
"Huuuuuuu...."
Semua siswa yang berkumpul di depan kantor guru bersorak merendahkan Melisa.
Hal itu membuat Aldo dengan cepat mendekat ke arah Melisa dan menggenggam erat tangannya.
"Kamu tidak sendirian." Bisik Aldo tepat di telinga Melisa.
Chika semakin kesal karena melihat Aldo dan Melisa berpegangan tangan, hingga akhirnya ia kembali memprovokasi siswa lainnya.
"Lihatlah, perempuan murahan itu, dasar tidak tau malu. Masih berani berpegangan tangan di depan umum setelah aibnya terbongkar."
"Keluarkan saja dari sekolah. Bikin malu aja. Dari pada mencoreng nama baik sekolah. Kita-kita juga yang ikut kena imbasnya." Sahut siswa lainnya.
"Sudah puas mulut kotor kalian berbicara? Bubar semuanya. Sampah." Teriak Aldo yang sudah tidak bisa menguasai amarahnya.
Sedangkan Melisa, ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat demi menahan air mata yang semakin kuat mendesak pelupuk mata. Hatinya begitu terluka saat semua orang mencabik harga dirinya dengan lisan yang begitu menyakitkan.
"Semua akan baik-baik saja." Aldo mencoba menenangkan Melisa. Meskipun terlihat tegar, Aldo tau jika saat ini Melisa sedang menangis dalam diam.
Mereka pun masuk ke kantor guru tanpa mepedulikan lagi ocehan para siswa yang semakin menjadi.
"Silahkan menuju ruang BK. Semua sudah menunggu kalian di sana. Ucap salah seorang guru."
Melisa dan Aldo berjalan menuju sebuah ruangan yang terletak di sudut kantor.
Di sana terlihat Kepala sekolah, guru BP, serta wali kelas Melisa dan Aldo sedang menunggu kehadiran mereka.
"Silahkan duduk." Wali kelas Melisa dan Aldo yang bernama ibu Diana mempersilahkan mereka duduk.
"Melisa. Sungguh di sayangkan jika seandainya yang saya dengar ini adalah sebuah fakta." Pak Roy, yang tak lain adalah kepala sekolah mereka menghembuskan nafasnya kasar. "Apa benar kamu sedang hamil?"
Melisa menggangguk sebagai jawaban. Tentu saja semua yang berada di ruangan itu terkejut dengan pengakuan dari Melisa.
"Dan kamu Aldo. Apa benar kamu yang Menghamili Melisa?"
"Bukan pak." Jawab Aldo dengan tegas.
__ADS_1
"Apa benar jawaban dari Aldo itu Melisa?" Kepala sekola memastikan jawaban yang di berikan Aldo kepada Melisa.
Dan lagi-lagi, Melisa hanya mampu menganggukkan kepala. Entah mengapa lidahnya terasa kelu untuk sekedar melontarkan pembelaan untuk dirinya sendiri.
"Pak Andre, apa bapak sudah menghubungi wali dari Melisa dan Aldo?" Tanya kepala sekolah kepada guru BP.
"Saya sudah menghubungi wali dari Melisa pak, dia sedang dalam perjalanan kemari. Tapi saya tidak bisa menghubungi wali dari Aldo, karena tidak ada nomor telepon yang tercantum di data kesiswaan."
Di lain tempat, Alan tengah mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Ia begitu cemas saat pihak sekolah menelpon dirinya dan memintanya untuk datang sekarang juga. Hingga akhirnya ia membatalkan semua agendanya di kantor.
"Sayang, kau baik-baik saja?" Kata pertama yang terlontar dari mulut Alan saat menemui Melisa di ruang BK.
Melisa hanya terdiam. Ia tak mampu menjawab dengan lisan. Tapi sesaat kemudian, air mata yang sudah tak mampu lagi ia bendung cukup menjadi jawaban bahwa dirinya tidak baik-baik saja.
"Tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" Alan menatap semua orang yang berada di ruangan itu dengan tatapan membunuh.
"Begini tuan Alan, kami baru saja mengetahui jika Melisa saat ini sedang hamil. Tentu saja ini masalah yang sangat serius, karena menyangkut nama baik sekolah. Meskipun anda donatur tetap di sekolah ini, tapi maaf, kami tetap harus adil dalam mengambil keputusan. Dengan berat hati kami menyampaikan bahwa Melisa akan di keluarkan dari sekolah ini." Keputusan final dari kepala sekolah membuat goresan luka di hati Melisa semakin dalam.
"Memangnya dimana letak salahnya? Apa ada peraturan tertulis yang mengatakan jika siswa yang sedang hamil tidak di izinkan mengikuti pelajaran di sekolah?"
"Memang tidak ada peraturan tertulis tentang hal ini. Tapi atas keputusan bersama, kami tidak ada toleransi untuk siswa yang hamil di luar nikah, karena itu sangat mencoreng nama baik sekolah ini."
Alan menggebrak meja di depannya sekuat tenaga. Tentu saja itu membuat kaget semua orang yang berada di sana.
