
"Apa yang kau lakukan?" Farhan mendekati Kevin dan berniat merebut barang bukti yang kini sudah berada di tangan Kevin.
Kevin pun berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan barang bukti yang sudah dia dapat. Kali ini dia sudah tidak bisa memberikan toleransi lagi terhadap apa yang sudah di lakukan ayahnya. Dia telah merenggut nyawa seseorang. Bahkan dia juga membuat Melisa, perempuan yang kini sudah menjadi istrinya itu harus menanggung sakit yang cukup parah.
"Anak kurang ajar, apa kau mau menentang ayahmu ini?" Berkata dengan penuh amarah sekaligus terlihat begitu khawatir karena rahasianya sudah terbongkar.
"Aku tidak menyangka aku mempunyai ayah sepertimu. Dulu aku hanya diam saat kau menyiksa batin ibuku. Kau main perempuan lalu meninggalkan kami begitu saja. Hingga ibu harus bekerja keras dan sakit-sakitan sampai akhirnya meninggal. Sekarang aku tidak akan diam lagi."
"Beraninya kau! Apa kau lupa aku ini ayahmu. Dan apa yang terjadi dengan ibumu itu adalah takdir. Cepat berikan rekamam itu, atau kau tanggung akibatnya."
"Jangan mimpi." Berlalu menuju pintu apartemen, namun langkahnya terhenti ketika ayahnya itu tiba-tiba mengeluarkan kalimat ancaman.
"Apa kau mau membunuh istrimu dengan menunjukkan rekaman cctv itu? Apa kau lupa istrimu jantungan?" Tersenyum licik.
"Dan itu akibat dari kebejatanmu." Kevin menjawab dengan suara yang meninggi.
Dalam batin Kevin membenarkan apa yang di katakan ayahnya. Melisa tidak bisa mendengar kabar buruk seperti ini. Tapi bagaimanapun istrinya itu harus tau. Dia akan mencari waktu yang tepat dan memastikan kondisi Melisa sebelum menceritakan semua ini.
Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya dia keluar dari apartemen ini dengan membawa semua bukti yang sudah dia dapatkan.
"Berikan!" Bentak Farhan.
"Tidak akan."
Keduanya pun beradu kekuatan, perkelahian antara ayah dan anak tidak bisa terelakkan lagi. Sampai akhirnya Farhan tumbang karena kelelahan. Usianya yang sudah setengah abad itu tidak sebugar dulu.
Melihat ayahnya tak berdaya, ada rasa bersalah yang tiba-tiba hadir menyelinapi hati dan fikiran Kevin. Bagaimanapun juga Farhan adalah ayah kandungnya, dan kejadian ini membuat hatinya terluka.
Dengan kecepatan tinggi Kevin melajukan mobil yang di kendarainya. Dia harus segera menemui Alan dan membicarakan semua ini.
"Halo, Kak Alan. Bisa kita bertemu? Ucap Kevin lewat sambungan telepon.
"Ada apa?"
"Kita bicara setelah bertemu saja, ini soal ayahku."
"Baiklah datanglah ke cafe depan kantorku. Aku tunggu kau disana."
"Baiklah, sepuluh menit lagi aku sampai."
Setelah sampai di cafe yang di maksud Alan, Kevin segera memarkirkan kendaraannya dan bergegas menemui Alan.
"Cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan." Berkata dengan sikap dinginnya.
Tanpa menjawab pertanyaan Alan, Kevin pun langsung memperlihatkan rekaman cctv dari laptop yang ia bawa.
"Aku minta maaf atas apa yang di lakukan ayahku." Menutup kembali laptopnya.
__ADS_1
"Kenapa kau berpihak kepada kami, bukan kepada ayahmu?"
"Aku tidak berpihak kepada siapapun. Aku hanya ingin menegakkan kebenaran."
"Kau pria baik, beda dengan ayahmu." Menepuk-nepuk bahu Kevin.
"Setelah ini apa rencana kakak selanjutnya?"
"Apa lagi, menjebloskan dia ke penjara tentunya."
"Bagaimana jika Melisa tau, dia pasti tidak siap menerima ini." Kevin tampak begitu khawatir.
"Kau benar, kita rahasiakan dulu semua ini, jangan sampai Melisa tau.
Dering telepon menghentikan perbincangan mereka. Kevin menatap layar ponselnya. Sebuah pesan masuk. Terpampang nama 'Ayah Farhan' di layar ponsel itu.
