Adik Kesayangan CEO

Adik Kesayangan CEO
Chapter 14 (Mengungkap Fakta)


__ADS_3

Pagi-pagi buta Melisa sudah bangun dan bermaksud menyiapkan bubur ayam untuk Farhan. Dengan langkah penuh semangat ia berjalan menuju dapur. Disana sudah ada asisten rumah tangga Farhan yang sedang melakukan rutinitas wajibnya, menyiapkan sarapan untuk penghuni rumah.


"Nona kenapa kemari?"


"Aku ingin membuatkan bubur ayam ayah Farhan bik." Melisa menampilkan senyum ramahnya.


"Biar saya saja nona, nona kembali ke kamar saja untuk istirahat." Berusaha merebut panci yang disiapkan Melisa untuk membuat bubur.


"Tidak bik, aku ingin melakukan sesuatu untuk ayah. Dia satu-satunya orang tua yang aku punya saat ini." Menunduk sedih.


"Baiklah nona, tapi saya bantu ya?"


Melisa tersenyum dan mejawab dengan anggukan.


"Apa bibik tau siapa yang memukul ayah kemarin? Kasihan ayah, wajahnya sampai lebam seperti itu."


"Saya tidak tau nona. Saat kembali ke rumah keadaan tuan besar sudah seperti itu."


"Tunggu bik, bukannya ayah mendapat serangan di rumah ini?" Tanya Melisa heran, karena kemarin Farhan berkata bahwa ia mendapat serangan di rumah. Farhan berbicara seperti itu tak lain karena menutupi perihal apartemen, yang selama ini ia jadikan tempat untuk menyimpan bukti-bukti kebusukannya.


"Tidak nona. Atau mungkin kejadiannya di depan rumah, atau di dekat rumah. Yang saya tau tuan besar masuk kedalam rumah dengan kondisi seperti itu."


"Bisa jadi seperti itu kejadiannya bik."


Sementar di dalam kamar, Alan terbangun dan mendapati Melisa sudah tidak berada di dalam kamar. Rasa panik pun menyeruak di hati Alan dan membuatnya membangunkan Kevin dengan cara anti mainstream. Ia menarik telinga Kevin, hingga membuatnya terbangun karena sensasi panas yang ia rasakan di telinganya.


"Auhhh, telingaku. Kenapa kau menarik telungaku?"


"Dimana Melisa?"


Menyadari Melisa tidak berada di kamar, Kevin pun ikut panik dan spontan berlari keluar kamar, diikuti Alan.


Keduanya merasa lega ketika mendapati orang yang dicari sedang berada di meja makan.


"Kakak kenapa lari-lari begitu?"


"Kau tidak ada di kamar, tentu saja kakak mencemaskanmu."


Melisa mengerutkan keningnya karena merasa heran.


"Kakak jangan berlebihan seperti itu."


"Kami benar-benar mencemaskanmu Mel, kamu sedang apa sebenarnya?" Kini Kevin yang angkat bicara.


"Aku membuat bubur ayam untuk ayah."


"Ada bibik yang bisa membuatkannya, kenapa kamu repot-repot?"


"Aku tidak pernah merasa di repotkan, aku hanya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mengurus ayah Farhan. Hanya dia kan satu-satunya orang tua yang ku miliki saat ini."


"Cukup!" Alan yang mulai muak dengan sandiwara ini tidak sengaja membentak Melisa.


"Kak," Kevin memegang tangan Alan dan memberi isyarat agar tidak sampai keceplosan. Disini nyawa Melisa taruhannya.


"Sebenarnya ada apa kak? Apa yang kalian sembunyikan? Kalian bersikap aneh sejak kemarin."


"Ada apa ribut-ribut?" Farhan datang menghampiri ketiga orang yang sedang adu argumen itu.

__ADS_1


"Tidak yah, Ayah sudah baikan? Ini aku buatkan bubur ayam untuk ayah." Melisa memberikan semangkuk bubur yang dia buat tadi.


"Terimakasih, kau memang anak kesayangan ayah." Farhan merasa aman sekarang. Ia sangat yakin Melisa dapat di jadikan senjata untuk menyetir Alan dan Kevin yang sudah mengetahui kebusukannya.


"Sayang, cepatlah mandi. Kau harus sekolah kan?"


"Iya kak, nanti mampir ke rumah dulu ya ambil seragam sekolahku."


"Iya, sudah sana, mandi."


***


Di dalam mobil, Melisa merasa aneh karena ini bukan jalan menuju rumahnya.


"Kakak lupa atau bagaimana, kita mampir kerumah dulu ambil seragam sekolahku."


"Hari ini kau tidak usah masuk sekolah."


"Apa?" Melisa terkejut hingga membuatnya reflek meninggikan suara.


"Lalu, ini kita mau kemana?"


"Kita ke rumahsakit, Kevin juga sudah menunggu di sana."


"Ada apa? Siapa yang sakit?"


"Tidak ada yang sakit."


"So, untuk apa kita kesana?


"Chek up kondisi kesehatanmu sayang."


"Nanti kakak jelaskan sayang."


Sesampainya di rumahsakit, terlihat Kevin sudah menunggu mereka bersama dengan beberapa dokter terbaik di rumahsakit ini.


Ketiganya pun masuk ke dalam ruangan yang sudah di siapkan.


