
Kini ketiganya sudah berada di meja makan untuk sarapan. Ya, sarapan yang kesiangan karena menunggu Melisa selesai mandi dengan segala dramanya.
Di tengah-tengah sarapan, Evelyn yang baru saja pulang dari rumahsakit menghampiri Kevin untuk meminta tolong kepadanya.
"Kevin, bisa bantu tante membawa Amora ke atas?" sebenarnya Evelyn ingin meminta Alan yang melakukannya. Tapi sudah pasti jawaban dari Alan adalah sebuah penolakan.
Kevin hanya terdiam karena bingung harus menjawab apa, sampai akhirnya Alan bersuara. "Kenapa tidak minta tolong supir atau security saja."
"Amora itu seorang gadis. Seharusnya kau paham, selagi masih ada keluarganya kenapa harus orang lain yang menyentuhnya. Apalagi dengan lawan jenis."
"Yang di bilang tante Evelyn itu benar kak, jadi aku-," Ucapan Kevin terpotong karena tiba-tiba Alan bangkit dari duduknya dan bersuara. "Biar aku saja."
Alan segera menghampiri Amora yang sedang duduk di kursi roda lalu menggendongnya ke kamar. Ia melakukan itu bukan karena peduli dengan Amora. Karena jika Kevin yang melakukan ini, sudah pasti Melisa akan terluka lagi. So, ia menurunkan egonya kali ini demi menjaga hati kesayangannya.
Senyum mengembang di bibir Amora. Betapa senangnya karena ia merasa Alan sudah sedikit membuka celah di hatinya untuk menerimanya sebagai keluarga.
"Terimakasih kak." Ucap Amora kepada Alan yang hendak keluar dari kamar Amora.
"Ya". Jawabnya singkat. Tapi itu cukup membuat Amora senang. Setidaknya Alan mau berbicara padanya, walau hanya dua huruf saja.
Alan beranjak pergi, tapi pada saat yang bersamaan Evelyn datang dan menghentikannya.
"Alan, mama ingin bicara."
"Ya, siahkan." Jawabnya datar.
"Tolong jaga adikmu. Lusa mama harus pergi ke Tokyo. Ada pekerjaan yang harus mama selesaikan di sana."
Alan hanya diam tak bergeming. Ia hendak berlalu meninggalkan Evelyn tanpa berniat menjawab permintaan ibunya itu, karena jawabannya pasti 'tidak'.
"Alan, mama mohon kali ini saja kau membantu mama."
Alan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap ibunya
"Apa saat aku memohon kepada mama agar jangan pergi bersama selingkuhan mama dulu, lantas mama mengiyakan permintaanku? Aku juga permah memohon seperti ini kepada mama. Tapi apa yang ku dapatkan? Sejak saat itu aku kehilangan seorang ibu. Tapi mama tenang saja, aku tidak seperti mama. Akan ku jaga Amora demi Melisaku."
__ADS_1
Evelyn tampak mengernyitkan dahi. "Apa hubungannya dengan gadis itu?"
"Gadis itu punya nama, Melisa. Dan dia yang memohon padaku untuk bersikap baik pada kalian. Jadi bersikap baiklah kepada Melisa, dan juga berterimakasihlah kepadanya."
Evelyn tampak geram dan menahan amarahnya. Lain halnya dengan Amora. Senyum bajagia mengembang di bibirnya. Ingin rasanya ia segera pulih dan menemui Melisa untuk berterimakasih karena sudah membantu memperbaiki hubungannya dengan Alan.
Saat kembali ke meja makan, ia mendapatkan tatapan aneh dari Kevin dan Melisa
"Kenapa kalian melihatku seperti itu?"
"Tidak apa-apa kak." Melisa tersenyum karena sepretinya kakaknya sudah mulai bisa membuka hatinya untuk Amora. Ia berharap, hubungan persaudaraan diantara mereka segera membaik.
"Lanjutkan makan kalian." Perintah Alan.
Setelah sarapan selesai, semua melanjutkan aktivitasnya masing-masing. Alan dan Kevin di disibukkan dengan pekerjaaan kantornya, sedangkan Melisa, jangan tanyakan lagi. Tentu saat ini dia sedang guling-guling di atas tempat tidur karena merasa jenuh dan bosan. Setelah sekolah daring selesai, ia tidak ada kegiatan apapun.
Jika kemarin-kemarin ada Sofia yang menemaninya. Tapi untuk hari ini tidak, karena hari ini ibunya harus menjalani operasi karena ternyata sakit yang di deritanya bukan hanya asam lambung, tapi juga usus buntu.
"Arrgggghhhhh. Lama-lama bisa gila kalau seperti ini." Melisa mengacak-acak rambutnya. Sejurus dengan itu, ia memiliki ide untuk mengusir bosan dan kesepian yang mendominasi dirinya saat ini.
Dengan langkah penuh semangat 45, ia menuju kamar Amora. Ia mengetuk pintu walaupun kamar Amora saat ini pintunya setengah terbuka.
"Masuk saja!" Perintah Evelyn setelah seseorang mengetuk pintu, yang ia kira adalah ART di rumah ini. Tapi saat ia mendapati Melisa yang masuk, ia segera membuang muka. Jika ia tau yang mengetuk pintu adalah Melisa, tentu ia tidak akan sudi berbicara apalagi mempersilahkan masuk.
"Mama keluar dulu." Evelyn keluar begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Amora.
"Hai ra, bagaimana keadaanmu?" Melisa sedikit canggung memulai pembicaraan.
