Baiklah kalau begitu kami permisi pulang." Alan berdiri dari kursi kayu yang ia duduki, di ikuti Melisa yang juga berdiri dan mengimbangi pergerakan kakaknya.


"Kenapa buru-buru nak. Makanlah dulu. Sofia sudah menyiapkan makan malam." Ayah Sofia berharap Alan mau menerima tawarannya.


"Benar sekali, dulu kau juga pernah makan malam di sini kan. Dan kau sangat menyukai masakan kami." Sahut ibu Sofia. Sementara itu Melisa hanya bisa mengernyitkan dahi. Dalam hatinya terheran heran. Ternyata kakaknya sudah seakrab itu dengan keluarga Sofia. Kali ini ia benar-benar ketinggalan berita tentang sejauh mana hubungan kakak dan calon kakak iparnya itu.


"Tidak bu, kita makan malam di rumah saja." Tolak Alan dengan sopan. Bukan karena ia tidak mau. Ia menolak karena memikirkan Melisa. Adiknya itu tidak bisa makan sembarangan. Banyak sekali pantangan karena masalah yang ada pada jantungnya. Apalagi ia tidak tau apa saja komposisi dari masakan yang mereka buat. Ia tidak ingin ambil resiko jika menyangkut kesehatan adiknya.


Dan pada akhirnya, hari yang di nanti pun tiba. Tanggal 31 desember pukul 10.00 pagi, sebuah misi dimulai. Misi untuk membuat bahagia orang-orang yang ia sayangi, dengan cara mengajak mereka berlibur dan menyambut pergantian tahun di pulau dengan sejuta keindahan panorama.


Di sinilah mereka berada. Di dalam pesawat pribadi milik keluarga Yong ju. Sepanjang perjalanan, ayah dan ibu Sofia yang tengah duduk di kursi paling depan, tak henti hentinya mengungkapkan kekagumannya. Baik itu kekaguman terhadap pesawat yang ia tumpangi beserta fasilitas yang ada di dalamnya, ataupun kekakumannya terhadap pemandangan yang begitu menakjubkan yang ia lihat melalui kaca yang ada di sampingnya. Di kursi paling belakang telihat lain lagi. Disana ada Melisa yang duduk dan mengelayut manja menyandarkan tubuhnya di pelukan Kevin. Alan yang berada di kursi tengah hanya tersenyum melihat apa yang di lakukan adiknya, sambil sesekali menggoda perempuan cantik di sampingnya.

__ADS_1


"Hei, apa kau tidak ingin memelukku?" Tanya Alan tanpa basa basi. Sementara orang yang di tanya hanya diam sambil bergidik ngeri.


"Sofia, apa kau tuli." Ia mengeraskan volume suaranya karena yang di ajak bicara hanya acuh dan tidak menjawab.


"Auwhh, sakit. Kau sudah gila, berteriak sekencang itu tepat di samping telingaku. " Umpatnya sebal.


"Ya sudah kalau begitu biar aku saja yang memelukmu." Belum sempat ia mencakupkan lengan kekarnya ke tubuh ideal milik Sofia, ia sudah mendapat bogem mentah tepat di bagian perutnya."


"Auhhh. Kau sudah gila. Kau tau, perbuatanmu itu bisa saja kena hukuman pidana karena sudah termasuk KDRT."


"Hahaha, KDRT dari mana Bambang. Memangnya kita sudah berumah tangga?"


"Memang belum, tapi akan." Alan begitu bangga dengan pernyataannya barusan. Ia memang sudah memiliki rencana untuk melamar Sofia. Tapi nanti, jika Sofia sudah mulai bisa membuka hati untuknya. Ia tak ingin egois dengan menikahi perempuan yang ia cintai namun tidak mencintai dirinya. Meski pada kenyataannya hubungan yang mereka jalin saat ini adalah atas dasar paksaan dari Alan. Tapi ia yakin, suatu saat pasti ia bisa membuat hati Sofia luluh dan menerima ketulusan hatinya dalam mencinta.


