
Sofia semakin gugup dengan situasi ini. Meskipun raganya menikmati, tapi akal sehatnya masih mendominasi. Dan Alan menyadari jika Sofia merasa takut saat ini.
"Kau gugup?"
Sofia membuka mata dan mengangguk pelan.
"Apa kau takut?"
Lagi-lagi Sofia menjawabnya dengan anggukan. Lidah dan mulutnya seakan terkunci karena rasa takut plus gugup yang ia rasakan saat ini.
"Kau tenang saja. Aku tidak akan melakukan apapun kepadamu. Aku hanya ingin memelukmu saja."
Sofia membelalakkan matanya. Ia seolah mendapat kekuatan untuk berbicara saking kesalnya.
"Tidak melakukan apapun katamu? Kau bahkan sudah menciumku dengan rakus tadi. Huhh, dasar." Proter Sofia dengan nada kesal.
Alan hanya tersenyum menanggapi kekesalan Sofia yang justru terlihat menggemaskan di matanya.
"Tidurlah. Aku hanya ingin memelukmu saat ini." Alan kembali mengeratkan pelukannya.
Lama mereka terdiam menikmati kenyamanan yang mulai tercipta, hingga akhirnya mereka benar-benar tertidur.
Setelah jam makan siang tiba, merka baru terbangun dan beranjak keluar untuk makan siang bersama.
Di lain tempat, lebih tepatnya di area parkiran sekolah Melisa, Amora terlihat sedang bersandar di samping mobilnya sambil sesekali memainkan ponselnya. Ia menjadi pusat perhatian karena pemampilan barunya yang semakin cantik. Ia mengurai rambut indahnya yang berwarna merah menyala itu dan sukses membuat para siswa laki-laki yang kebetulan melintas terpesona dan gagal fokus.
Inilah rutinitas wajibnya saat ini. Selain karena bosan dan jenuh di rumah saja, ia juga ada misi terselubung. Misinya kali ini adalah ingin mendekati Aldo. Dan Melisa pun tau akan hal itu.
"Aku kira kau mulai tidak waras ra. Kau igin mendekati Aldo dan memanfaatkan diriku." Melisa menyilangkan tangannya di dada dan menggeleng-gelengkan kepala.
Amora tertawa mendengar hal itu.
"Kau benar, sepertinya aku kurang waras. Aku mendekati laki-laki yang umurnya lebih muda dariku, yang jelas jelas bukan type ku. But it's no problem. Aku rasa aku akan menyukainya nanti." Amora terkekeh dengan ucapannya.
"Jangan mempermainkan perasaannya. Atau kau akan berurusan denganku."
"Oh come on baby, aku tidak pernah main-main dengan perasaan. Aku benar-benar tertarik dengan teman sekelasmu itu. So, bantu aku untuk mendekatinya. Please." Amora mengatupkan kedua tangannya dan mengedip-ngedipkan kedua matanya.
"Ya ya ya, aku merasa sedang menjadi mak comblang sekarang."
Keduanya menghentikan obrolannya ketika Aldo mulai memasuki area parkiran. Amora sengaja memarkirkan mobilnya di dekat motor antik milik Aldo agar lebih mempermudah dalam menjalankan misinya.
"Hai Aldo, kita ketemu lagi." Sapa Amora dengan senyum yang di setting semanis mungkin.
"Hai, senang bertemu denganmu lagi. Jawab Aldo ramah."
__ADS_1
"Kebetulan kami mengalami masalah dengan mobil kami. Bisakah kau membantu kami?" Amora sengaja mengendurkan kabel pada terminal aki dan mulai berakting seolah olah mobilnya mogok.
Melisa terlihat memincingkan sebelah matanya. Ia tau ini adalah sebuah setingan karena mobil yang mereka pakai salu di cek secara berkala oleh montir sekaligus sopir kepercayaan Alan. Kalaupun memang benar-benar mogok, toh seharusnya Amora memanggil orang kepercayaan kakaknya yang selalu stand by kapanpun. So, ia yakin 1000% bahwa ini hanya akal akalan Amora saja.
"Coba ku lihat dulu." Aldo membuka dashboard mobil dan mulai mengeceknya. Ia mendapati kabel yang kendor pada terminal aki. Ia segera mengencangkannya dan meminta Amora untuk mencoba menyalakan mobilnya.
Amora masuk ke dalam mobil dan mencoba menyalakan mobilnya.Dan akhirnya mobil pun kembali normal seperti sedia kala.
"Woww, kau hebat Al." Teriak Amora dari dalam mobil.
Melisa hanya bisa geleng-geleng kepala.
"By the way, thanks Al untuk bantuannya. Aku berhutang padamu. Aku ingin mentraktirmu makan siang sebagai ucapan terimakasih.
"Itu tidak perlu. Lagi pula aku harus bekerja setelah ini."
"Ayolah Al, kau masih punya waktu dua jam. Ini baru jam satu lewat lima menit. Kau berangkat kerja jam tiga seperti biasanya kan?" Melisa membantu melancarkan misi Amora. Ia merasa bersalah melakukan ini, karena ini bukanlah cara yang benar.
Aldo akhirnya menyetujui permintaan mereka. Selain karena kehabisan alasan, ia juga merasa sangat merindukan kebersamaan dengan Melisa.
