Adik Kesayangan CEO

Adik Kesayangan CEO
Chapter 47 (Menjalankan Misi)


__ADS_3

Alan terlihat lebih banyak diam akhir-akhir ini. Melisa pun menyadari bahwa Alan sedang tidak baik-baik saja. Ia mencoba mencari tau apa yang menyebabkan Kakaknya terlihat kacau dan tidak ada gairah dalam menjani hari-harinya.


"Amora." Melisa menghampiri Amora yang duduk di tepi kolam renang.


"Ya, kenapa?" Jawab Amora tanpa menoleh kepada Melisa. Ia terlihat begitu sibuk mengetik di ponselnya.


"Bisakah kau tinggalkan sebentar ponselmu? Aku ingin bicara serius."


"Wait, aku akan membalas pesan Aldo dulu. Aku tak ingin membuatnya menunggu balasan pesan dariku." Setelah selesai membalas pesan, Amora tersenyum lalu menaruh ponselnya di saku sweaternya.


"Kau berkirim pesan dengan Aldo?"


"Yups. Oh my, Apa aku belum mengatakan padamu jika Aldo sudah resmi menjadi kekasihku?" Tanya Amora dengan santainya.


"Apa? Kau dan Aldo pacaran. Are you kidding me?" Melisa terkejut dan masih sulit percaya bahwa Amora dan Aldo sudah berpacaran. Padahal mereka baru saling mengenal beberapa bulan yang lalu.


"Itulah kenyataannya Honey. Mana ada laki-laki yang bisa tahan dengan pesonaku." Jawab Amora dengan pedenya.


"Ish.. Dasar narsis. Tapi aku sangat senang dengan berita ini. Kau harus mentraktirku setelah ini."


"Itu bisa di atur. By the way, apa hal serius yang ingin kau bicarakan tadi?" Amora mengingatkan kembali tujuan utama Melisa menemuinya.


"Astaga, aku sampai lupa. Apa kau tau sesuatu tentang kak Alan? Dia terlihat lebih banyak diam beberapa hari ini."


"Mana ku tau. Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Kau kan sangat dekat dengan kak Alan. Sedangkan kau tau sendiri seperti apa Hubungan kami.


Tapi sesaat kemudian Amora menginggat sesuatu. "Wait wait, Apa ini ada hubungannya dengan pertengkaran kak Alan dengan Mama beberapa hari yang lalu?"


"Mereka bertengkar?"


"Ya, tapi aku tidak yakin jika itu penyebabnya. Mereka sering bertengkar kan? Dan semua bail-baik saja setelah itu?


"Akan ku cari tau. Bye ra." Melisa berjalan dengan langkah cepat meninggalkan Amora dan itu membuat Amora khawatir.


"Melisa. Hati-hati! Berjalanlah lebih pelan. Kau sedang hamil." Ucap Amora dengan wajah cemas.


Melisa menoleh ke belakang dan tersenyum kepada Amora, lalu ia berjalan lebih pelan setelah itu.


Saat ini ia akan menjalankan sebuah misi untuk mengembalikan senyuman kakaknya. Ia akan memulainya dengan menemui Sofia. Ya, Melisa sangat yakin jika Sofia pasti tau sesuatu.


Melisa menuju kediaman Sofia dengan diantar sopir pribadinya. Meski ini belum jam pulang kantor, tapi Melisa ingin menunggu Sofia di rumahnya.


Sesampainy di rumah Sofia, ia sedikit terkejut karena mendapati Sofia sedang merapikan tanaman-tanaman yang ada di area depan rumahnya.


"Hai sayang, Kau kemari?" Sofia meghampiri Melisa yang turun dari mobil.


"Ya, aku sangat merindukanmu."

__ADS_1


"Me too." Jawab Sofia sambil memeluk Melisa cukup lama.


"Bukankah ini belum jam pulang kantor? Apa kakak libur?" Tanya Melisa setelah melihat sekilas jam tangan di pergelangan kirinya.


"Kakak sudah berhenti bekerja."


"Why? Apa kakakku melarangmu bekerja?"


"Tidak, ini keinginanku." Sofia menundukkan wajahnya.


"Ada apa? Apa kalian bertengkar?"


Sofia menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku dan Alan sudah selesai. Sudah tidak ada hubungan lagi di antara kami."


"Oh God. Aku sangat sedih mendengarnya. Kak Alan terlihat kacau beberapa hari ini. Seharusnya lusa adalah hari pertunangan kalian."


"Sudahlah, mungkin memang kami tidak di takdirkan untuk bersama." Sofia tersenyum tapi suaranya bergetar karena berusah menahan air matanya yang sudah mendesak keluar.


