
Hari ini Sofia sudah kembali ke rumahnya. Tapi Melisa merasakan sikap Alan kepadanya tak jauh berbeda. Sungguh ia sangat kecewa. Tapi perasaan itu ia singkirkan jauh-jauh. Toh dulu kakaknya itu pernah bersikap lebih buruk dari ini sebelum insiden berdarah itu.
"Hei, Dari tadi diam saja." Kevin membuyarkan lamunan Melisa.
Ternyata mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di sekolah.
"Nanti jam 10 jangan lupa kesini lagi. Jangan sampai tidak ada yang datang mengambil raporku."
"Iya iya. Senyumnya mana?"
Melisa menampilkan semyum yang sedikit dipaksakan.
"Mel." Aldo melambaikan tangannya.
"Hai Al, tumben kamu naik angkutan umum. Motor bebek antik kamu mana?"
"Ngeledek motor aku nih ceritanya?"
"Siapa yang ngeledek? Itu fakta."
Buahahahaha...
Keduanya tertawa lepas.
"Motor aku di bengkel. Kayaknya parah deh, soalnya harus opname."
"Hahaha. Motor kamu pasti pasien tetap di bengkel itu."
"Tau aja kamu. Tapi jangan salah, jelek-jelek gitu tapi motorku punya kenangan yang tak pernah terlupakan. Motor itu kenang-kenangan dari almarhum kakekku."
"Iya-iya aku tau. Motormu itu memang sudah sangat tua." Hahaha. Melisa senang sekali saat bisa melupakan segala masalahnya. Dan itu membuatnya semakin bersyukur memiliki sahabat seperti Aldo.
Pukul sepuluh lewat lima belas menit. Kevin datang kesekolah Melisa untuk mengambil rapor. Siswi-siswi yang melihatnya tepesona akan ketampanannya. Salah satu dari mereka menghampiri Melisa.
"Mel, kenalin gue sama kakakmu itu lah, comblangin sekalian juga nggak apa-apa."
__ADS_1
"Hus.. dia sudah ada yang punya."
"Serius lo Mel? Huhuhu. Patah hati gue. Ternyata si do'i sudah punya pacar guys." Sahut teman Melisa yang lainnya.
"Kalau kakak lo yang CEO itu, boleh lah Mel. Walau sudah berumur tapi kan masih cakep. Iya nggak temen-temem?"
"Ih kalian ini ya. Kakakku semua sudah ada yang punya. Udah kalian move on aja lah cari yang sebaya."
Di tengah obrolan dengan teman-teman sekelasnya, Kevin datang menghampiri Melisa sambil membawa hasil kerja kerasnya.
"Rapormu tidak ada merahnya. Semua di atas rata-rata. Aku bangga padamu sayang."
"Terimakasih." Tersipu malu karena di puji suaminya.
"Aku akan beri hadiah untukmu."
"Benarkah? Apa hadiahku?" Melisa begitu antusias dengan hadiah yang di janjikan Kevin.
"Nanti dirumah kau juga akan tau."
Sesampainya di rumah, Kevin menutup mata Melisa dengan kedua tangannya. Dengan hati-hati ia menuntun langkah Melisa dan membawanya ke taman belakang rumah.
"Sudah, sekarang buka matamu." Kevin melepaskan tangannya dari wajah Melisa.
"KEJUTAN...."
Betapa terkejutnya Melisa saat melihat taman belakang rumah sudah disulap menjadi begitu indah dengan dekorasi ala 'Garden Party'. Tak hanya itu, disana juga ada Alan dan Sofia. Dan satu lagi pria yang tidak asing baginya. Dia adalah pengacara ayahna.
"Happy birth day sayang."
Alan mendekati Melisa dengan kue yang ukurannya lumayan kecil."
"Terimakasih kak, aku sampai lupa kalau hari ini aku berulang tahun." Memeluk kakaknya dengan antusias. Dia mengira kakaknya sudah tidak begitu peduli padanya. Tapi ternyata dia salah.
"Aku kira kakak sudah tidak peduli lagi padaku." Kali ini Melisa sudah tidak bisa membendung air matanya.
__ADS_1
"Kenapa bicara seperti itu?"
"Kakak mengabaikanku beberapa minggu ini kan?"
"Kakak tidak mengabaikanmu. Aku hanya sedikit menjaga jarak agar kau punya waktu berdua dengan suamimu."
"Sedikit katamu kak? kau begitu banyak mengabaikanku. Lain kali jangan seperti itu ya. Aku kan jadi mengira kak Sofia telah merebut kakak dariku." Masih dalam keadaan menangis. Tapi kali ini malah terlihat imut.
"Pesta semegah ini hanya kita berempat saja yang merayakan?" Melisa memandang dekorasi yang begitu megah dan luas.
"Tentu saja tidak, kita sudah undang semua teman-temanmu untuk hadir di pestamu nanti malam. Tapi kakak sengaja ingin memberi kejutan di awal."
"Ini hadiahmu, bukan, ini hadiah untuk Kevin juga." Sofia memberikan sebuah map yang di ambilnya dari pengacara yang berdiri di antara mereka.
"Apa ini?"
"Bukalah sayang." Perintah Alan.
"Surat pembatalan peraturan dan perjanjian pra nikah?" Melisa memandang kakaknya sejenak. Lalu ia memeluknya dengan perasaan campur aduk. Dia masih tidak percaya kakaknya melakukan ini.
Kevin tak kalah terkejut, ia tidak menyangka Alan sudah bisa menyerahkan Melisa seutuhnya kepada dirinya.
"Mulai sekarang bersikaplah seperti pasangan suami istri pada umumnya. Tapi tunda dulu malam pertama kalian setidaknya sampai Melisa lulus SMA." Alan melirik Kevin dengan sorot mata tajam.
"Kau tenang saja, aku tau batasanku. Terimakasih karena sudah percaya padaku dan menyerahkan Melisa sepenuhnya menjadi istriku." Kevin memeluk Alan sebagai ucapan terimakasih.
Melisa dan Kevin memandang satu sama lain. Mereka berpelukan cukup lama. Akhirnya perjuangan yang mereka lakukan untuk meluluhkan hati Alan tidaklah sia-sia.
Malam hari pun tiba. Teman-teman Melisa yang di undang Alan mulai berdatangan. Tapi ada satu orang yang membuatnya tidak nyaman. Maya juga turut hadir di pestanya. Sudah bisa dipastikan Kevinlah yang mengundang perempuan itu.
Selamat malam semuanya. Terimakasih sudah bersedia meluangkan waktu untuk menghadiri birthday party adik kami tercinta. Semoga di usianya yang ke delapan belas ini menjadikannya pribadi yang lebih baik lagi. Dan semoga semua harapannya tergapai, panjang umur, dan selalu dalam lindungan Tuhan yang maha kuasa. Amin.
Setelah sambutan pembuka acara dari Alan, pesta pun di mulai dengan meriahnya. Dilanjutkan dengan acara tiup lilin dan potong kue. Tapi Melisa terlihat mengedarkan pandangannya seperti sedang mencari seseorang. Dari tadi dia tidak melihat Aldo. Dimana sahabatnya itu? Apa dia tidak hadir di pesta ulangtahunnya?
Bersambung...
__ADS_1