
Pesta peresmian anak cabang perusahaan Yong ju Groub di mulai. Seorang MC meminta Alan selaku Pemimpin tertinggi Yong ju Groub untuk memberi sambutan sebagai pembuka acara.
"Baiklah, pertama-tama saya ucapkan terimakasih untuk kerja keras kalian semua.
Karena kerja keras kalian itulah yang membuat perusahaan ini bisa menjadi sebesar ini. Bersama dengan peresmian anak perusahaan baru ini, saya juga akan mengumumkan bahwa saya akan memperkenalkan Kekasih hati saya tercinta, nona Sofia Olivera.
"Apa?" Jantung Sofia berdegub kencang. Bagaimana bisa bosnya itu mengumumkan hal seperti itu.
Aku? Kekasih **s**eorang bos yang semena-mena sepertimu? Astaga... dalam mimpi pun aku tidak mau.
Sementara itu Alan turun dari fodium dan menggandeng tangan Sofia.
"Hei bapak, apa yang sedang anda lakukan. Kenapa anda mengumumkan hubungan sepihak seperti ini? Bapak salah minum obat ya?" Bisik Sofia tepat di telinga Alan.
"Mulai detik ini kita resmi pacaran." Dengan santainya membuat keputusan sepihak.
Semua mata tamu undangan berpusat pada Sofia. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Bahkan beberapa orang mendekatinya dan mengucapkan selamat.
Sofia menarik tubuh Alan menuju sudut ruangan untuk menjauhi keramaian.
"Ini kita sedang main drama atau apa sih pak?" Teriak Sofia dengan wajah frustasi.
"Beraninya kau berteriak kepadaku." Menampilkan sorot matanya yang tajam.
"Bapak juga berani-beraninya memperkenalkan saya sebagai kekasih bapak."
"Memang apa salahnya kalau kita pacaran? Apa yang kurang dariku, katakanlah. Apa kau tau banyak wanita yang ingin sekali jadi kekasihku. Seharusnya kau senang."
"Saya bukan mereka dan saya tidak mau berpacaran dengan bapak.Titik."
"Kau mau kemana?" Menarik tangan Sofia yang berlalu meninggalkan pesta.
"Pulang." Jawab Sofia dengan singkat padat dan jelas.
"Baiklah aku antar kau pulang."
"Tidak usah repot-repot, saya bisa pulang sendiri."
"Memangnya kau mau pulang naik apa? Jalan kaki?"
"Sekarang jaman sudah cangih pak, saya bisa pesan ojek online."
"Apa kau tidak takut naik ojek malam-malam seperti ini? Bagaimana kalau ada perampok atau penjahat yang menghadang di tengah jalan? Apa kau tidak baca berita, banyak sekali ojek online yang menjadi korban begal akhir-akhir ini."
__ADS_1
Mendengar ucapan Alan itu membuat nyali Sofia menciut seketika. Memang benar akhir-akhir ini banyak berita tentang pembegalan, dan sasaran yang paling sering di incar adalah pengemudi ojol.
"Oke fine bapak menang." Membuka pintu mobil dan masuk kedalam mobil Alan.
***
Apa benar ayah dalang dibalik pembunuhan paman Jhonatan? Kali ini Kevin sedang dalam dilema besar. Disatu sisi Farhan Sanjaya adalah ayah kandungnya, meskipun hubungan keduanya kurang begitu baik. Disisi lain dia menginginkan keadilan untuk Melisa dan Alan.
"Kak, kenapa melamun?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang tidak bisa tidur. Kau sendiri kenapa belum tidur?" Mencubit hidung Melisa.
"Aku juga tidak bisa tidur. Apa kakak tau, tadi kak Alan mengumumkan sekretarisnya itu sebagai kekasihnya."
"Benarkah, dari mana kau tau?"
"Dari sosial media, Acara peresmian itu kan di siarkan langsung di chanel dan stasiun televisi milik Yong ju Groub kak."
"Kakakmu memang luar biasa. Bagaimama bisa dia melakukan hal seperti itu?" Tertawa lepas karena kelakuan kakak iparnya itu.
"Kakakku tidak pernah main-main dalam hal seperti ini. Aku rasa dia benar-benar mencintai kak Sofia."
"Aku juga tidak pernah main-main dengan perasaanku." Kevin menatap Melisa dengan penuh kehangatan. Keduanya saling menatap. Kevin semakin mendekatkan wajahnya. Mereka hanyut dalam perasaan masing-masing. Sampai akhirnya Mereka saling bertukar saliva.
Cukup lama mereka hanyut dalam kegiatan itu, sampai akhirna suara langkah kaki membuat mereka menghentikan aktivitasnya.
"Kami sedang menunggumu. Apa kau tau Melisa sangat penasaran tentang hubunganmu dengan sekertaris itu." Jawab Kevin yang sebenarnya bertujuan mengalihkan topik pembicaraan.
"Sayang, ini sudah larut malam. Sebaiknya kau istirahat. Dan soal hubunganku dengan Sofi, akan ku jelaskan besok. Istirahatlah, kakak akan mengantarmu ke kamar."
