Adik Kesayangan CEO

Adik Kesayangan CEO
Chapter 24 (Liburan Akhir Tahun)


__ADS_3

Tertangkapnya Farhan membawa kelegaan tersendiri untuk Alan. Setidaknya rasa cemasnya berkurang, karena sudah di pastikan Farhan tidak akan bisa lagi mencelakai Melisa. Mendiang ayahnya juga sudah mendapatkan keadilan. Selain itu, ia juga merasa tenang karena kondisi kesehatan adiknya itu mengalami banyak kemajuan.


"Apa kau mau liburan?" Pelukan Alan tiba-tiba mengejutkan Melisa yang melamun di balkon.


"Kakak bikin kaget saja." Spontan mencubit lengan berotot milik kakak kesayangannya.


"Kau mau liburan tahun baru kemana?"


"Terserah kakak lah, aku tidak ada planing apapun."


"Hey, ada apa ini? Biasanya kau paling antusias jika kakak tidak sibuk bekerja. Sekarang kakak luangkan waktu supaya bisa menemanimu liburan akhir tahun, tapi kenapa tidak bersemangat seperti ini?"


"Hmmm, demi menemaniku atau kak Sofi? Kakak hanya cari alasan biar bisa liburan dengan kak Sofi kan?" Melisa berhasil membuat wajah kakaknya bersemu merah karena menyembunyikan rasa malunya.


"Kau ini selalu tau apa isi kepalaku." Alan menggaruk garuk kepalanya yang tidak sedang gatal. Ia terheran heran karena Melisa selalu bisa menebak apa yang dia pikirkan. Memang sedekat itulah mereka, sampai sampai tercipta ikatan batin yang begitu kuat.


"Kau memang benar, tapi alasan utamaku adalah untuk menemanimu bersenang senang. Kau sudah banyak menderita. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali kau tertawa lepas. Selama ini kakak hanya melihatmu tersenyum. Dan kakak tau betul, itu bukan senyuman kebahagiaan yang tulus. Kau tersenyum agar terlihat baik baik saja di depan semua orang. Kau tidak bisa membohongi kakakmu ini."


"Baiklah kalau begitu, bagaimana kalau kita menikmati pergantian tahun di pulau XX. Kakak ada vila kan disana?"


"Good idea, kita bisa bermalam di sana sambil menikmati keindahan pantai dan lautan luas."


"Ajak juga orang tua kak Sofia, kak. Anggap saja sekalian PDKT sama calon mertua."


"Nanti kakak coba bicara kepada mereka, semoga saja mereka bisa ikut kita liburan."


"Kalian sedang membicarakan apa?" Kevin yang baru saja selesai mandi menghampiri kedua kakak beradik yang sedang terlihat membicarakan sesuatu dengan serius.


"Kita sedang membicarakan rencana liburan akhir tahun kak."


"Benarkah? Apa rencana kalian?"


"Kita akan menghabiskan waktu di pulau XX dan mengajak kak Sofia beserta keluarganya kak."


"Wah wah, sepertinya ini akan menyenangkan. Aku setuju dengan rencana kalian."

__ADS_1


"Memangnya siapa yang meminta persetujuanmu?" Alan mulai mengibarkan bendera perang. Sudah lama ia tidak adu argumen dengan Kevin. Baginya, hidupnya belum lengkap bila belum ribut dengannya. Tapi ini adalah bentuk rasa kasih sayang bagi keduanya. Terkadang, seseorang memang menunjukkan rasa kepeduliannya dengan cara yang berbeda. Seperti hal nya Alan dan Kevin.


"Aku akan ke rumah Sofia, tapi kau harus ikut. Sudah pasti dia tidak mau ikut kalau aku yang meminta." Alan tau betul jika Sofia pasti akan menolak ajakannya.


"Baiklah kak, akan ku bantu membujuk kak Sofi." Melisa paham dengan maksud kakaknya. Karena memang selama ini hubungan yang mereka jalani adalah hubungan sepihak. Lebih tepatnya Sofia belum bisa memberikan hatinya kepada Alan. Tapi ia yakin, suatu saat Sofia bisa menerima Alan, karena kakaknya itu benar benar tulus mencintainya.


***


"Ini rumah kak Sofia?" Melisa mengedarkan pandangannya ke segala sudut bangunan rumah yang cat nya sudah usang. Bahkan beberapa jendelanya sudah tidak berfungsi dengan baik karena kusennya dimakan rayap dan di beri palang penyangga agar tidak tapuh. Tapi palang penyangga itu justru membuat jendelanya tidak bisa di buka. Sudah bisa di pastikan sirkulasi udara di rumah ini kurang begitu baik.


