Adik Kesayangan CEO

Adik Kesayangan CEO
Chapter 8 (First kiss)


__ADS_3

"Sekali lagi maafkan kelancangan saya karena telah berani memukul tubuh anda yang berharga itu dengan sendal jelek ini tuan."


"Baiklah bibik akan aku maafkan asalkan aku boleh beristirahat disini. Aku begadang semalaman menjaga adikku. Aku lelah sekali, rasanya sangat berbahaya jika aku menyetir dalam keadaan mengantuk."


"Apa?" Sofi melirik tajam bosnya itu.


"Bapak pulang saja, rumah bapak dekat kan dari sini. Lagi pula disini hanya ada dua kamar, tidak ada kamar lagi." Sofi berusaha mencari cara agar bos yang nenyebalkan itu segera pulang dan membatalkan niatnya.


"Kamu ini bicara apa? Tuan Alan bisa tidur di kamar kamu, dan kamu istirahatlah di kamar ibu."


Sofia hanya bisa mengumpat dalam hati. Sedangkan Alan menunjukkan seringai kemenangannya.


"Sudah dua hari Kevin tidak masuk kuliah. Ada apa dengannya." Maya berusaha menghubungi Kevin dengan ponselnya.


Sedangkan Kevin hanya memandangi ponselnya. Ragu untuk mengangkat panggilan dari Maya menginggat yang menyebabkan Melisa seperti ini adalah kesalahpahamannya dengan Maya.


"Siapa kak? Kenapa tidak di angkat?."


"Bukan siapa-siapa, ini hanya.." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba Melisa mengambil ponsel Kevin dari tangannya.


"Kenapa tidak di angkat?"


"Aku hanya tidak mau kalau kamu sampai salah paham lagi."


"Berarti kalau tidak ada aku kakak baru akan mengangkat telepon nya? Jadi aku tidak boleh mendengar apa yang kalian bicarakan?" Membuang muka ke arah yang lain, Entah kenapa saat nama Maya disebut, atau sesuatu yang berhubungan dengan Maya, ia merasa tidak nyaman mendengarnya.


"Bukan begitu sayang, lihat aku, bagiku hanya kamu satu-satunya yang bisa mengisi ruang di hatiku." Sambil meraih wajah Melisa agar melihat dirinya.


Melihat Melisa hanya diam dan tidak menjawab apapun Kevin jadi serba salah.


Hhhhh... lebih mudah menghadapi preman daripada menghadapi istri yang sedang cemburu...


Tiba-tiba saja.. cup..

__ADS_1


Sebuah ciuman mendarat di bibir Melisa.


Melisa kaget sekaligus bahagia dengan apa yang di lakukan Kevin. Wajahnya sampai merah tersipu malu karena ini adalah ciuman pertamanya.


"Gitu dong senyum, tambah cantik kan." Goda Kevin kepada Melisa."


"Ihh kakak apaan sih." Masih berusaha menyembunyikan rasa malunya.


"Kalau kak Alan tau kak Kevin bisa dalam masalah."


"Kakakmu tidak akan tau kalau kau tidak mengatakannya. Lagipula didalam surat perjanjian tidak ada kalimat yang melarang untuk menciummu kan. Kevin berkata sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ihhhh kakak..." Memukul bahu Kevin dengan botol air mineral di sampingnya. Sementara Kevin hanya terkekeh dan mengusap-usap lembut ujung kepala istrinya itu.


"Lihatlah bu, ini sudah hampir gelap dan dia tidak bangun juga, dasar kerbau." Sofi kesal karena hari sudah mulai gelap dan tamu tak di undang yang tengah tidur di kamarnya tak kunjung bangun dan pulang kerumahnya.


"Hei kau bicara apa?" Tidak disangka Alan sudah bangun dan berdiri di belakang Sofia.


"Aaa tidak tuan, tadi Sofia hanya berkata kalau dia sudah tidak sabar karena ingin makam malam dengan tuan, benar kan Sofi sayang?" Ucap ibu Sofi sambil mencubit lengan anaknya.


"Silahkan dimakan tuan, maaf hanya alakadarnya, beginilah menu makanan rakyat kecil seperti kami.


Di depan Alan sudah berjajar menu sayur asem dan ikan asin beserta sambal terasi. Menu makanan yang asing baginya.


"Oh ya bik, aku putuskan untuk menginap disini, karena hari sudah mulai gelap."


"Ini hukuman karena kamu sudah mengatai aku kerbau tadi." Bisik Alan kepada Sofi.


Uhukkk.. Sofia tersedak air minum saat mendengar apa yang barusan dikatakan Alan.


Aku pikir dia tidak mendengarnya tadi. Ternyata dia dengar saat aku mengatainya kerbau. Semoga dia tidak marah dan mempersulit pekerjaanku nanti. Atau jangan sampai dia memecatku karena hal ini.


"Aaaaaa tidak....." Sofi menjerit membayangkan jika hal dia pikirkan menjadi kenyataan.

__ADS_1


"Kau ini kenapa?" Tanya ibu Sofia sambil memukul lengan anaknya reflek karena kaget.


"Tidak bu, aku hanya terbayang sesuatu tadi."


"Dasar wanita aneh." Alan menggeleng-gelengkan kepala heran dengan tingkah laku Sofia.


"Baiklah, aku sudah selesai makan. Aku pamit pulang. Dan terimakasih bibik atas makan malamnya."


"Bukankah bapak akan menginap? Kenapa berpamitan pulang?"


"Sofia, sepertinya kau ingin sekali ya aku menginap di rumahmu?" Tersenyum penuh kemenangan.


"Bukan begitu, tadi bapak sendiri kan yang bilang mau menginap disini?" Menjawab dengan salah tingkah.


"Aku akan kembali ke rumah sakit. Mana bisa aku meninggalkan Melisa terlalu lama dalam keadaan seperti ini." Berjalan menuju pintu rumah.


"Pak tunggu...." Menoleh kepada Sofia.


"Apa?"


"Sampaikan salamku kepada Melisa. Semoga lekas sembuh dan bisa segera kembali ke rumah." Ucapan itu terdengar begitu tulus di telinga Alan.


"Baiklah akan ku sampaikan."


Alan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Sebelum menuju ke rumah sakit, ada hal yang harus ia bereskan terlebih dahulu. Detektif yang ia sewa untuk menyelidiki otak pembunuhan ayahnya mulai menunjukkan titik terang. Meski orang yang menembak ayahnya sudah di penjara dan di hukum mati, tapi ia yakin bahwa orang itu hanya eksekutor. Dan dia juga yakin otak pembunuhan itu adalah orang dalam atau orang yang sudah sering keluar masuk kedalam rumahnya.


"Bukti apa yang sudah kau dapatkan?"


"Ini tuan." Menyodorkan map berwarna cokelat berisi data-data yang berguna sebagai barang bukti."


"Farhan Sanjaya?" Kaget dengan apa yang dia dapati.


"Benar tuan. Tapi bukti itu belum kuat. Kita belum bisa menyimpulkan apakah benar dia dalang dari pembunuhan tuan Jhonatan. Saya akan terus berusaha mencari bukti yang lebih kuat untuk anda tuan."

__ADS_1


"Lakukanlah. Aku harap bukan dia pelakunya. Tapi jika memang benar dia pelakunya, akan ku habisi dia." Mengepalkan kedua tangannya.


Bersambung...


__ADS_2