"Adikku perempuan baik-baik. Dia memang sedang hamil. Tapi dia hamil dengan suami sah nya. Dia sudah menikah sejak satu tahun yang lalu."
Lagi-lagi semua orang yang berada di ruangan itu di buat terkejut dengan pernyataan dari Alan.
"Maaf tuan Alan, sepertinya ada kesalahpahaman disini. Dari informasi yang kami terima, Melisa saat ini sedang hamil di luar nikah, dan orang yang menghamilinya adalah Aldo, siswa yang duduk di sebelah anda. Tapi setelah kami menanyakan kebenarannya kepada mereka, ternyata bulan Aldo yang melakukannya. Dan kami juga tidak tau jika Melisa sudah menikah." Ucap bu Diana yang mencoba meluruskan kesalahpahaman.
"Maafkan kami tuan. Kami telah salah mengambil keputusan. Kami berjanji akan mencari tau siapa yang telah menyebarkan fitnah yang keji dan memalukan seperti ini." Terlihat raut penyesalan di wajah pak Roy. Sebagai kepala sekolah, ia berjanji akan menyelesaikan permasalahan ini secepatnya.
"Aku tidak akan melepaskan siapapun yang berani-beraninya menyentuh Melisaku." Alan merangkul Melisa dan membawanya pergi dari tempat itu.
Di perjalanan pulang, Melisa masih dalam mode diamnya. Ia merasa sangat di permalukan. Harga dirinya sebagai seorang perempuan telah tercabik.
"Sayang, jangan buang waktumu untuk memikirkan perkataan orang lain. Jangan pula sia-siakan air matamu untuk perbuatan sampah mereka."
__ADS_1
Melisa merenungi ucapan yang di lontarkan Alan. Dalam hati, ia membenarkan apa yang di katakan kakaknya itu. Karena hal itu hanya akan merugikan diri sendiri.
Ke esokan harinya, pihak sekolah berhasil mendapatkan orang yang menyebarkan fitnah tentang Melisa. Dari penelusuran yang mereka lakukan, akhirnya di ketahui bahwa Chika lah orangnya.
Meski hari ini libur sekolah, tapi kedua belah pihak diminta hadir ke sekolah untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.
Selain agar masalah bisa cepat selesai, tentu saja agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar. Karena semua guru yang mengajar di sana ikut dilibatkan untuk menyelesaikan masalah ini.
Dari pihak Melisa sudah hadir Alan, Kevin, dan juga Sofia.
Sedangkan di pihak Chika hanya di dampingi Ibunya saja.
Pihak sekolah berusaha melakukan mediasi mengupayakan jalan damai bagi kedua belah pihak. Tapi bukan Alan Yong ju namanya jika mengampuni orang yang sudah berani mengusik kesayangannya. Ia tetap kekeh memperkarakan masalah ini dan akan membawanya ke jalur hukum.
"Saya mohon ampunilah putri saya tuan." Seorang wanita paruh baya bersimpuh di depan Alan.
"Berdirilah. Karena sampai kapanpun, jawabanku akan tetap sama. Tidak ada ampun untuk orang yang berani menyentuh Melisaku."
Melisa yang tidak tega melihatnya, segera beranjak dari tempat duduk dan meraih tangan ibunya Chika dan mengajaknya berdiri.
"Bibik, jangan seperti ini, kubmohon." Pinta Melisa yang berusaha memenangkan wanita paruh baya itu.
"Ampuni anak saya nak. Saya tidak memiliki siapa-siapa selain dia. Katakan apa yang harus saya lakukan agar anak saya tidak di penjara? Saya tidak bisa melihat masa depannya hancur."
"Dia sendiri yang telah menghancurkan masa depannya." Kevin tersenyum kecut. Ia juga tidak terima karena istrinya sudah di rendahkan seperti yang di ceritakan Alan kemarin.
"Kak, please lepaskan dia. Tidak adil jika ibunya juga harus menanggung kesedihan seperti itu." Melisa berusaha membujuk Alan dan Kevin agar tidak memperpanjang masalah ini.
"Kak Sofi, tolong bujuk kakak agar ia tidak memperpanjang masalah ini. Apa kakak tidak kasihan melihat kesedihan yang begitu dalam di wajah ibu itu?" Melisa berharap Sofia bisa membujuk Alan.
"Maaf sayang, aku setuju dengan Alan dan Kevin. Sudah seharusnya dia mempertanggung jawabkan apa yang sudah ia perbuat."
Astaga, kenapa mereka bisa sekompak ini. Batin Melisa.
Akhirnya merekapun pulang dengan hasil keputusan yang sama. Tidak ada ampun untuk mereka yang berani menyentuh Melisaku. Lagi-lagi kata itu yang keluar dari mulut Alan saat akan beranjak pergi dari sana.
Chika hanya bisa pasrah dan mengutuki kebodohannya sendiri. Cinta benar-benar telah membutakan akal sehat dan hati nuraninya hingga ia melakukan hal yang akhirnya menghancurkan masa depannya seperti ini.
__ADS_1
Bersambung...