Kalau kau berani macam-macam, kau akan menyesal. Begitu isi pesan itu, dan di susul sebuah foto Farhan yang sedang bersama Melisa.
"Dia mengancam kita." Menunjukkan isi pesan dari ponselnya.
"Kita kesana sekarang, Melisa dalam bahaya."
Dengan langkah setengah berlari mereka menuju mobil dan menuju kediaman Farhan.
***
"Ada orang jahat yang berusaha mencelakai ayah. Bisakah kau menginap disini dan menemani ayah?"
"Tentu saja, aku akan disini menemani ayah."
"Dimana Melisa!" Teriak Alan kepada asisten rumah tangga di kediaman Farhan.
"I.. itu.. nona di atas sedang mengobati luka Tuan besar." Dengan gemetar, ia menjawab pertanyaan Alan yang terlihat sedang tidak bersahabat itu.
Alan berlari menuju kamar utama, diikuti Kevin di belakangnya.
"Kakak, untung kakak datang. Ada orang jahat yang berusaha mencelakai ayah. Lihatlah ayah sampai seperti itu. Melisa menangis di pelukan kakaknya. Dia begitu menyayangi Farhan, bagaimana caranya ia menjelaskan kebusukan Farhan kepada adiknya.
Kevin mendekati ayahnya dan berbisik
"Apa yang kau rencanakan?"
Farhan hanya menjawab dengan seringai liciknya.
"Kak, Aku akan menginap disini untuk merawat ayah."
"Tidak boleh!" Jawab Kevin dan Alan kompak.
__ADS_1
"Kenapa? Ayah sedang sakit sekarang. Terserah kalian mengizinkan atau tidak." Kali ini Melisa menunjukkan kekesalannya.
"Baiklah, tapi dengan syarat. Aku dan Kak Alan juga akan menginap di sini."
"Tentu saja, itu lebih baik karena ayah pasti senang jika kita menemaninya saat sakit begini, benar kan yah?" Tersenyum tulus kepada ayahnya."
"Benar sekali." Farhan merasa di atas angin sekarang.
Sandiwara di mulai. Kevin dan Alan mengikuti alur cerita yang di buat Farhan, sambil mencari cara untuk mengakhiri semua ini tanpa membahayakan Melisa.
***
"Hei kau mau kemana?" Alan menarik baju Kevin yang akan memasuki kamar Melisa.
"Tentu saja tidur, jam segini memang mau apa lagi?" Menjawab malas pertanyaan Alan.
"Kau lupa perjanjian pra nikah yang sudah kau tanda tangani."
Ingatan Kevin kembali ke saat-saat menandatangani perjanjian itu. Disana tertulis dengan jelas aturan yang melarang mereka tidur dalam satu kamar.
"Sekarang beda urusannya. Ini keadaan darurat. Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada Melisa."
"Itu hanya alasanmu saja. Disini ada sepuluh bodyguard terbaik yang aku bawa untuk berjaga-jaga."
Memang Alan membawa beberapa bodyguard terbaik untuk berjaga-jaga, mengingat mereka sedang berada di dalam rumah pembunuh berdarah dingin saat ini. Melisa pun tidak keberatan karena Alan beralasan itu untuk melindungi Farhan yang baru saja mendapat serangan dari musuh.
"Lalu aku harus tidur dimana? Disini hanya ada dua kamar." Jawab kevin dengan kesal.
"Baiklah kau boleh tidur di dalam, tapi aku juga ikut."
"What?" Kevin semakin kesal dibuatnya.
Keduanya pun masuk kedalam kamar dengan masih saling adu argumen sehingga membuat Melisa terbangun.
"Kalian tidur disini?"
"Iya sayang." Jawab Alan.
Ketiganya pun tidur dengan posisi Melisa di sisi kiri tempat tidur, Kevin di sisi kanan, dan Alan berada di tengah-tengah mereka.
Kevin yang merasa kesal pun berpura-pura tidur lalu menendang kaki Alan. Hal yang sama dilakukan oleh Alan sehingga membuat ranjang yang mereka tempati bergetar cukup kencang. Melisa yang kesal dengan tingkah laku keduanya pun mulai bersuara.
"Sudah hentikan. Aku ngantuk ingin tidur."
Ucapan itu bagai mantra yang membuat mereka terdiam seketika dan menghentikan kekonyolan yang mereka lakukan.
Bersambung...
__ADS_1