Dokter spesialis jantung mulai memeriksa dengan teliti. Setelah itu, dokter spesialis dalam dan paru-paru juga ikut berjaga untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak di inginkan dan menghindari komplikasi yang mungkin terjadi.


"Semuanya normal, silahkan sampaikan hal yang ingin anda bicarakan kepada nona Melisa. Kami akan tetap disini untuk memastikan kondisinya."


"Ada apa kak? Apa sesuatu yang buruk telah terjadi?" Melisa semakin curiga bahwa ada sesuatu yang tidak beres, dan itu pasti kabar buruk.


"Sayang, berjanjilah untuk tetap baik-baik saja setelah apa yang kamu dengar ini." Menggenggam erat tangan adiknya.


"Kevin, jelaskan apa yang kau temukan kemarin." Kali ini Alan meminta Kevin yang angkat bicara.


"Mel, sebenarnya kemarin aku yang adu hantam dengan ayah Farhan."


"Kenapa?" Meraih tangan Kevin, ia tau kalau Kevin tidak mungkin memukul ayahnya tanpa alasan.


"Aku menemukan ini." Memperlihatkan rekaman cctv dari laptop yang ia bawa.


"Ini.., orang itu.., orang itu... kakak, orang itu.." Melisa mengenali pria yang bersama Farhan di dalam rekaman itu. Ya, dialah orang yang merenggut nyawa ayahnya di depan mata kepalanya sendiri. Meskipun orang itu sudah di hukum mati, Melisa masih merasakan trauma mendalam saat melihatnya kembali.


Belum sempat mereka mengatakan bahwa Farhan dalan di balik pembunuhan Jhonatan Yong ju, Melisa sudah tak sadarkan diri. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, nafasnya tak beraturan dan detak jantungnya melemah. Dokter segera melakukan penanganan dengan tepat dan cepat sehingga keadaan Melisa bisa kembali stabil.

__ADS_1


"Dokter bagaimana adik saya?" Raut cemas tergambar jelas di wajah Alan dan Kevin. Inilah yang mereka takutkan.


"Keadaannya masih terkendali. Kita berdo'a saja, semoga semuanya baik-baik saja."


"Farhan Sanjaya, habis kau." Alan mengepalkan kedua tangannya.


"Aku akan ke kantor polisi sekarang. Jagalah Melisa." Ucap Kevin.


***


Di kediamannya, Farhan mengetahui bahwa semua rahasianya sudah di ketahui Melisa, karena diam-diam ia memasang alat penyadap di kalung yang di kenakan Melisa.


"Aku harus menyusun strategi baru."


Tiba-tiba terbesit ide brilian di benaknya. Ia ingat beberapa waktu yang lalu Alan mengumumkan sekertarisnya yang bernama Sofia Olivera sebagai kekasihnya.


"Kita lihat siapa yang akan menang. Hahahaha." Gelak tawa memenuhi seluruh ruangan yang di tempatinya.


Dengan sigap ia menjalankan strategi barunya. Ia melajukan mobil menuju kantor pusat Yong ju Group, tempat Sofia bekerja saat ini.


Sesampainya di kantor, Farhan langsung menuju ruangan kerja Alan. Kali ini pekerjaannya akan lebih mudah karena ia tau Alan masih ada di rumahsakit.


"Maaf pak, ada yang bisa saya bantu?"


"Saya ditugaskan tuan Alan untuk menjemput nona."


"Menjemputku? Memang ada apa? Dan memangnya anda siapa?"


"Saya tangan kanan tuan Alan. Dia menyuruh saya untuk menjemput anda."


"Kemana?" Tanya Sofia ragu dengan pria tua di depannya.


"Ke rumah sakit. Adik tuan Alan sedang sakit, dan anda diminta kesana sekarang."


"Baiklah sebentar, aku akan membereskan meja kerjaku dulu."


Tanpa rasa curiga Sofia mengikuti orang yang sedang mengaku menjadi orang suruhan Alan itu dan masuk ke dalam mobil.


Setengah jam berlalu, Sofia merasa ada yang janggal, Mobil yang mereka tumpangi melewati pintu masuk jalan tol menuju kota xx.


"Kita mau kemana pak?"


"Nona Melisa di rawat di luar kota. Jadi kita akan kesana."


"Oh, aku kira kita nyasar sampai jalan tol segala."


Tak berselang lama, Sofia merasa ada yang janggal lagi.


"Kenapa berhenti disini?" Sofia mengedarkan pandangannya. Tapi anehnya tidak ada bangunan rumahsakit di sini. Hanya ada beberapa bangunan yang terlihat tak terawat seperti tak berpenghuni.


"Sektika Farhan membekap wajah Sofi dengan sapu tangan yang sebelumnya sudah ia beri obat bius.


Sofia pingsan dan di bawa masuk ke dalam bangunan tak berpenghuni itu. Tubuhnya di letakkan di kursi yang ia duduki saat ini. Mulutnya di bekap, dan tangan serta kakinya di ikat.


"Hahahaha, permainam baru dimulai."


Setelah itu ia mengirim foto Sofia dan di sertai kalimat ancaman.

__ADS_1


"Jika kau masih ingin melihat sekretarismu hidup, jangan berani macam-macam padaku." Begitu isi ancaman yang di kirim ke ponsel Alan.


Bersambung...


__ADS_2