Adik Kesayangan CEO

Adik Kesayangan CEO
Chapter 37 (Pskiater)


__ADS_3

"Saya ada teman seorang pskiater, jika kalian mengizinkan aku akan memintanya untuk datang kemari." Dokter Juna merekomendasikan temannya karena kinerjanya bagus dan selalu berhasil menangani pasien dengan waktu yang lumayan singkat. Bahkan ia pernah menyembuhkan trauma berat pasiennya hanya dalam waktu satu minggu.


Selain itu, dokter Juna merasa tidak tega melihat Melisa, pasien yang selalu menyita perhatiannya sejak pertama menangani penyakitnya. Bisa di bilang ia menyukainya. Atau bahkan mencintainya. Tapi ia menepis perasaannya itu jauh jauh demi keprofesionalannya sebagai seorang dokter.


Setelah mendapatkan persetujuan dari semua pihak, dokter Juna menghubungi temannya dan memintanya untuk memeriksa keadaan Melisa.


"Sebentar lagi dia datang." Ucap dokter Juna setelah selesai melakukan panggilan telepon dengan temannya.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya pskiater yang di hubungi dokter Juna datang dan memperkenalkan diri.


"Selamat sore, perkenalkan saya dokter Sita. Tadi dokter Juna menghubungi saya dan meminta saya datang kemari untuk menangani pasien beliau."


"Selamat sore dok. Silahkan naik ke atas. Semua sedang menunggu anda di sana." Tunjuk Sofia sambil berjalan menunjukkan letak kamar Melisa.


"Silahkan masuk dok." Sofia membukakan pintu kamar Melisa dan mempersilahkannya masuk.


"Anda masih disini dok?" Tanya Sita kepada dokter Juna yang ternyata masih berada di sini.


"Iya dokter Sita, tolong kau periksa pasien saya. Sepertinya dia mengalami tekanan batin yang begitu kuat."


"Hai nona, perkenalkan nama saya Sita. Apa yang kau rasakan saat ini?" Sita mencoba mengajak Melisa berkomunikasi. Tapi Melisa masih saja diam dengan tatapan kosongnya.


"Cantik, kau ingin segera keluar dari segala sesuatu yang membebani hatimu kan? Karena itu dengarkan aku baik-baik." Sita menggenggam tangan Melisa dan membelainya lembut.


"Anggap tannganku ini sebagai penguat saat kau tak sanggup mengatakan segala beban di hatimu. Genggamlah tanganku kuat-kuat. Tarik nafas dalam dalam, lalu keluarkan perlahan." Melihat tidak ada respon, Sita dapat menyimpulkan bahwa pasiennya ini mengalami tekanan batin yang cukup besar.


"Aku tau kau mendengarkanku. Jangan ragu untuk melakukannya. Genggam erat tanganku karena itu akan menjadi kekuatanmu. Ambil nafas dalam-dalam dan keluarkan. Setelah itu pikirkan satu hal yang menjadi sumber kekuatanmu saat ini. Dan katakan pada hatimu bahwa kau akan bertahan demi hal yang menjadi sumber kekuatanmu itu." Dokter Sita terus menjejali Melisa dengan sugesti. Dan itu berhasil membuat Melisa buka suara.


"Anakku. Aku bertahan karena anakku." Ucap Melisa dengan lirih sembari membelai perutnya.


"Kau sedang hamil?"Tanya dokter Sita.


Melisa mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


"Good. Kau benar sekali, kau harus bertahan karena ketika bayimu lahir dia sangat membutuhkanmu. Maka dari itu, dengarkan aku. Ceritakan apa yang membuatmu seperti ini, jika menangis akan membuatmu lebih baik, maka menangislah. Jika itu masih belum bisa membuat hatimu lega, maka berteriaklah sekeras mungkin. Tapi setelah itu, berjanjilah kau akan bangkit dan kembali menjadi dirimu yang dulu. Ingat, akan ada bayi yang terlahir dari rahimmu, dan dia sangat membutuhkanmu.


Deraian air mata mengalir deras di pipi Melisa sehingga membuatnya terisak. Sesaat kemudian ia berteriak histeris dan meluapkan semua yang membebaninya. Semuanya.


"AKU MERINDUKAN AYAHKU.. APA KAU TAU BAHKAN SEDETIKPUN AKU TIDAK PERNAH MELIHAT IBUKU. AKU HANYA INGIN AYAHKU KEMBALI PADAKU."


"Lanjutkan sayang, lepaskan semua hal yang membebanimu saat ini." Ucap dokter Sita sembari mempererat genggaman tangannya kepada Melisa.


"AKU HARUS MENIKAH DENGAN PRIA YANG TIDAK KU KENAL SAAT AKU MASIH SEKOLAH, AKU KEHILANGAN MASA MUDAKU DAN HARUS MELUPAKAN SEMUA IMPIANKU. DAN ITU SANGAT MENYAKITIKU.TAPI AKU HARUS MELAKUKANNYA. DAN SAAT AKU BERHASIL MENCINTAINYA DENGAN SUSAH PAYAH, BAHKAN AKU BERIKAN SELURUH RAGA DAN HIDUPKU PADANYA, DIA JUSTRU MEMPERMAINKANKU.


"Apa suamimu mempermainkanmu? Apa yang dia lakukan sehingga kau perpikiran seperti itu?"


