Adik Kesayangan CEO

Adik Kesayangan CEO
Chapter 31 ( Dia Amora )


__ADS_3

"Sayang, ayo sarapan." Pinta Alan yang mendatangi kamar Melisa, karena tak kunjung turun untuk sarapan.


"Nanti kak, aku masih mual."


"Kau sering mual?


"Baru hari ini, padahal kemarin kemarin tidak seperti ini." Kali ini Kevin yang menjawab pertanyaan Alan.


"Hari ini kakak sudah atur pertemuan dengan dokter Juna."


"Untuk apa kak, aku sudah memutuskan untuk stop obat-obatan."


"Kau ini jangan keras kepala. Sebenarnya kau menyayangiku atau tidak sih?"


"Pertanyaan macam apa ini? Tentu saja aku sangat menyayangi kak Alan." Protes Melisa.


"Kalau kau menuayangiku, turuti kata-kataku, kalau tidak aku akan sangat sedih."


"Iya iya, kakak menang. Kenapa harus bawa-bawa perasaan sih. Aku kan jadi tidak tega melihat wajah kakak yang pucat seperti kentang rebus. Hahaha."


"Kau ini ya. Senang sekali mengatai kakak sendiri. Seperti itu yang di bilang sayang?" Alan menggelitik tubuh Melisa hingga tertawa lepas.


"Ampun kak ampun. Geli. Hahahaha."


"Tidak kakak, tidak adik, sama saja." Gumam Kevin yang melihat kekonyolan kakak beradik di depannya.


Setelah sarapan selesai, Alan Membawa Melisa menemui dokter Juna. Banyak sekali pertanyaan yang ingin ia sampaikan kepadanya.


Kali ini, Kevin tidak ikut menemani Melisa ke rumah sakit karena dia sudah mulai magang hari ini. Meski ia magang di kantor pusat Yong ju Grouop, jangan harap ia akan mendapat perlakuan khusus. Selain karena statusnya sebagai adik ipar Alan tidak diketahui siapapun, Kevin ingin mengapai kesuksesan dengan tangannya sendiri. Ia tidak ingin ada campur tangan dari Alan.


***


"Pagi dokter Juna." Sapa Alan sambil menjabat tangannya.


"Pagi Tuan Alan."


"Hai Nona Melisa, bagaimana kabar anda? Apa ada keluhan?" Dokter Juna beralih menyapa Melisa.


"Baik dok. Sebenarnya aku baik-baik saja. Tapi kakakku ini memaksaku datang kemari."


Dokter Juna mengerutkan dahinya. Ia merasa heran, jika tidak ada keluhan kenapa membuat janji dengannya. Toh ini belum waktunya kontrol rutin. Harusnya obat-obatannya juga masih karena belum waktunya kontrol rutin.


"Begini dok, sebenarnya saat ini Melisa sedang hamil. Apa obat yang ia konsumsi akan berpengaruh buruk untuk kandungannya?"


"Kebanyakan obat jantung aman untuk kehamilan, kecuali penghambat ACE dan penghambat receptor ACE yang berguna untuk mengatasi tekanan darah tinggi dan obat pengencer darah coumadin. Untuk itu, tetap lanjutkan obat untuk nona Melisa."


"Apakah harus dok, saya sudah berhenti minum obat beberapa minggu. Dan lihatlah, aku baik-baik saja kan?" Tawar Melisa yang sudah bosan dengan obat-obatan. Apalagi saat ini dia juga harus mengkonsumsi beberapa vitamin dan obat penambah darah untuk kehamilannya.


"Big NO. Itu akan sangat buruk nona. Tetap minum obat anda. Saya akan menambahkan beberapa suplemen, karena dalam kondisi hamil biasanya akan lebih rentan."


Sungguh, itu jawaban yang tidak di harapkan Melisa. Meskipun begitu, dia tetap memutuskan untuk stop obat-obatan selama kehamilannya tanpa sepengetahuan siapapun. Ia hanya akan meminum suplemen dan vitaminnya saja. Ia ingin yang terbaik untuk anaknya. Karena dalam pemikirannya, obat kimia pasti memiliki dampak yang kurang baik untuk janin.


Sepulangnya dari rumahsakit, Melisa merengek ketika menjumpai penjual es krim di pinggir jalan yang mereka lalui.


Tentu saja perdebatan terjadi lagi, karena Alan tidak pernah mengizinkan Melisa jajan sembarangan.

__ADS_1


"Kak, es krim." Mengerucutkan bibirnya, karena Alan tidak mengiyakan keinginannya.


"Nanti kakak belikan es krim yang biasa kamu makan, jangan yang itu."


"Aku mau yang itu!"


"Tidak ya tidak, ayolah sayang jangan seperti anak kecil."


"Kakak jahat ih, ini maunya dedek bayi tau." Kali ini disertai drama. Buliran kristal bening jatuh dari kelopak mata Melisa. Ia menangis sesenggukan seperti bocah TK yang tidak di perbolehkan jajan sembarangan oleh ibunya."


"Oke oke sayang, kita putar balik."