"Sudah lebih baik." Senyum ia kembangkan di bibirnya, sebagai penguat bahwa ia benar-benar sudah sehat.
"Maaf aku tidak menjengukmu kemarin." Melisa menunduk sedih, mengingat kejadian dimana melihat Kevin menyuapi Amora. Dan itu terlihat begitu mesra di matanya.
"Hei sudahlah jangan sedih seperti itu. Yang penting aku baik-baik saja kan." Amora berusaha menghibur Melisa yang ia kira bersedih karena tidak sempat menjenguknya. Tapi nyatanya tidak seperti itu. Ia tidak tau bahwa alasan yang membuat Melisa sedih adalah kedekatannya dengan Kevin.
"Kau sendiri bagaimana? Apa masih sering mual di pagi hari?
__ADS_1
"Ya begitulah, seperti orang hamil pada umumnnya." Jawab Melisa dengan senyuman.
Amora menggenggam tangan Melisa dan menatap intens kepadanya. "Terimakasih kau sudah membantuku untuk memperbaiki hubunganku dengan kak Alan." Suaranya kini berubah bergetar. Matanya terlihat berair karena airmata kini mulai jatuh tak terbendung.
Melisa tersenyum dan Memeluk Amora. Tapi ia bingung, bahkan ia merasa tidak melakukan apapun. Tapi kenapa Amora berterimakasih seperti ini?
"Sekali lagi terimakasih Mel, aku berhutang budi kepadamu. Aku juga minta maaf karena selama beberapa hari Mama Evelyn sering meminta tolong kepada suamimu untuk menjagaku di rumahsakit. Kau jangan cemburu ya. Kami tidak ada hubungan apapun selain pertemanan.
Melisa melepas pelukannya. "Hutang budi apa? bahkan aku tidak melakukan apapun. Dan soal kak Kevin, aku percaya pada kalian." Meskipun aku sakit melihat kedekatan kalian." Ucap Melisa di dalam hati. Tapi setidaknya ia merasa lega setelah apa yang di ucapkan Amora tadi.
"Aku tau kau yang meminta kak Alan agar bersikap baik kepadaku dan mama. meskipun ini ia lakukan demi dirimu, tapi aku sangat bahagia. Bagiku ini awal yang baik untuk memperbaiki hubungan keluarga kami yang berantakan."
Melisa tersenyum mendengarnya. Ia ingat beberapa hari yang lalu ia meminta kakaknya bersikap baik kepada Amora dan Evelyn yang notabene adalah keluarga kandungnya sendiri.
"Aku berjanji, membantumu mendapatkan hakmu sebagai seorang adik." Melisa tersenyum dan menepuk lembut bahu Amora.
Sejak saat itu, keduanya semakin akrab. Bahkan semakin lengket saja. Karena Amora tidak di izinkan Alan bekerja dengan alasan ia ingin Amora istirahat sampai benar-benar pulih. Tapi selain itu, ia juga ingin agar Melisa ada teman di rumah. Ia melihat Melisa begitu bahagia dan begitu dekat dengan Amora.
Sedangkan Sofia, ia sudah kembali menjadi Sekretaris Alan di perusahaan, lebih tepatnya ia ingin Sofia selalu berada di sampingnya.
Waktu berlalu begitu cepat. Melisapun sudah mulai masuk sekolah dan belajar mengikuti pelajaran tatap muka. Selain karena kondisi kesehatannya yang sudah stabil, dan morning sickness nya yang mulai bekurang, tentu saja karena ujian sudah semakin dekat.
"Melisa Yong ju!!!" Teriak seseorang yang saat melihat Melisa kembali masuk sekolah setelah berminggu-minggu melakukan sekolah daring dengan alasan kondisi kesehatan yang terganggu. Karena itu pula semua siswa, terutama siswa kelas tiga mengetahui jika dirinya mengalami sakit yamg cukup parah. Dan ia sangat membenci keadaan ini, karena ia tidak suka dikasihani.
"Hai, Aldo! Long time no see." Melisa memeluk sahabatnya yang sudah beberapa minggu ini tak ia jumpai.
"Maaf selama kamu sakit aku tidak bisa menjengukmu. Karena kegiatan sekolah semakin padat saja." Aldo memutar bola matanya mengingat betapa sibuknya dirinya akhir-akhir ini karena harus membagi waktu untuk persiapan ujian dan pekerjaan part time nya.
"Kamu masih kerja part time?"
"Ya, begitulah. Kalau tidak, dari mana aku makan." Aldo menundukkan pandangannya. Ia tiba-tiba teringat kembali dengan mendiang ayahnya. Andai saja ayahnya masih hidup, tentu ia dan ibunya tidak akan mengalami kehidupan yang sesulit ini.
"Hei, kenapa sedih begitu mukanya. Semangat dong. Mana Aldo yang ku kenal?" Melisa mencoba menghibur sahabatnya. Ia tau betapa sulitnya kehidupan yang dijalani Aldo saat ini. Yang membuatnya lebih sedih lagi, Aldo selalu saja menolak bantuan materi darinya. "Aku masih mampu membiayai kehidupanku sendiri." Begitulah jawaban yang keluar dari Aldo jika Melisa ingin memberi sedikit uang jajannya kepada Aldo, dengan maksud meringankan bebannya. Tapi Melisa bisa apa? ia tak mungkin memaksa sahabatnya itu menerima bantuan darinya karena takut jika Aldo akan tersinggung.
Bersambung...
__ADS_1