Adik Kesayangan CEO

Adik Kesayangan CEO
Chapter 21 (Bakat Yang Terpendam)


__ADS_3

Tok... tok... tok.......


Gedoran pintu kamar yang cukup keras membangunkan Kevin. Ia melihat jam jam di sebelahnya. Ternyata sudah jam 6 pagi. Tapi siapa yang mengedor pintu sebrutal itu? Sudah pasti Alan lah tersangkanya.


"Hei kalian bangun. Apa yang kalian lakukan sampai kesiangan seperti ini?"


Dengan langkah gontai karena nyawanya belum terkumpul sepenuhnya, Kevin membukakan pintu


Jegleg..


"Apa yang kalian lakukan sampai tidak keluar kamar sesiang ini?" Alan menatap dengan sorot mata tajam.


"Tidur." Kevin menjawab malas.


"Apa kau berbuat yang tidak-tidak kepada Melisa?" Kali ini sorot matanya lebih mengerikan lagi.


"Memangnya kenapa? Sudah tidak ada surat perjanjian di antara kita kan?"


"Kau." Mengepalkan tangan ke udara seolah akan meninju Kevin.


"Tenang saja. Aku sudah berjanji tidak akan berbuat itu sebelum Melisa cukup dewasa kan? Paling cuma cium cium atau pegang pegang. Hahaha."


Brakkk...


Alan geram dengan perkataan yang di lontarkan Kevin dan spontan menggebrak daun pintu di sebelahnya.


"Sebenarnya nyawamu ada berapa?"


"Ssssttttt. Melisa sedang tidur, jangan membuatnya terbangun karena tingkah bar barmu itu. Sepertinya dia kelelahan. Biarkan dia istirahat dan libur sekolah hari ini."


"Kau benar, dia pasti sangat lelah karena pesta semalam." Alan berjalan menghampiri adiknya yang tertidur pulas dan membelai rambutnya dengan lembut. Sebuah kecupan singkat mendarat di keningnya, setelah itu Alan bergegas keluar dari kamar Melisa diikuti Kevin di belakangnya.


"Kau tidak pergi bekerja kak?" Kevin bertanya sambil mengunyah apel yang di ambilnya dari lemari pendingin. Mulutnya yang penuh membuat bicaranya belepotan.


"Kau bicara apa? Kunyah dulu makananmu dengan benar, setelah itu baru bertanya."

__ADS_1


"Kau tidak bekerja?"


"Tidak, hari ini akan ku pastikan Farhan tidak akan lolos."


"Apa maksudmu? Apa kau sudah mencium keberadaannya?" Kevin menghentikan aktivitasnya mengunyah apel yang sudah separuh ia makan dan mulai berbicara serius.


"Orangku sudah menemukan keberadaannya. Dia ada di perbatasan kota XX, dan sudah bersiap terbang keluar negeri hari ini. Tapi aku pastikan dia tertangkap sebelum berhasil meninggalkan negara ini."


"Bagaimana bisa ia meninggalkan negara ini? Bukankah semua rekening dan asetnya sudah di bekukan oleh pihak penyelidik?" Kevin tau betul bahwa ayahnya itu sudah tidak memiliki apapun lagi. Jangankan pergi ke luar negeri, untuk makan saja mungkin akan sulit untuk Farhan Sanjaya saat ini.


"Seseorang telah memfasilitasinya. Entah siapa dan apa tujuan orang yang membantu Farhan itu. Tapi cepat atau lambat aku pasti akan segera mengetahuinya."


Obrolan serius mereka terhenti ketika Melisa datang dan berbicara dengan nada melengking, hingga membuat Alan menutup kupingnya.


"Aaaaa.... Kakak..... Kenapa kalian tidak membangunkanku, hiks."


"Istirahatlah sayang. Kau terlihat kelelahan, hari ini tidak usah masuk dulu. Nanti biar kak Alan telpon sekolahmu dan minta izin kepada wali kelasmu."


"Tidak bisa begitu, aku sudah ada janji dengan temanku hari ini. Hiks hiks..."


"Hanya classmeeting katamu kak? Hari ini ada pensi di sekolah, dan ini penting bagiku. Hari ini aku harus tampil dan berduet dengan Aldo. Apa kalian tau betapa sulitnya mencari waktu untuk latihan di sela sela jadwal pelajaran yang begitu padat hanya untuk tampil hari ini. Huaaaaa... " Kali ini Melisa tampak benar benar frustasi sampai mengacak acak rambutnya.


"Baiklah baiklah, biar Kevin yang mengurusnya. Vin, tolong kau urus, aku harus menyelesaikan urusan yang kita bicarakan tadi."


Kevin menjawab dengan anggukan. Hal itu membuat Melisa melompat kegirangan bak anak kecil yang diberi permen atau mainan.


Akhirnya Melisa sampai di sekolah setelah drama yang terjadi karena ulahnya pagi tadi.


