Adik Kesayangan CEO

Adik Kesayangan CEO
Chapter 33 (Ingkar Janji)


__ADS_3

"Apa Melisa sudah lebih baik? Tanya Amora kepada Alan yang kini berada di meja makan.


"Dia sudah lebih baik." Tapi justru Kevin yang menjawab, karena melihat Alan hanya diam dan tak ada niatan menjawab pertanyaan Amora.


"Alan, apa kau tidak bisa bersikap baik kepada adik kandungmu sendiri? Kau justru memperlakukan anak dari perempuan ****** itu bak putri raja."


Brakkkkk....


"Jaga bicara mama. Tak ada seorang pun yang boleh mengusik Melisa kalau masih ingin tetap hidup dengan tenang. Termasuk mama."


"Kau jangan kurang ajar dengan ibumu sendiri. Apa kau lupa siapa yang membesarkanmu, siapa yang menyusuimu, siapa yang selalu mengurus semua keperluanmu. Ini balasanmu?"


"Terimakasih untuk semua itu. Tapi tolong jangan pernah mengganggu kehidupan kami, setelah apa yang kau lakukan itu. Apa pantas seseorang yang masih berstatus sebagai istri melahirkan anak dari pria selingkuhannya. Kau yang membuat semua berubah."


Alan meninggalkan meja makan dan memilih untuk berangkat ke kantor dengan perut kosong.


"Ma, sudah. Jangan ada lagi pertengkaran jika mama tidak ingin aku pergi dari rumah ini." Amora begitu sedih karena maksud kedatangannya ke rumah ini adalah untuk memperbaiki hubungannya dengan Alan. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.


"Maaf, permisi. Aku harus ke kantor lebih awal." Kevin juga memilih menyudahi sarapan paginya dari pada berada ditengah situasi seperti ini.


"Vin, tunggu. Boleh aku ikut mobilmu? Mulai hari ini aku bekerja di perusahaan kakak."


"Oh, tentu boleh. Tunggu sebentar ya, aku mau ke atas menemui Melisa dulu."


"Ya, baiklah."


Sesampainya di kamar, Kevin terkejut karena saat ini Melisa sudah rapi dengan seragam sekolahnya.


"Sayang, sudah berapa kali ku bilang, jangan masuk sekolah dulu. Kau masih harus istirahat total."


"Aku sudah baikan kak, aku bosan dirumah terus dan ngak ngapa ngapain."


"Mulai hari ini Sofia akan menemanimu, dan untuk sementara kau akan sekolah daring sampai kau benar-benar sehat."


"Fine. Kau menang." Melempar tasnya ke sembarang arah. Dia memperlihatkan raut kekesalannya dengan begitu jelas kepada Kevin.


"Jangan marah padaku, itu kakakmu yang membuat keputusan. Aku hanya menyampaikan saja."


"Kalian sama saja, sama-sama ingin mengurungku dalam rumah."


"Aku janji, nanti akan pulang cepat, lalu kita jalan-jalan."


"Seriously? Nanti kita belanja perlengkapan baby ya. Aku sudah nggak sabar lihat-lihat baju baby yang lucu-lucu." Melisa terlihat begitu antusias dan tidak sabar menunggu sore tiba.


"Iya iya, senyumnya mana?"


Melisa menanpilkan senyum terbaiknya.


"Hanya itu saja?" Tanya Kevin.


Melisa yang paham maksud Kevin, segera berjinjit dan memberikan kecupan singkat. Hal itu sudah menjadi rutinitas di pagi hari sebelum keduanya memulai aktivitas.

__ADS_1


"Bye sayang, jangan terlalu merindukanku." Kevin berlalu sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ih, kak Kevin mulai deh genitnya."


"Genit sama istri sendiri hukumnya wajib." Teriak Kevin dari luar kamar yang ternyata mendengar cibiran Melisa.


Kini semua penghuni rumah pergi dan menjalankan rutinitasnya. Terkecuali Melisa mama Evelyn tentunya.


Setelah sekolah daring selesai, ia merasa bosan dan tak tau harus berbuat apa. Tiba-tiba ia teringat ucapan Kevin yang mengatakan bahwa Sofia akan datang kemari menemaninya. Jika memang benar Melisa akan merasa sangat senang karena ada teman bicara.


Sementara di lantai bawah, terlihat seseorang sedang dijejali pertanyaan dengan bertubi-tubi. Sofia terlihat tidak nyaman dengan apa yang di lakukan Evelyn kepadanya. Ia merasa sepertinya Evelyn tidak suka dengan kedatangannya.


"Kau siapa?


Dari mana asal usulmu?


Ayahmu pemilik perusahaan mana?


Apa hubunganmu dengan Alan?


Semua itu membuat Sofia merasa sedang di interogasi. Ia lebih memilih tidak menjawab pertanyaan dengan nada merendahkan itu.