"Aku berjanji, akan mencari jalan keluar untuk mempersatukan hubungan kalian lagi. Aku sangat tau jika kalian saling mencintai. Percayalah padaku kak, jika cinta akan selalu menemukan rumahnya."


"Sayang, jangan memikirkan masalah kami. Itu tidak baik untuk bayimu." Sofia menangkup pipi Melisa dengan kedua tangannya.


"I'm fine. Percayalah padaku." Melisa melepas tangan Sofia dari wajahnya lalu meluknya dalam-dalam.


***


"Kak." Pangil Melisa pelan.


"Kenapa sayang? Apa kau butuh sesuatu?"


"No, aku hanya ingin ngobrol dengan kakak."


Alan berjalan menuju sofa kecil yang ada di balkon dan duduk di sana.


"Kemarilah." Alan menepuk pahanya sebagai isyarat agar Melisa duduk di pangkuannya.


Melisa duduk dan mendongakkan kepalanya ke atas demi bersitatap dengan Alan.


"Apa yang membuat kakak putus dengan kak Sofia? Bukankah kalian saling mencintai?"


"Kau tau itu?"


"Hmm, tadi aku ke rumahnya. Dia terlihat sangat kacau, sama sepertimu."


"Sudahlah, kau jangan memikirkan masalah kakak. Kau sedang hamil, dan beberapa hari lagi kau ujian kan? Jangan terlalu banyak pikiran."

__ADS_1


"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi. Tapi ku mohon tersenyumlah. Aku tidak pernah melihat kakak tersenyum lagi sejak beberapa hari lalu." Melisa berdiri dan membalikkan badannya. Ia menarik kedua sudut bibir Alan sehingga membentuk senyum.


"Sudah sana tidur. Kevin pasti sedang menunggumu."


"Ya, dia bilang sangat merindukanku, sedangkan kita selalu tidur di kamar yang sama. Apa itu masuk akal?" Melsa tertawa pelan di akhir kalimatnya.


"Dia bukan merindukan keberadaanmu. Tapi merindukan adegan ranjang denganmu." Jawaban yang membuat Melisa mendaratkan cubitan maut andalannya.


"Issshh, kakakkkk!!"


"Iya iya ampun ampun." Alan tertawa lepas sambil menangkis cubitan bertubi-tubi dari Melisa."


"Aku merindukan tawamu yang seperti ini." Melisa bersyukur setidaknya dia berhasil membuat Alan melupakan sejenak semua beban fikirannya.


"Sudah sana balik ke kamar. Istirahatlah, ini sudah malam."


"Kakak juga istirahat. Jangan lupa mimpi tentang aku."


"Ya, pasti. Aku kakan memimpikan dirimu saat sibuk di ranjang dengan Kevin." Goda Alan.


"Ish.. Dasar kakak mesum." Melisa berlalu pergi sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Sesampainya di kamar, Melisa melihat Kevin masih sibuk dengan laptopnya.


"Dady. Kata mommy, dia merindukanmu." Melisa berbicara dengan suara yang di buat-buat seperti anak kecil."


Kevin tertawa dengan hal itu. Ia menutup laptopnya dan berjalan menyusul Melisa yang sedang duduk di tepian ranjang.


"Jadi mommy bilang ke kamu jika mommy sedang merindukan dady? Kamu sudah bisa bicara ya?" Ucap Kevin sambil mengusap-usap perut Melisa yang sudah mulai terlihat membuncit.


Melisa tertawa melihat reaksi Kevin yang meladeni kegilaannya.


Cup..


Kecupan singkat mendarat di bibir Kevin.


"Kau sedang menggodaku?"


"Hmm. Ini sebuah kode honey" Jawab Melisa dengan polosnya.


Kevin kembali tertawa dengan jawaban dari Melisa. Semenjak hamil Melisa sering berkata terang-terangan jika sedang ingin bercinta.


"Baiklah, dady akan menjengukmu malam ini nak." Senyum nakal mengembang di bibir Kevin. Ia segera memulai aksinya, karena ia pun sangat merindukan kegiatan yang sudah menjadi candu baginya selama ini.


"I love you." Ucap Melisa saat Kevin mulai menciumi setiap inci bagian tubuhnya.


Melisa melengkungkan tubuhnya saat Kevin menyentuh area sensitivnya.

__ADS_1


"Im coming baby." Kevin segera memulai permainan inti. Selama Melisa hamil, ia selalu melakukannya dengan lembut dan perlahan.


Bersambung...


__ADS_2