Melisa mengangguk sebagai jawaban. Tanpa di jelaskan pun Melisa tau bahwa Alan benar-benar menyukai Sofia. Hanya saja kakaknya itu gengsi untuk menunjukkan perasaannya itu.
Keesokan harinya berita tentang status hubungan Alan dan Sofia menjadi trending topik di semua chanel televisi dan berita online. Hal itu membuat Sofia geram. Karena tingkah laku bosnya itu dia jadi bahan perbincangan seluruh penduduk negeri. Bahkan berita itu juga di muat di surat kabar negara tetangga.
"Sofiaaaaaa." Teriak ibu Sofia yang begitu menyakiti telinga orang yang mendengarnya.
"Ibu, kenapa pagi-pagi sudah teriak-teriak seperti itu?"
"Apa berita ini benar?" Sambil menunjukkan surat kabar yang di depannya.
"Kenapa kau tidak bilang kalau tuan Alan itu pacarmu. Sepertinya kita harus mengadakan syukuran." Sambil meloncat-loncat seperti anak kecil yang sedang dibelikan mainan baru.
"Ibu hentikan. Lagi pula siapa yang ingin jadi pacarnya. Dalam mimpi pun aku sih 'NO' ya bu."
__ADS_1
"Hei kau anak kurang ajar ya. Sudah bagus dapat pacar orang kaya malah tidak di syukuri." Mendaratkan sendal ke bahu Sofia.
"Ibu senang sekali menganiaya orang dengan sendal kadaluarsa itu." Sofia berlari menghindar dari pukulan sendal yang berikutnya.
***
Pagi ini di meja makan sudah ada Melisa dan Kevin, sementara Alan masih belum turun karena banyak sekali berkas yang harus ia bawa hari ini. Mereka berdua saling bersitatap. Kevin tersenyum penuh arti kepada Melisa. Sedangkan Melisa memilih untuk mengalihkan pandangan karena malu mengingat kejadian semalan. Kini pipinya sudah bersemu merah.
"Kalian Masih menungguku? Harusnya kalian sarapan duluan jika terlalu lama menungguku." Alan datang membawa tas kerjanya yang berisi penuh dengan file pinting perusahaan.
"Tidak kak, kami juga baru saja turun kok." Jawab Melisa.
Sebenarnya Melisa ingin bertanya kepada kakaknya perihal hubungannya dengan Sofia. Tapi niatnya itu ia urungkan karena kakaknya terlihat sangat buru-buru.
"Kamu Kevin yang antar ya sayang. Kakak berangkat dulu, ada meeting pagi." Mengambil sepotong roti lalu mencium kening adik kesayangannya.
"Iya kak tapi sarapanlah dengan benar. Kau bilang tidak ada kata terlambat untuk seorang CEO kan? Tersenyum karena berhasil menggoda kakaknya.
Alan yang mendengarnya hanya membalas senyum dan lambaian tangan.
"Hati-hati di jalan kak." Membalas lambaian tangan kakaknya.
"Kau sudah selesai sarapannya? Kalau sudah ayo ku antar sekarang."
"Kak Kevin hari ini tidak ada kuliah kan? Nanti jemput aku juga ya."
"Maaf hari ini aku tidak bisa menjemputmu. Biar pak sopir saja ya yang menjemputmu nanti."
"Memangnya kak Kevin ada urusan apa?"
"Ada tugas kampus yang harus ku selesaikan." Kevin terpaksa berbohong kepada Melisa. Sebenarnya hari ini ia ingin melakukan penyelidikan dan pengintaian kepada ayahnya terkait kematian Jhonatan Yong ju.
Setelah mengantarkan Melisa ke sekolah, disinilah Kevin berada. Di sebuah apartemen milik ayahnya. Dia yakin ada yang bisa ia temukan disini. Mengingat ayahnya itu selalu melarang keras Kevin menggunakan dan menempati apartemen kosong itu.
"Untung saja aku berhasil mengambil access card ini dari kamar ayah."
Ia segera membuka pintu dan mengeledah satu persatu sudut ruangan sampai akhirnya ia menemukan sesuatu di dalam nakas.
"Apa ini?"
Dua buah disk. Tanpa pikir panjang ia memasang piringan disk itu kedalam laptop yang ia bawa, dan langsung melihat apa isinya. Betapa terkejutnya dia dengan apa yang dilihatnya. Sebuah rekaman cctv yang memperlihatkan Farhan menyerahkan pistol kepada seseorang di seberang jalan dekat kediaman Yong ju.
Dia beralih ke disk yang kedua. Disana menampilkan Farhan sedang menyodorkan kertas yang mirip dengan sebuah cek kepada orang yang sama.
__ADS_1
Ia bergegas membawa barang bukti yang dia dapatkan itu dan bermaksud memberikannya kepada Alan, tapi langkahnya terhenti karena seseorang sudah berdiri di depan pintu apartemen.
Bersambung...