Sepuluh menit kemudian, mereka tiba di restoran yang menurut Aldo terlalu mewah untuk dirinya. Ia menolak untuk makan di restoran itu dan mengajak mereka untuk makan di rumah makan sederhana. Dan akhirnya disinilah mereka berada. Rumah makan sederhana dengan spanduk lusuh karena termakan usia, yang bertuliskan 'Ketoprak jakarta cing Abdul'.
"Amora, apa kau suka pedas?" Tanya Aldo kepada Amora.
"Ya, aku pecinta makanan pedas."
Beberapa saat kemudian menu yang mereka pesan datang.
"Hmm, enak, aku suka makanan ini." Amora baru kali ini makan di pinggiran jalan. Dan ia tidak pernah menyangka akan melakukan hal ini.
"Ya, kau benar. Tempatnya memang sederhana. Tapi kau akan kagum dengan cita rasa makanan di sini." Ucap Aldo yang terlihat tetap cool meski sedang mengunyah sambil berbicara.
Tring..
suara pesan masuk dari Alan menghentikan aktivitas makan Melisa.
Alan : Sayang, jangan lewatkan makan siangmu. Dan jangan lupakan obatmu.
Melisa : Of cours. Aku sedang makan siang di luar dengan Amora.
Alan : Oke. Dan ingat, Jangan makan sembarangan*.
"Astaga." Melisa terkejut saat membaca pesan Alan. Sepertinya kakaknya punya feeling jika saat ini dirinya makan di warung makan pinggiran jalan.
"Kenapa Mel?" Tanya Aldo yang terlihat khawatir.
__ADS_1
"Nothing." Jawab Melisa dengan senyum yang mengembang.
"Ehm.. ehm.. " Amora berdehem melihat interaksi antara Aldo dan Melisa.
Melisa tertawa pelan dan membisikkan sesuatu kepada Amora. " Apa kau sedang cemburu?"
"Tentu saja nyonya Kevin. Kau tersenyum semanis itu dengan gebetanku." Jawab Amora yang juga berbisik.
Melisa semakin tertawa saat mendengar Amora menyebut dirinya dengan sebutan 'nyonya Kevin'. Itu membuatnya teringat kejadian semalam. Dan tiba-tiba ia menjadi rindu dengan suaminya.
"Ada apa?" Tanya Aldo yang melihat dua perempuan yang duduk di depannya berbisik-bisik lalu tertawa.
"Aa, tidak. Tadi Amora bilang jika kau sangat tampan." Jawab Melisa
"Melisa Yong ju." Teriak Amora dengan suara melengking dan mata melotot tajam.
Aldo menyandarkan sikunya di atas meja dan memegang keningnya. Wajahnya merah karena berada di situasi seperti ini.
***
Setelah beberapa hari berlalu, akhirnya hari ini tiba. Hari dimana Alan akan melamar Sofia secara resmi dan menemui kedua orang tua Sofia.
Kedua orang tua Sofia menyambut bahagia kedatangan Alan dan menerima lamaran untuk anak mereka. Dan hari ini juga sudah di putuskan bahwa minggu depan akan di gelar pertunangan antara Alan dan Sofia.
Kabar ini terdengar oleh Evelyn dan dia memutuskan untuk kembali dari Jepang hari ini juga. Bukan untuk mendukung ataupun memberi restu kepada keduanya, melainkan untuk mengacaukan semuanya. Dia tidak ingin memiliki menantu yang menurutnya levelnya begitu jauh di bawahnya. Itu akan membuatnya sangat malu.
Sepulang dari Jepang, Evelyn memilih untuk langsung menuju kediaman Sofia. Baginya, sangat mudah menemukan alamat rumah Sofia. Ia tinggal menelpon personalia Yong ju Group pusat dan menanyakan alamat Sofia kepadanya.
Sesampainya di rumah Sofia, ia segera melancarkan aksinya untuk membatalkan rencana pertunangannya.
Seseorang terlihat membukakan pintu setelah Evelyn beberapa kali mengetuk pintu.
"Ada yang bisa saya bantu nyonya?" Tanya Hanum dengan ramah. Ia menatap penampilan wanita yang terlihat elegan itu dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Saya ibunya Alan." Ucapan itu menjawab segala pertanyaan yang ada di kepala Hanum saat ini.
"Astaga, silahkan masuk nyonya. Suatu kehormatan bagi kami karena kunjungan anda."
"Sofia.. Ayah... Kemarilah, lihat siapa yang datang." Ucap Hanum.
Sofia dan Ayahnya keluar dari balik tirai pembatas ruang tamu dengan ruangan lainnya.
Sofia terkejut dengan kedatangan Evelyn. Ia pernah berjumpa dengannya sekali. Dan saat itu dia merasa sangat di rendahkan dengan semua ucapan yang ia dapat dari Evelyn.
"Silahkan duduk nyonya. Saya Ayahnya Sofia. Saya senang sekali anda mau berkunjung di gubuk kami ini."
__ADS_1
"Saya tidak akan berbasa basi. Langsung saja saya katakan tujuan utama saya kemari." Evelyn meletakkan koper berwarna hitam di atas meja, lalu membukanya. Terlihat koper itu dipenuhi dengan tumpukan-tumpukan uang di dalmnya.."
Bersambung...