Adik Kesayangan CEO

Adik Kesayangan CEO
Chapter 6 (Menyatakan cinta)


__ADS_3

Di lantai dasar perusahaan Yong ju Group tiba-tiba seorang wanita tidak sengaja menabrak Alan.


Bughhh...


"Maaf saya tidak sengaja." Mengatupkan kedua tangannya.


"Kau kurang ajar sekali ya."


"Maaf saya tidak sengaja." Sekali lagi meminta maaf.


"Lihat apa yang kau lakukan, kau membuang waktuku karena kecerobohanmu."


"Hei, aku tidak sengaja, aku sudah minta maaf kan tadi? Dan jika kau merasa waktumu terbuang untuk apa kau malah marah-marah tidak jelas seperti ini? bukankah itu akan membuat waktumu terbuang lebih banyak lagi?"


"Urusan kita belum selesai, jika kita bertemu lagi kau harus membayarnya."


"Dasar pria aneh."


Wanita itu adalah Sofia, karyawan baru Yong ju Group yang baru saja di terima sebagai sekertaris Alan. Karena ini adalah hari pertamanya kerja dia tidak tau kalau orang yang di tabraknya tadi adalah CEO perusajaan ini.


"Selamat pagi pak, sekertaris baru anda sudah bisa bekerja mulai hari ini." Orang yang bekerja di bagian HRD menyampaikan hal ini kepada Alan.


"Suruh dia masuk."


"Selamat pagi pak, perkenalkan saya Sofia, sekertaris baru bapak".


Alan yang duduk membelakangi Sofia memutar tubuhnya dan melihat seperti apa sekertarisnya yang baru.


"Kau?"


Keduanya terkejut setelah Alan memutar tubuhnya.


Astaga.. apa aku akan di pecat detik ini juga


Barin sofia sambil memejamkan matanya karena takut.


"Mengenai kejadian yang tadi saya minta maaf pak. Bapak boleh hukum saya, bapak juga boleh memotong gaji saya. Tapi saya mohon jangan pecat saya pak."


"Kau kerja saja belum, bagaimana bisa aku memotong gajimu". Tersenyum sinis.


"Kalau begitu hukum saja saya pak, tapi saya jangan di pecat."

__ADS_1


"Baiklah aku tidak akan memecatmu. Tapi aku ingatkan, kau tidak akan mudah bekerja di sini. Atau mungkin malah kau yang akan mengundurkan diri nanti."


"Terimakasih pak, saya janji akan bekerja sebaik mungkin, sekali lagi terimakasih."


Kita lihat saja sejauh mana kau akan bertahan. Batin Alan disertai Senyum liciknya.


Dilain tempat Kevin berusaha mencari tau kenapa sikap Melisa kepadanya berubah. Dia sangat yakin ada sesuatu yang di sembunyikan Melisa.


"Mel," Meraih tangan Melisa


"Apa sih kak?" Menepis tangan Kevin


"Sebenarnya ada apa? Kenapa kau marah dan menghindar dariku?"


"Tidak ada apa-apa." Memalingkan wajah menghindari tatapan wajah keduanya.


"Jangan berpura-pura tidak ada apa-apa sedangkan sikapmu seperti ini." Meraih dagu Melisa agar menatap dirinya.


Tiba-tiba tangis Melisa tak terbendung lagi


Bughhh.. Melisa memukul bahu Kevin.


"Kau jahat sekali, kenapa kau beri harapan palsu kepadaku."


"Jangan pura-pura bodoh, kau memberi harapan padaku tapi kau berhubungan dengan wanita itu." Menangis terisak sambil mendaratkan pukulan bertubi-tubi di dada Kevin.


"Siapa? Aku tidak punya hubungan dengan wanita manapun selain denganmu. Apa kau lupa kita sudah menikah sekarang?"


"Kita memang sudah menikah, tapi bagimu ini hanya setatus saja kan? lalu kenapa kau memberi harapan padaku? kenapa kau jahat sekali?" Kembali terisak sambil menyeka airmatanya yang tiada hentinya mengalir.