"DIA TERTAWA LEPAS DENGAN PEREMPUAN LAIN. BAHKAN DIA MENYUAPINYA DENGAN BEGITU MESRA. DIA MENYENTUH BIBIRNYA SEPERTI INI." Melisa memperagakan yang di lakukan Kevin dan Amora saat di rumahsakit. Hal yang membuatnya begitu terluka.


" TIDAK BISAKAH WANITA ITU MENBERSIHKAN SISA MAKANAN DI BIBIRNYA DENGAN TANGANNYA SENDIRI. AKU SANGAT SAKIT MELIHATNYA." Kali ini Melisa semakin histeris.


"Sayang kau salah paham. Aku dan Amora tidak-, Kalimat Kevin menggantung di udara ketika dokter Sita menghentikannya.


"APA KAU LIHAT INI?" Melisa meraih setumpuk obat-obatan yang tergeletak di atas ranjang.


BERTAHUN-TAHUN AKU MEMINUMYA. MESKI AKU MUAK DAN BOSAN, AKU TETAP MEMINUMNYA. AKU HANYA INGIN BERHENTI SEBENTAR SAMPAI ANAKKU LAHIR. TAPI UNTUK APA DIA MENERIAKIKU? TIDAKKAH DIA MENGERTI AKU SUDAH BANYAK KEHILANGAN, DAN AKU TIDAK INGIN KEHILANGAMN ANAKKU!!!


Setelah puas berteriak dan mengungkap segala beban yang ia pendam selama bertahun sampai detik ini, Melisa tak berdaya dan mulai kehilangan kesadarannya.


"Melisa!" Teriak Alan dan Kevin secara bersamaan karena melihat Melisa jatuh pingsan.


Dokter Juna mendekat dan segera memeriksa kondisi Melisa.


"Apa yang terjadi? Kenapa Melisaku jadi seperti ini?" Alan tak henti-hentinya mengungkapkan rasa paniknya akan kondisi Melisa. Satu hal yang sangat ia takuti saat ini. Ia sangat takut kehilangan Melisa. Ia takut adik kesayangannya itu meninggalkannya.


"Dokter lakukan sesuatu! Aku tidak bisa hidup tanpanya." Alan semakin kacau. Bahkan sepertinya justru Alanlah yang terlihat membutuhkan Dokter Sita saat ini.


"Tuan Alan, tenangkan dirimu. Percayalah pada kami bahwa nona Melisa akan baik-baik saja." Dokter Sita mencoba menenangkan Alan yang begitu kacau.

__ADS_1


"Nona Melisa baik-baik saja. Dia akan bangun besok pagi karena pengaruh obat penenang. Besok saya dan dokter Sita akan kembali untuk memeriksa keadaannya lagi. Ucap dokter Juna.


"Terimakasih dok, mari saya antar ke depan." Kevin mengantar dokter Juna dan dokter Sita sampai pintu depan.


"Dokter Sita, dimana mobilmu?" Tanya dokter Juna karena tidak menemukan mobil lain selain mobil miliknya.


"Oh, mobil saya kebetulan sedang di bengkel. Tadi saya naik taksi."


"Kalau begitu mari saya antar dok."


"Tidak usah, saya bisa naik taksi." Sita menolak tawaran dokter Juna. Ia merasa canggung karena sebenarnya mereka tidak terlalu akrab. Mereka hanya saling mengenal satu sama lain karena bekerja di rumahsakit yang sama. Selebihnya, mereka hanya bertemu dan berbicara seperlunya saat ada apel di rumahsakit. Tapi tidak ada yang tau seperti apa isi hati seorang Sita yang sebenarnya, karena diam-diam menaruh hati kepada Juna.


"Ayolah, ini sudah hampir gelap. Sulit mendapatkan taksi di jam-jam seperti ini." Bujuk Juna.


Akhirnya Sita menerima tawaran Juna, karena kalau di pikir-pikir ucapannya benar juga. Akan sulit mendapatkan taksi di jam sekarang ini.


"Baiklah. Tapi aku harap, ini tidak merepotkan anda." Sita tersenyum dan menundukkan pandangannya karena malu plus canggung. Rasa canggungnya bertambah dua kali lipat saat dokter tampan di sebelahnya itu membukakan pintu mobil dan mempersilahkannya masuk.


"Hari ini benar -benar menguras emosi. Selama bertahun-tahun menjadi dokter, baru kali ini aku menangis karena pasienku." Juna terkekeh mengingat bagaimana ia menangis karena Melisa.


"Kau benar dok, Dia masih sangat muda, tapi dia harus menanggung beban seberat itu."


"Apa benar ini apartemenmu?" Juna menghentikan mobilnya dan membuat Sita baru tersadar jika sudah sampai apartemennya.


"Wait, aku belum memberi tau alamatku kan tadi, bagaimana bisa-," Sita bahkan lupa memberi tau alamatnya saking seriusnya membahas Melisa, pasien yang sedang mereka tangani.


"Sebenarnya apartemen yang kau beli beberapa bulan yang lalu itu adalah apartemenku." Juna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Apa?" Tentu saja Sita shock plus bahagia karena apartemen yang ia tempati itu ternyata dulunya milik pujaan hatinya.


Ya, selama ini Sita memang mengagumi Juna dalam diam. Ia selalu menyempatkan diri memandangi Juna saat tidak sengaja melihatnya. Entah di kantin, di koridor rumah sakit, atau dimanapun ia memiliki kesempatan itu, Sita selalu memandanginya penuh kagum dari kejauhan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2