Adik Kesayangan CEO

Adik Kesayangan CEO
Chapter 43 (Will You Marry Me?)


__ADS_3

Entah bagaimana nasib Chika saat ini. Karena sudah satu minggu ini dia tidak masuk sekolah. Apakah dia sudah mulai di proses secara hukum? Ataukah sekolah sudah mengeluarkannya? Entahlah. Melisa tidak berani menanyakan masalah itu kepada kakaknya.


Hingga akhirnya semua pertanyaan itu terjawab ketika seorang wanita paruh baya, yang tak lain adalah ibunya Chika menemui Melisa di sekolah.


"Tolong maafkan Chika nak. Dia sudah tidak punya Ayah. Adiknya masih kecil-kecil. Jika dia di keluarkan dari sekolah, bagaimana dia bisa bersekolah lagi. Sedangkan selama ini dia mengandalkan beasiswa. Apalagi jika dia sampai di penjara. Bagaimana nasib kita nanti. Hanya dia satu-satunya harapan kami agar bisa membantu perekonomian keluarga nak."


Melisa sunguh tidak tega melihatnya. Tapi ia juga tidak tau bagaimana caranya agar Alan mau memaafkan dan melepaskan Chika. "Sudah jangan menangis bibik, aku akan coba bicara pada kakak nanti. Semoga dia mau mengubah keputusannya." Akhirnya kata itulah yang keluar dari mulutnya.


Hari menjelang sore, Melisa baru saja menyelesaikan pelajaran tambahan yang di adakan sekolah, karena ujian nasional semakin dekat.


"Melisa." Sapa Aldo yang kebetulan melihat Melisa sendirian di dekat parkiran.


Melisa hanya membalasnya dengan senyum karena sungguh ia menjadi sangat canggung setelah kejadian itu.


"Mau aku antar pulang?"


"Aa, tidak. Tidak perlu." Jawab Melisa secepat kilat.


"Tidak usah canggung begitu. Aku harap kita masih bisa berteman. Kita mulai dari awal lagi."


"Teman." Ucap Melisa sambil menyodorkan tangannya dan di balas serupa oleh Aldo.


"Teman." Kini mereka saling berjabat tangan sebagai simbolis awal yang baru bagi pertemanan mereka.


"Itu sepertinya jemputanmu sudah datang." Aldo menunjuk ke arah mobil yang baru saja memasuki parkiran sekolah. Mobil yang biasa menjemput Melisa. Tapi kali ini bukan pak sopir yang turun, melainkan perempuan cantik berperawakan tinggi, dan berpakaian modis.


"Eh, tapi kok yang turun bukan pak sopir, tapi bidadari." Celoteh Aldo yang otomatis membuat Melisa menoleh karena penasaran.


"Amora!" Kenapa kau yang menjemputku?"


"Iya, sengaja. Sungguh aku sangat bosan dirumah. So, aku mau cari angin, sekalian jemput kamu."


"Oh, iya kenalkan. Dia Aldo. Teman sekelasku.


Aldo tersenyum kecut saat Melisa memperkenalkan dirinya sebagai teman sekelasnya. Sekedar teman sekelas. Bukan lagi sahabat.


"Hai, Aku Aldo." Aldo menjabat tangan Amora.


"Aku Amora. Motormu keren. Aku suka." Puji Amora ketika melihat motor antik yang di bawa Aldo. Tapi Aldo justru merasa bahwa itu bukan pujian, tapi sebuah ejekan.


"Jangan meledek. Ini motor sangat tua. Ini peninggalan mendiang kakek buyutku." Jawab Aldo dengan menggaruk tengkuknya.


"Maka dari itu aku suka. Aku pecinta barang antik. Kapan-kapan apa boleh aku meminjamnya?"


"Tentu saja. Meskupun motor tua, tapi kondisinya masih sangat terawat. Aku menjaganya sepenuh hati."


"Wah wah, jadi hatimu sudah sepenuhnya untuk motor ini? Jadi aku sudah tidak ada harapan lagi untuk mengisi hatimu." Goda Amora.


"Astaga Amora. Kau ini benar-benar ya. Aldo itu sangat polos. Jangan coba-coba mengotori jiwa polosnya." Oceh Melisa yang menyadari wajah Aldo memerah karena malu.


"Hahaha. Aku hanya bercanda. Ya sudah jalan yuk. Duluan ya Al.. Al... Siapa tadi?"

__ADS_1


"Aldo." Jawab Melisa.


"Ah, iya Aldo. Duluan ya Aldo." Amora menarik tangan Melisa dan membawanya pergi begitu saja.


Astaga. ada ya cewek modelnya seperti itu. Yang ini mah sebelas dua belas dari Chika. Gerutu Aldo dalam hati.


Di dalam mobil, Amora masih saja tertawa meningat reaksi Aldo saat ia menggodanya tadi.


"Apa kau lihat temanmu tadi. Aku hanya sedikit menggodanya. Tapi wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus. Hahaha."


Melisa memutar bola matanya. "Hhhhh. Wajahnya merah bukan karena malu, tapi ingin muntah karena ocehanmu yang unfaedah itu."


"Tapi dia lumayan juga. Aku yakin pasti banyak cewek yang memperebutkannya di sekolah."


"Memang iya. Bahkan salah satu fans nya harus di drop out dari sekolah karena itu." Melisa sedih mengingat nasib Chika saat ini. Ia tau bahwa alasan Chika menyebar fitnah tentang kehamilannya itu tak lain karena sakit hati dengan Aldo dan dirinya. Chika mengira bahwa Aldo dan Melisa ada hubungan sampai sampai ia mengira Melisa hamil dengan Aldo.