"Coba katakan dengan jelas, aku benar- benar tidak mengerti siapa wanita yang kau maksud."


"Baiklah coba jelaskan padaku siapa Maya. Kau sangat dekat dengannya kan?" Tidak mungkin seorang pria dan wanita bisa sedekat itu kalau tidak ada hubungan apapun."


"Hei, dengarkan aku, sayang. Pertama, Maya adalah sahabatku, kami memang sangat dekat karena kami bersahabat sejak SD.


Kedua, kami tidak ada hubungan apapun selain persahabatan. Dan yang ketiga, aku sangat mencintaimu. Aku tidak tahu sejak kapan aku mencintaimu, mungkin sejak pertama kita bertemu. Mana mungkin aku menerima perjodohan ini kalau aku tidak tertarik padamu. Mungkin aku jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi aku baru menyadarinya sekarang."


"Melisa hanya mematung mendengarkan penjelasan panjang lebar dari Kevin. Ada perasaan lega di hatinya. Tapi entah mengapa ia merasakan lemas di sekujur tubuhnya. Dadanya sesak dan membuatnya sulit bernafas. Keringat dingin bercucuran membasahi telapak tangannya..


"Mel, kau baik-baik saja?"

__ADS_1


Dan tiba-tiba tubuhnya ambruk tak sadarkan diri. Kevin yang cemas langsung bergegas membawa isrtinya ke rumahsakit terdekat.


Alan yang mendengar kabar dari Kevin bahwa adiknya tengah tidak sadarkan diri segera menuju rumah sakit.


"Kau ikut aku sekarang." Menarik tangan Sofia.


"Kita mau kemana pak?"


"Diam dan ikut saja." Jawab Alan setengah membentak. Seketika nyali Sofi menciut dan tidak berani bertanya lagi. Dia memilih untuk menurut saja dari pada dia di pecat.


Sesampainya rumahsakit Alan berjalan dengan cepat, lebih tepatnya setengah berlari karena ingin memastikan keadaan adiknya.


Kenapa kita kerumahsakit, siapa yang sakit? Pertanyaan yang hanya mampu Sofi katakan di dalam hati.


"Dimana Melisa vin, apa yang terjadi, bagaimana keadaannya?" Dengan wajah cemas ia tak hentinya memberikan pertanyaan yang bertubi-tubi kepada Kevin.


"Dia pingsan, di bawa ke ruang ICU, sekarang belum sadar." Kevin menjawab dengan suara bergetar seperti menahan tangis. Ya, dia pun tak kalah panik dan khawatir seperti Alan


Sementara itu Alan terduduk lemas di lantai rumah sakit. Dia menunduk demi menyembunyikan air matanya. Tapi suara isakan tidak bisa dia tahan. Sofia yang menyadari bahwa bosnya sedang menangis merasa bingung dan berusaha menenangkannya.


Ternyata dibalik sikap arogan dan angkuhnya, dia memiliki sisi lain seperti ini. Sebenarnya siapa yang sakit sampai bisa merubah sifatnya 180 derajat seperti ini. Batin Sofia.


"Dokter bagaimana keadaan adik saya?"


"Keadaannya sudah setabil, mungkin sebentar lagi akan siuman. Tapi tolong jangan di ajak banyak bicara dulu. Biarkan pasien beristirahat."


Ucapan dokter memberikan sedikit kelegaan di hati Alan dan Kevin. Sementara Sofia dari tadi hanya mematung dan bertanya tanya di hatinya tentang apa yang terjadi sebenarnya.


"Terimakasih sudah menjaga Melisa saat aku tidak ada." Ucapan itu lolos begitu saja dari mulut Alan


"Sudah kewajibanku menjaga dan melindungi istriku."


"Dia seperti ini karena menyelamatkan nyawaku, aku tidak akan memaafkan diriku jika terjadi sesuatu dengannya."


"Itu di luar kendali kita kak, jangan menyalahkan dirimu.


Sofia datang membawa dua botol air mineral untuk Alan dan Kevin.


"Ini minum dulu biar kalian tenang."


"Terimakasih." Jawab keduanya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2