"Iya, ini rumah Sofia. Apa kau keberatan kakakmu ini mencintai orang dengan kehidupan yang seperti ini?"


"Kakak mengenalku bukan? Lalu pertanyaan macam apa itu? Jangan memandang derajat orang dari segi materi." Sungguh Melisa sedikit marah karena pertanyaan yang di lontarkan Alan barusan.


"Iya iya." Alan menjawab dengan di iringi kecupan lembut di kening adiknya.


Tok.. tok.. tok..


Ketukan pintu membuat Sofia mengernyitkan dahi. Malam-malam begini siapa yang bertamu. Begitu pikirnya.


"Ibu, aku sedang menghangatkan sayur untuk makan malam. Tolong lihat siapa yang datang. Sofia masih mengayunkan spatula dengan lihai.


"Hei, nak. Kenapa kau teriak-teriak. Ibumu sedang mandi."


"Maaf yah aku tidak tau, lagian jam segini biasanya ibu sudah mandi."


"Ibumu baru selesai berkebun di belakang rumah. Harga cabai mahal sekali. Ibumu berfikir menanam cabai di belakang rumah akan sedikit membantu kita. Apalagi saat apa-apa serba mahal seperti ini."


Tok.. tok.. tok..


Suara ketukan pintu terdengar untuk yang kesekian kali.


Saking asiknya mereka sampai lupa kalau dari tadi ada yang mengetuk pintu.


"Astaga ayah, aku sampai lupa ada tamu di luar."

__ADS_1


"Biar ayah saja yang membuka pintu. Kau lanjutkan saja pekerjaan dapur. Ayah sudah sangat lapar."


Tak butuh lama untuk sampai di depan pintu. Karena rumah yang mereka tempati memang tidak terlalu luas.


Jegleggg.. suara pintu terbuka.


"Cari siapa bung?" Ayah Sofia memandangi Alan dengan seksama. Sepertinya orang ini tidak asing baginya.


"Maaf kami malam-malam bertamu, Kami ingin bertemu anda. Kenalkan saya Alan Yong ju. Dan ini adik saya, Melisa Yong ju."


"Oh, Maaf karena saya tidak mengenali anda tuan muda." Menundukkan kepala sebagai penghormatan.


"Jangan panggil tuan muda, panggil nama saja."


"Baiklah, nak Alan. Silahkan masuk, Sofia ada di dalam. Tunggulah sebentar, biar saya panggilkan dia."


Melisa dan Alan berjalan memasuki ruang tamu. Mereka duduk di sebuah kursi kayu panjang. Di sebelahnya terdapat puluhan piala yang tersusun rapi di sebuah rak besi. Begitu banyak prestasi yang di raihnya. Itu membuktikan bahwa ada something special pada diri Sofia. Kecerdasannya lah yang bisa membuatnya diterima bekerja di perusahaan besar sekelas Yong ju Group.


Sofia muncul dari balik tirai yang menjadi sekat pemisah antara dapur dan ruang tamu. Ia mengambil kursi plastik dan membawanya keruang tamu, karena kursi yang ada di ruang tamu memang hanya terbatas.


"Hai Melisa, apa kabar?" Saling mencium pipi kanan dan kiri masing-masing.


"Baik kak, apa kedatangan kami mengganggu?"


"Oh, tidak, tidak. Memangnya ada apa sampai harus repot-repot kemari?"


"Aku ingin kakak menemaniku liburan, Kak Alan dan kak Kevin juga ikut. Aku harap kakak tidak menolaknya, atau aku akan sedih." Kalau sudah begini, tentu Sofia tidak tega untuk menolak permintaan Melisa.


"Gimana ya, bukannya aku tidak mau, tapi.." Sofia melirik ayah dan ibunya yang mengintip dari balik tirai.


"Orang tuamu pasti tidak keberatan, benar kan ayah, ibu?" Alan meminta ayah dan ibu Sofia bergabung ke ruang tamu.


"Tentu saja kami tidak keberatan."


"Ayah, ibu, aku juga ingin mengajak kalian berlibur bersama kami. Aku harap kalian tidak menolaknya."

__ADS_1


"Tentu saja kami akan ikut nak, Sofia pasti senang karena sudah lama kita tidak liburan. Iya kan Sofia sayang." Ibu Sofia melirik tajam anaknya diikuti senyum yang dipaksakan. Sebuah isyarat agar Sofia mengiyakan ajakan Alan.


Bersambung...


__ADS_2