Melisa yang melihat drama antara Alan dan Sofia, hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah laku kedua orang itu. Ia lebih memilih untuk menikmati momen ini dengan bermanja manja kepada Kevin. Anggap saja ini bulan madu yang tertunda. Begitu pikirnya.


"Woahh, indah sekali yah." Ucap ibu Sofia kepada suaminya. Ia sangat antusias karena belum pernah berlibur ke tempat dengan view sebagus ini."


"Apa ibu suka?" Tanya Alan.


"Sangat suka, nak. Terimakasih atas semua yang kau lakukan untuk kami." Mengusap usap lengan milik Alan yang lebih tinggi darinya, membuatnya harus mendongak demi bisa bersitatap.


"Aku senang asal kalian senang." Jawabnya sambil berlalu mendekati Melisa.


"Apa kau lelah?"


"Tidak kak, bahkan aku sangat bernafsu untuk segera jalan jalan. Aku tidak ingin menyia nyiakan keindahan yang terpampang nyata di depanku ini." Jawab Melisa sembari menghirup udara dalam dalam. Udara yang bersih dari polusi kendaraan ataupun asap pabrik. Ditambah lagi suasana yang begitu tenang, jauh dari hiruk pikuk dan kebisingan khas kota besar.

__ADS_1


Semua orang bergegas menuju kamarnya masing masing. Ada empat kamar di dalam vila ini. Melisa dan Kevin menempati kamar utama yang berada di sisi kanan, dengan jendela besar yang menampilkan view lautan luas yang bisa di lihat dari dalam kamar. Sedangkan di sisi kiri adalah kamar yang ditempati Alan. Sedangkan Sofia memilih untuk bergabung bersama kedua orang tuanya meski masih ada satu kamar kosong. Bukan tanpa alasan ia melakukan hal itu. Dulu saat ia menginap beberapa minggu di rumah Alan, guna merawat lengannya yang patah akibat drama penculikan yang di buat Farhan Sanjaya. Ia kerap kali menemukan Alan yang tiba-tiba tidur di sebelahnya saat bangun di pagi hari. Atau tiba tiba saja ia memakai kamar mandi di kamar yangbia tempati. Sungguh ia tau betul Alan suka berbuat seenak jidatnya sendiri meskipun itu tentang privasi seseorang.


Setelah selesai menaruh barang bawaan di kamar masing-masin dan beristirahat sejenak demi menghilangkan rasa lelah, mereka berencana untuk bermain main di pantai. Kecuali Kevin.


"Ayo lah kak Kevin, bergabunglah dengan kami." Pinta Melisa dengan sedikit merengek.


"Ada tugas kampus yang harus segera di revisi, dan harus segera kakak kirim." Ucapnya tanpa menoleh karena sibuk dengan laptop di depannya.


"Kita kesini mau liburan kan. Masih saja sibuk soal kuliah." Kekesalan tergambar jelas di raut wajahnya.


"Oke oke, nanti aku menyusul. Beri aku sedikit waktu. Dan setelah itu, semua waktuku milikmu." Mengecup singkat bibir Melisa.


"Baiklah, setengah jam ya."


"My God, Melisa. Ampun deh. Kau mau membuat otakku mengeluarkan asap dengan hanya memberiku waktu setengah jam untuk merevisi tulisan sebanyak ini?" Mengacak acak rambutnya karena frustasi.


"Dua jam." Pinta Kevin sambil mengacungkan dua jari.


"Hhhh,, Satu jam deal." Paksa Melisa.


"Baiklah aku usahakan." Jawab Kevin dengan pasrah.


"Aku menunggumu di pantai." Melisa berucap dengan setengah berlari seraya mengedipkan sebelah matanya."


"Kau mulai genit ya, belajar dari mana?" Teriak Kevin, tapi orang yang ia ajak bicara sudah tak terlihat batang hidungnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2