Alan memutar balik mobil yang ia kendarai. Kali ini dia mengalah karena tidak tega melihat kesayangannya menangis seperti itu.


"Itu kan yang kamu mau?" Tanya Alan yang melihat si penjual es krim akan beranjak pergi.


"Iya itu kak, buru ih." Melisa turun dari mobil dan setengah berlari karena tidak ingin kehilangan es krim yang ia inginkan. Di ikuti Alan yang menyusul dibelakangnya.


"Hati-hati sayang, jangan berlari seperti itu."


"Es krim dua pak." Pinta Melisa kepada si penjual.


"Satu saja, kakak tidak usah."


"Siapa bilang yang satu untuk kakak? Dua duanya untukku."


"Ya ya, asal kau senang." Alan sudah pasrah dan berdo'a supaya Melisa tidak kenapa-kenapa karena jajan sembarangan.


"Berapa pak?" Tanya Alan yang hendak membayar dua cone es krim yang di pegang Melisa.


"Ini, kembaliannya untuk bapak." Sambil menyerahkan selembar uang berwarna merah.


"Terima kasih tuan."


"Sekarang pulang ya?" Pinta Alan.


"Bentar, aku mau makan es krimnya disini, sambil menikmati alam."


Saat ini mereka memang tengah berada di taman yang menyuguhkan pemandangan yang menyejukkan mata. Bunga bugenvil sedang bermekaran dan keindahannya membuat siapapun yang melihatnya akan merasa kagum.


Setelah selesai dengan drama yang dibuat Melisa, Alan kembali melajukan mobilnya.


Sesampainya dirumah, ia melihat mobil sport warna merah terparkir di depan kediamannya.


"Mobil siapa?" Tanya Alan kepada security.


"I.. itu tuan. Mobil adik tuan." Jawabnya terbata-bata karena tau hubungannya dengan Evelyn ataupun anak perempuannya tidak baik. Tapi ia tak bisa melarangnya masuk karena mereka juga pemilik rumah ini.


Alan menggenggam erat tangan adiknya dan berkata "Bagiku, hanya kau adikku. Adik kesayanhanku. Segalanya untukku."


Melisa hanya diam dan memberikan senyum kepada Alan. Ia tau kakaknya sedang tidak baik-baik saja.


"Alan, kau sudah pulang nak? Mama dan adikmu Amora sudah menunggumu dari tadi." Ucap Evelyn tanpa mempedulikan Melisa.


"Untuk apa?" Tanya Alan singkat, karena tidak ingin terlalu banyak bicara dengan mereka.

__ADS_1


"Tentu saja untuk menemuimu. Mama dan Amora akan tinggal disini. Kita akan berkumpul lagi seperti dulu."


"Terserah kalian mau apa." Alan berlalu meninggalkan mereka dan membawa Melisa masuk ke kamarnya.


"Sepertinya kak Alan tidak menyukai keberadaanku disini ma." Ucap Amora kepada ibunya.


"Kakakmu memang seperti itu. Jangan di ambil hati."


Hari mulai temaram dan berganti senja. Waktunya untuk orang-orang menyudahi pekerjaan serta aktivitasnya dan kembali ke rumah masing-masing. Begitu juga dengan Kevin. Setelah seharian penuh bekerja keras, kini waktunya untuk pulang dan mengistirahatkan raga serta pikirannya.


"Mobil siapa?" Tanya Kevin kepada security.


"Mobil nyonya besar dan putrinya tuan."


Kevin mengerti siapa yang ia maksud sebagai nyonya besar dan putrinya. Sudah pasti Evelyn dan anaknya.


Saat masuk kedalam rumah, ia di kejutkan dengan sosok Amora yang sedang sibuk dengan laptopnya.


"Amora?"


"Kak kevin?"


"Kau adiknya kak Alan?"


"Iya kak, kakak kenapa bisa ada di sini?" Tanya Amora dengan heran.


"Aku tingal di sini. Aku adik ipar kak Alan."


"What? ternyata dunia ini sempit ya."


Amora adalah adik kelas Kevin saat masih duduk di bangku SMA. Keduanya cukup akrab karena keduanya sering terlibat dalam kegiatan sosial yang di senggarakan sekolah mereka. Ia memiliki kemiripan sifat dengan Melisa, berjiwa sosial tinggi.


"Aku ke kamar dulu ya."


"Iya kak, silahkan."


Setelah membuka kamar, ia tidak menemukan Melisa.


"Kemana Melisa?"


Saat melangkahkan kaki ke kamar mandi, ia juga tidak mendapati keberadaan Melisa.


Lalu ia mencoba mencarinya ke kamar Alan


Tok.. tok.. tok..


Kevin mengetuk pintu kamar Alan, namun tidak ada jawaban.


Jegleg..


"Tidak di kunci ternyata." Gumam Kevin.


Ia masuk dan mendapati Melisa tengah tidur di pangkuan Alan. Alan juga tertidur dengan posisi duduk bersandar di tempar tidur.


"Ah, manis sekali kedua kakak beradik ini."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2