"Maaf nyonya. Saya kesini atas perintah bos saya. Tolong jangan persulit pekerjaan saya." Hanya itu yang ia ucapkan. Setelah itu ia berlalu pergi menuju lantai atas dan menemui Melisa.


"Kak Sofia beneran datang kesini? Aaa.. aku senang sekali." Melisa yang sedang membuka pintu dan hendak keluar dari kamar begitu senang karena melihat kehadiran Sofia.


"Kamu apa kabar?" Tanya Sofia begitu ramah. Sofia adalah sosok gadis yang pandai menempatkan diri. Ia akan bersikap tegas dan berani kepada orang yang merendahkannya. Tapi dia juga bisa bersikap ramah dan penuh kasih sayang kepada orang yang bersikap tulus padanya.


"Kak Sofia, aku berharap kakak segera menikah dengan kak Alan. Aku akan sangat senang karena punya kakak perempuan sepertimu."


"Haha, kau ini bicara apa. Kakakmu saja belum melamarku." Kali ini Sofia keceplosan.


"Berarti kak Sofia akan menerima kak Alan jika ia melamarmu?" Goda Melisa yang berhasil membuat wajah Sofia memerah.


"Maksudku bukan begitu. Sudah ah, kita ngobrol yang lain saja. Bagaimana kandunganmu? Baik-baik saja kan? Sofia berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Kami baik-baik saja." Jawab Melisa sambil tersenyum dan membelai perutnya yang masih datar.


"Kamu gadis kuat, kamu pasti bisa melewati semua ini."


***


Setelah semua pekerjaannya selesai, Amora bangkit dari duduk dan berniat untuk pulang. Namun saat berdiri tiba-tiba ia merasa pusing dan sekelilingnya seperti berputar-putar.


Dia berjalan sempoyongan dan hampir kehilangan keseimbangan. Ia berpegangan dinging di sampingnya agar tak terjatuh. Kevin yang melihat Amora tampak tidak baik-baik saja segera menghampirinya.


"Kau kenapa?"


"Kepalaku pusing sekali."


"Ku antar ke klinik ya?"

__ADS_1


Tidak usah, aku mau pulang saja. Kalau kau tidak keberatan aku nebeng mobilmu lagi.


"Baiklah ayo ku bantu jalan."


Baru dua langkah berjalan, tiba-tiba Amora tumbang dan tak sadarkan diri.


"Amora.." Teriak Kevin karena reflek. Untung saja Kevin menangkapnya, kalau tidak sudah pasti kepalanya akan terbentur lantai.


Kevin menangkat tubuh Amora dan membawanya ke klinik perusahaan. Wajahnya terlihat sangat pucat.


"Dokter, tolong. Teman saya pingsan."


Dokter memeriksa Amora yang terkukai lemah. Beberapa saat kemudian, dokter mengatakan jika sepertinya Amora mengalami gejala anemia.


"Saya akan merujuknya ke rumahsakit untuk melakukan pemeriksaan laboratorium. Ambulance milik perusahaan akan mengantar nona Amora ke rumahsakit. Tapi sebelum itu, kita hubungi dulu keluarganya untuk menemani pasien."


Kevin sejenak berfikir. Jika ia memberi tahu Alan, mungkinkah ia mau menemani Amora ke rumah sakit?


"Sebentar dok, saya akan menghubungi keluarganya."


Kevin berjalan meninggalkan klinik dan menuju ruangan Alan. Semoga saja kak Alan belum pulang, begitu pikirnya.


"Syukurlah kakak belum pulang."


"Ada apa?"


"Amora pingsan dan harus di bawa ke rumahsakit."


"Lalu untuk apa kau memberitahuku?" Alan berkata dengan santainya. Tidak terlihat sedikitpun raut kekhawatiran di wajahnya.


"Tolong temani dia."


"Jangan buang waktuku untuk hal yang tidak penting. Aku masih banyak pekerjaan."


"Seharusnya aku tidak datang kesini." Kevin berlalu meninggalkan ruangan kerja Alan dengan wajah kesal dan kecewa.


Ia kembali ke klinik perusahaan dan berbicara kepada dokter bahwa dirinya yang akan menemani Amora ke rumahsakit karena keluarganya tidak bisa datang.


Sesampainya di rumahsakit, Kevin begitu sibuk karena harus mengurus administrasi dan pendaftaran. Sampai-sampai dia melupakan sesuatu. Dia melupakan janjinya kepada Melisa.


***


"Terimakasih sudah menemaniku kak." Melisa memeluk Sofia yang sudah bersiap untuk pulang.


"Benar kamu tidak apa-apa aku pulang sekarang?"


"Iya kak tidak apa-apa. Sebentar lagi suamiku pulang."


Melisa mondar-mandir menunggu kepulangan Kevin. Ia mebcoba menghubunginya berkali-kali tapi ponselnya tidak aktif.


Marah, kecewa, sekaligus khawatir.

__ADS_1


Itulah yang dirasakannya saat ini.


Bersambung...


__ADS_2