"Oh ya? separah itu?" Tanya Amora tak percaya.


"Hmmm, Dia di butakan cinta. Dia berfikir Aku dan Aldo ada hubungan. Dan dia juga mengira Aldo yang bertanggung jawab atas kehamilanku. Padahal kedekatan kami hanyalah sebatas sahabat. Dan pada akhirnya dia menyebar fitnah ke seluruh siswa bahwa aku sedang hamil di luar nikah dengannya."


"Lalu dia di drop out karena hal itu? Hahaha. Dia salah mencari lawan. Karena pasti kak Alan tidak akan melepaskannya."


"Ya, begitulah." Melisa menghembuskan nafasnya kasar.


"Wait wait.., tadi apa kau bilang? kau dan Aldo sahabat? Jangan bilang jika Aldo adalah orang yang kau ceritakan kemarin? Dia sahabatmu yang ternyata suka kepadamu?"


"Ya, memang dia orangnya."


"Menarik? apanya yang menarik?" Melisa mendengar meskipun Amora bergumam pelan.


"Ahh, tidak tidak. Aku lapar. Sekalian cari makan yuk." Amora berusaha mengalihkan pembicaraan. Jangan sampai Melisa tau bahwa dirinya sangat tertarik untuk mengenal Aldo lebih dekat lagi, karena merasa ia senasib dengan Aldo. Aldo patah hati dengan Melisa sedangkan dirinya patah hati dengan Kevin yang tak lain adalah suami Melisa.


"Makan Chines food aja gimana?" Tawar Melisa yang kebetulan sangat ingin makan masakan khas Cina. Entah mengapa rasa ngidamnya masih sering muncul meskipun usia kehamilannya sudah menginjak lima bulan.


"Makan?" Lamunan Amora buyar ketika Melisa mengajak berbicara.


"Astaga kau melamun? Tadi kau sendiri kan yang mengajakku makan? Kenapa sekarang jadi bingung begitu?"


"Ah iya makan. Kau mau makan apa?" Amora lupa jika tadi dia mengalihkan pembicaraan dengan cara mengajak Melisa makan siang."


"Jangan suka melamun saat berkendara. Itu sangat berbahaya." Tegur Melisa.


"Iya iya maaf. Kau mau makan apa?" Ulangnya lagi.


"Chines food gimana?" Tanya Melisa.


"Oke, Chines food."


***


Hari ini pekerjaan Alan tidak terlalu banyak. Dia bisa pulang lebih awal. Kesempatan ini tidak akan ia sia-siakan begitu saja. Ia ingin mengajak Sofia ke suatu tempat.

__ADS_1


"Ikut aku." Titah Alan kepada Sofia yang masih sibuk membereskan meja kerjanya.


"Kemana?"


"Nanti kau juga tau."


"Ya ya, kau rajanya." Gerutu Sofia.


Hingga akhirnya, tibalah mereka berdua di sebuah danau yang begitu sejuk dan nyaman.


"Indah sekali." Sofia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Ia begitu kagum dengan keindahan yang ada di depan matanya saat ini.


"Kau suka?"


"Ya. Aku sangat menyukai tempat ini." Senyum tak lepas dari bibir Sofia.


"Kalau begitu, biarkan tempat ini menjadi saksi sejarah antara kita berdua."


Sofia mengernyitkan dahi. Ia tidak bisa menangkap maksud dari ucapan Alan barusan.


Sedetik kemudian Alan bersimpuh di depan Sofia dan menyodorkan sebuah kotak perhiasan yang berisi sebuah cincin dan sebuah liontin dengan batu permata berwarna toska. Ia seperti tidak asing dengan liontin itu.


"Bukankah liontin ini-,"


"Ya, ini liontin yang kau jumpai saat di pulau xx dulu. Aku tau kau sangat menyukainya. Jadi aku ingin memberikannya di saat yang spesial seperti sekarang ini."


Sofia tak henti-hentinya mengembangkan senyuman, bahkan saat ini ia tengah sibuk dengan lamunannya sendiri.


"Hei, apa jawabanmu? Kakiku pegal jika terlalu lama bersimpuh seperti ini."


Dan hal itu membuat lamunan Sofia buyar seketika. Setelah sadar dengan ucapan Alan tadi, tentu saja dia berubah menjadi sangat kesal.


"Memang ada orang yang melamar seperti itu? Sewajarnya orang melamar itu merayu dengan kata-kata manis. Kalau melamar dengan kata keluhan seperti itu mana di terima." Jawab Sofia kesal.


"Iya iya baiklah. Aku ulangi pertanyaanku. Sofia, maukah kau menikah denganku?" Kali ini Alan berbicara semanis mungkin.


Sofia terlihat berfikir. Sesaat kemudian ia mengangguk sebagai jawaban bahwa ia menerima lamaran dari Alan.


Alan segera bangkit dan memeluk erat Sofia.


"Apa itu berarti kau mencintaiku?" Alan memastikan apakah Sofia sudah benar-benar menerima dirinya seutuhnya.


"Ya. A.. aku, aku mencintaimu." Ucap Sofia sedikit malu-malu.


"Katakan, apa yang membuatmu akhirnya menerimaku?"


"Entahlah, mungkin karena kau pria aneh yang selalu menempel padaku." Sofia tertawa pelan setelah mengatakan itu.


"Benarkah?" Alan ikut tertawa mendengar jawaban Sofia yang terlalu jujur itu.


"Maybe."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2