Adik Kesayangan CEO

Adik Kesayangan CEO
Chapter 35(Broken Heart)


__ADS_3

Di pagi buta, Melisa terbangun dan merasakan mual. Ia berlari menuju kamar mandi.


Alan yang sedang menggosok giginya di dalam kamar mandi terkejut dengan kedatangan Melisa.


"Hoekkk.. hoekk.."


Melisa mengeluarkan isi perutnya. Keringat dingin bercucuran membasahi kening dan tubuhnya.


Alan memijat pelan tengkuk Melisa, berharap bisa membuatnya lebih baik.


"Kau setiap pagi seperti ini?" Tanya Alan dan di jawab anggukan oleh Melisa.


"Sini kakak bantu membersihkan diri."


Alan membasuh wajah Melisa dan mengeringkannya dengan handuk kecil. Lalu mencuci kedua tangan Melisa dengan sabun .


Setelah selesai membersihkan diri, Alan menggendongnya ke kamar.


"Apa ada yang sakit?"


"Tidak, aku hanya masih agak mual."


"Kakak panggil dokter ya?"


"Tidak usah kak, ini wajar bagi perempuan yang sedang hamil."


"Apa yang bisa kakak lakukan agar kau merasa lebih baik?" Alan sedih melihat keadaan Melisa yang seperti ini.


"Nothing. Ini akan berhenti dengan sendirinya setelah tiga atau empat bulan usia kehamilan."


"Selama itu?"


"Iya, kakak tidak usah cemas seperti itu. I'm fine. Dan akan selalu baik-baik saja." Melisa menggenggam tangan kakaknya sebagai isyarat agar kakaknya itu tidak terlalu mengkhawatirkannya.


Alan tersenyum dan memeluk erat-erat adiknya.


Beberapa saat kemudian, Kevin mengetuk pintu kamar Alan dan membawakan air jahe untuk Melisa. Karena ia tau, saat pagi hari istrinya itu pasti mengalami morning sickness.


"Kak Kevin tau aku disini?"


"Ya, semalam aku mencarimu kemari. Aku masuk karena kamarnya tidak di kunci. Dan benar saja, kau ada di sini."


"Apa yang kau bawa itu?" Tanya Alan kepada Kevin.


"Ini air jahe, biasanya Melisa merasa lebih baik dan rasa mualnya berkurang setelah meminum ini."


Alan bersyukur Melisa memiliki suami seperti Kevin, yang tau bagaimana cara mengurus istrinya dalam keadaan seperti ini. Walau kemarin Alan merasa sangat kesal karena Kevin telah membuat adiknya kecewa. Tapi ia memakluminya karena memang ada alasan yang harus dimaklumi.


Setelah merasa perutnya lebih baik, Melisa ikut Kevin dan Alan untuk sarapan di bawah. Walau ia hanya bisa memakan sepotong roti. Ia mengunyah dan menelan makanannya dengan susah payah.


"Nanti Sofia akan menemanimu lagi." Ucap Alan di sela-sela sarapan.


"Apa kakak tidak repot jika kak Sofia di sini?"


"Tidak, kakak sudah merekrut sekertaris baru. Jadi, Sofia akan selalu disini untuk seterusnya."


"Terimakasih untuk semuanya kak." Melisa senang karena ada Sofia yang akan selalu menemaninya. Ia tidak akan merasa kesepian lagi.


"Kakak berangkat dulu. Jaga dirimu baik-baik, juga calon keponakanku. Alan membelai perut Melisa dengan lembut. Lalu mencium kening dan perutnya.

__ADS_1


"Hati-hati kak." Mencium punggung tangan Kakaknya.


"Kak Kevin tidak ikut berangkat?"


"Nanti, kalau Sofia sudah datang."


"Apa nanti tidak terlambat?"


"Tidak, kau tenang saja."


Satu jam kemudian, Sofia datang dengan membawa beberapa buah-buahan.


"Maaf aku sedikit terlambat."


"Karena Sofia sudah datang, aku berangkat dulu sayang." Kevin berpamitan kepada Melisa


"Iya kak, hati-hati." Mencium punggung tangan suaminya.


Hari ini tidak seperti biasa, karena biasanya Melisa yang lebih banyak bercerita, dan Sofia menjadi pendengar yang baik untuknya. Kali ini justru Sofia yang bercerita banyak kepada Melisa. Termasuk alasan kenapa ia datang terlambat.


"Semalam aku menunggu ibuku di rumahsakit, jadi aku baru bisa kesini setelah ayah datang menggantikanku." Seketika raut wajah Sofia berubah menjadi sedih.


"Jadi bibik Hanum sedang sakit? Kenapa tidak mengabari kami?"


"Aku tidak ingin merepotkan kalian."


"Justru aku yang sudah merepotkan kak Sofi. Harusnya kak Sofi tidak kesini. Kakak pasti capek dan butuh istirahat setelah semalaman merawat bibik."


"Tidak apa-apa. Kau tidak usah mencemaskanku."


"Aku ingin menjenguk bibik Hanum kak."


"Kak Alan tidak akan marah. Aku sudah meminta izin untuk menjenguk Amora hari ini. Jadi aku pikir, sekalian menjenguk bibik juga."