Kevin menelpon sekolah Melisa dan berbicara pada panitia acara pentas seni agar mengubah susunan acara, yang awalnya Melisa akan tampil sebagai pembuka acara, berganti menjadi penutup acara. Kabar baiknya permintaan Kevin di kabulkan dengan begitu mudah oleh panitia acara.


"Mel, kenapa bisa sampai terlambat? Untung saja kita tidak jadi tampil sebagai pembuka acara. Kita di alihkan menjadi penutup acara." Aldo kembali antusias saat Melisa akhirnya datang ke sekolah walau sangat terlambat, karena acara sudah di mulai sejak satu jam yang lalu.


"Melisa sudah tau, kau tidak perlu panjang lebar menjelaskannya." Kevin yang sewot menyambar obrolan mereka begitu saja.


"Maaf ya Al, aku tadi kesiangan bangunnya. Dan tidak ada yang membangunkan aku juga." Melisa melirik Kevin dengan sebal.

__ADS_1


"Hei, harusnya kalian berterimakasih padaku. Sudah untung aku berbaik hati dan membantu kalian agar tetap bisa tampil." Jawaban Kevin tak kalah sewot.


"Tidak terasa waktu bergulir dengan begitu cepat. Tibalah kita di penghujung acara. Tapi sebelum kita tutup acara ini, kita akan tampilkan duet sepasang remaja yang sangat berbakat dan menjadi kebanggaan sekolah kita. Kita sambut penampilan dari Melisa Yong ju dan Aldo Mahendra." Mc pembawa acara menutup acara dan mempersilahkan mereka berdua untuk naik ke panggung.


Sorak sorai dan riuh tepuk tangan menyambut penampilan mereka. Aldo memetik senar gitar dengan piawai mengiringi lagu yang di lantunkan Melisa.


Keduanya membius penonton dengan suara indah bak penyanyi papan atas. Kemampuan Melisa bernyanyi sudah tidak di ragukan lagi. Suaranya begitu indah dan merdu, membuat siapapun yang mendengarnya akan terkagum kagum dan terbawa suasana. Sebenarnya Melisa sudah sering mengutarakan keinginannya untuk berkarir menjadi seorang penyanyi pop, tapi keinginannya itu selalu tidak di setujui Alan. Kakaknya itu melarang keras keinginan Melisa, dengan alasan takut menggangu kesehatan adik kesayangannya itu. Mengingat riwayat gangguan jantung yang di alami Melisa selama ini, membuat Alan selalu over protektif kepadanya.


Tepuk tangan yang sangat meriah mengakhiri duet yang spektakuler dari Melisa dan Aldo. Beberapa siswa laki-laki bersiul dan bersorak sorai.


Kali ini Kevin begitu terpesona dengan penampilan Melisa tadi. Ia masih tak menyangka istrinya memiliki suara yang begitu indah, membuatnya semakin kagum saja.


"Ternyata kau bisa bernyanyi? suaramu bagus, kau terlihat sangat menikmati lagu yang kau bawakan tadi. Tapi kenapa aku tidak pernah melihatmu bernyanyi selama ini?"


"Kakak melarangku bernyanyi."


"Kenapa?" Kevin mengerutkan keningnya. Apa alasan Alan melarang Melisa bernyanyi. Selama itu hal positif, kenapa harus di larang .


"Kakak takut kesehatanku terganggu."


"Maaf, karena ulah ayahku yang begitu keji, kau harus menanggung penderitaan seperti ini. Kau kehilangan ayahmu, kau juga harus menanggung sakit serius karenanya."


"Sudahlah kak, jangan ungkit hal itu lagi. Aku sudah berusaha keras melupakan masalalu yang begitu pahit itu. Dengan mengungkitnya lagi , akan membuatku lebih sulit untuk melupakannya."


"Aku berjanji, kau akan segera mendapat keadilan. Aku dan kak Alan akan memastikan, si brengsek itu akan segera tertangkap dan mendapat hukuman yang setimpal."


"Bagaimanapun juga dia ayahmu kak, apa pantas kau menyebutnya si brengsek." Melisa berkata seraya mengenggam erat tangan Kevin.


"Apa pantas orang seperti itu aku panggil dengan sebutan ayah?"


"Ini bukan soal pantas atau tidak pantas. Mau bagaimanapun juga dia ayah kandungmu. Tidak ada mantan anak, ataupun mantan ayah. Hormatilah dia sebagai ayah. Terlepas dari kejahatan yang dia lakukan, sudah ada hukum dunia yang di atur negara, dan hukum akhirat yang di tentukan Tuhan."


"Kau ini terlalu baik. Sebenarnya hatimu itu tebuat dari apa?" Kevin membelai pipi Melisa dengan kedua tangannya.


"Sudah ayo kita pulang kak. Aku ingin istirahat." Ajak Melisa sambil menarik tangan Kevin menuju mobil yang berada di parkiran sekolah

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2