"Nanti jam makan siang kita berangkat. Sekarang waktunya kau sekolah daring dulu."


Setelah sekolah daring selesai, Melisa beristirahat sejenak. Setelah itu, ia dan Sofia menuju rumahsakit untuk menjenguk Amora dan Hanum yang sedang di rawat di rumahsakit yang sama.


Melisa mengajak Sofi untuk memasuki ruangan Hanum terlebih dahulu. Ia tau jika Sofia pasti ingin segera bertemu ibunya dan ingin melihat perkembangan kesehatan ibunya yang sedang sakit.


"Hai bibik, maaf aku baru tau kalau bibik sedang sakit. Bagaimana keadaan bibik sekarang?"


"Bibik tidak apa-apa nak. Hanya kecapekan saja." Ucap Hanum disertai senyuman hangat.


"Ayah kemana bu?" Sofia mengedarkan pandangannya ke semua sudut ruangan demi mencari sosok ayahnya.


"Ayahmu pergi makan siang. Apa kalian sudah makan siang?"


"Belum bu. Nanti setelah dari sini kita akan makan siang."


"Cepat ajak nak Melisa makan siang. Kasihan dia, pasti sudah lapar. Tidak baik menunda makan saat sedang hamil muda."


"Bibik Hanum tau aku sedang hamil?"


"Iya nak, tempo hari kakakmu datang kerumah dan menyuruh Sofia untuk menjagamu saat kakakmu bekerja. Ia begitu khawatir jika meninggalkanmu sendiri dirumah dalam keadaan hamil."


Obrolan mereka terhenti ketika seorang berpakaian dokter masuk dan diikuti dua orang perawat di belakangnya.


"Maaf, kami akan melakukan pemeriksaan terhadap nyonya Hanum. Silahkan tunggu di luar dulu."

__ADS_1


"Baik dok."


Melisa dan Sofi keluar dari ruangan. Sofia menunggu di depan ruang rawat ibunya karena ingin tau perkembangan kesehatan ibunya. Sedangkan Melisa memilih untuk mencari ruangan tempat Amora di rawat.


Ia berjalan menghampiri petugas bagian informasi dan menanyakan dimana tempat Amora di rawat.


"Permisi, saya ingin bertanya tempat Amora Yong ju dirawat."


Seorang perempuan berpakaian formal terlihat mengetikkan sesuatu di laptop yang berada di depannya.


"Pasien atas nama Amora Yong ju berada di ruang VIP satu nona." Jawab perempuan di depannya.


"Terimakasih informasinya."


"Sama-sama nona."


Melisa berlalu pergi menuju ruangan VIP satu, sesuai dengan yang sudah diinformasikan pertugas rumahsakit tadi.


Sesampainya di ruangan yang ia tuju, ia segera membuka pintu dan berniat masuk. Namun belum selangkahpun kakinya masuk, ia menutup kembali pintunya.


Melisa tak percaya dengan yang baru saja ia saksikan. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri seorang Kevin Sanjaya, yang tak lain adalah suaminya sedang menyuapi Amora.


Hal itu lantas membuatnya di gelayuti pikiran-pikiran negatif.


Mungkinah suaminya telah menghianatinya?


Apakah ada something special dalam hubungan mereka?


Apakah mereka menjalin hubungan di belakangnya?


Pertanyaan pertanyaan itu terbesit di benaknya tak terkendali.


Melisa berusaha menampilkan mimik wajah setenang mungkin dan berlalu pergi meninggalkan ruangan terkutuk itu.


Dia kembali ke ruang perawatan bibik Hanum dan meminta Sofia untuk mengantarnya pulang.


"Kak, bisa antar aku puang sekarang?" Pinta Melisa kepada Sofia yang sedang duduk di depan ruang rawat ibunya.


"Tentu saja. Kau sudah menemui Amora?"


"Belum. Tiba-tiba aku tidak enak badan." Melisa berusaha menahan sesak di dadanya ketika teringat kejafoan yang dilihatnya tadi.


"Kau kenapa? apa ada yang sakit?" Sofia panik saat Melisa mengatakan keluhannya.


"Tidak. Aku hanya merasa lemas."


"Astaga, mungkin karena kau belum makan siang. Kita makan dulu ya?" Ajak Sofia, namun di jawab dengan gelengan kepala oleh Melisa.


"Kalau begitu, sebelum pulang kita temui dokter untuk memeriksa keadaanmu ya?"


"Please antar aku pulang." Melisa terduduk di kursi dan menyandarkan tubuhnya. Air matanya jatuh tanpa seizinnya.


"Iya sayang kita pulang, sebentar aku ambil kursi roda dulu." Sofia berlari mengambil kursi roda karena melihat kondisi Melisa yang begitu lemah dalam sekejab. Berbanding terbalik dengan kondisinya beberapa menit yang lalu.


Di sepanjang perjalanan pulang, Sofia semakin khawatir karena Melisa sedari tadi hanya diam. Bahkan dia terlihat semakin pucat. Sesekali Sofia mengajaknya bicara, Tapi hanya di jawab dengan anggukan ataupun gelengan saja.


Sofia menghubungi Alan dan memintanya untuk segera pulang. Ia tak tau harus berbuat apa jika seperti ini.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2