Adik Kesayangan CEO

Adik Kesayangan CEO
Chapter 41 (Harga diri yang tercabik)


__ADS_3

"Kakak sudah pulang?" Melisa baru menyadari jika kakaknya sedang memperhatikannya dari kejauhan.


Alan mendekati kedua perempuan yang sedang asik berbincang. Entah apa yang mereka bicarakan hingga baru menyadari keberadaannya.


"Sepertinya seru sekali. Apa yang kalian bicarakan?"


"Tidak ada kak. Kami hanya sedang membahas masalah cewek. So, cowok dilarang ikut nimbrung." Jawab Melisa di sertai kekehan.


"Hmm, begitu ya? Ya sudah, lanjutkan perbincangan kalian." Alan mengusap lembut ujung kepala Melisa. Setelah itu tanpa di duga, ia melakukan hal yang sama kepada Amora.


"My God. Melisa. Apa yang barusan itu nyata? Kak Alan mengusap kepalaku. Aku tidak sedang bermimpi kan?" Bahkan saat ini Amora tengah mencubit lengannya sendiri demi memastikan apakah yang baru saja ia alami itu mimpi atau nyata.


"Auuhh.. sakit." Keluh Amora saat mencubit lengannya sendiri.


"Itu berarti kau tidak sedang bermimpi." Melisa bisa merasakan kebahagiaan yang di rasakan Amora saat ini, karena ia pernah berada di posisi yang sama.


Keesokan harinya, Melisa sudah bersiap untuk melakukan rutinitas seperti biasa. Setelah selesai mengenakan seragam putih abu-abu, ia segera turun menuju meja makan menyusul yang lain.


Saat ini di meja makan sudah ada formasi lengkap, kecualu Evelyn tentunya. Karena saat ini ia masih berada di Tokyo dengan segala urusan bisnisnya.


"Amora, kenapa tidak kau lanjutkan saja kuliahmu? Pendidikan itu penting." Alan sudah mulai menurunkan egonya dan berusaha menjalin komunikasi dengan Amora tanpa rasa canggung.


Sedangkan Amora yang di ajak bicara hanya terbengong karena mengira ia salah dengar.


"Kenapa kamu terlihat bingung seperti itu? Iya, kak Alan sedang berbicara denganmu."Melisa seolah tau jika Amora sedang kebingungan.


"I.. iya kak. Rencananya juga begitu." Jawab Amora terbata-bata.


"Bagus kalau begitu."


Kevin Melirik Melisa, tatapan matanya seolah bertanya "Apa itu benar kakakmu?"


Sementara Melisa hanya tersenyum dan mengangkat bahu sebagai jawaban.


"Aku berangkat dulu." Alan menyudahi sarapannya lalu mencium kening Melisa. Di susul dengan Kevin, yang melakukan hal yang sama.


"Maaf aku tidak bisa mengantarmu sekolah hari ini sayang." Seperti biasa, Kevin selalu absen mengantar Melisa ke sekolah jika ada Apel pagi untuk karyawan magang.


"It's ok."


Setelah itu Melisa juga menyudahi sarapannya dan menyambar tas sekolah yang ia letakkan di sandaran kursi.


"Duluan ya ra, jangan terlalu merindukanku." Goda Melisa.

__ADS_1


Amora terkekeh mendengarnya. "Dasar narsis."


"Ya biarkan." Jawab Melisa sambil berlalu pergi.


Sesampainya di sekolah, Melisa merasa ada yang aneh. Ia merasa semua orang memperhatikannya, lalu berbisik-bisik seperti sedang membicarakannya. Tak hanya itu, ia juga merasa beberapa hari ini sikap semua teman-temannya itu tidak seperti biasanya.


"Pantes aja kelihatannya lebih berisi. ternyata.., ehm.., emang lagi isi. " Ucap seorang siswa yang sengaja mengeraskan suaranya. Dia adalah Chika. Siswi yang sudah tiga kali menyatakan cinta kepada Aldo, namun selalu di tolak. Ia sangat senang saat Melisa beberapa minggu tidak masuk sekolah. Ia mengira Melisa pindah sekolah dan otomatis tidak ada saingan lagi untuk mendapatkan Aldo.


Ia berniat menembak Aldo lagi, dan ini untuk yang ke empat kalinya. Ia berharap Aldo akan menerima cintanya kali ini.


#Flash Back On


Saat Chika mencari Aldo untuk mengutarakan isi hatinya untuk yang ke empat kali, ia terkejut mengetahui jika Aldo sedang berbicara dengan seseorang yang ia pikir sudah pindah dari tempatnya bersekolah itu. Dia adalah Melisa.


Ia juga tidak sengaja mendengar pembicaraan antara Melisa dan Aldo.


Tapi sialnya, yang ia dengar hanya sebatas kalimat 'Saat ini aku sedang hamil'.


Chika berasumsi bahwa Melisa tengah hamil di luar nikah dan saat ini sedang meminta pertanggung jawaban dari Aldo. Karena itu, Chika begitu sakit hati karena sudah pasti ia tidak ada kesempatan lagi untuk mendapatkan Aldo. Lantas ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menjatuhkan Melisa dan mempermalukannya dengan cara menyebarkan aib Melisa yang ia kira sedang hamil diluar nikah, demi membalas rasa sakit hatinya.


#Flash back Off.


"Ups, ternyata yang di omongin sama sekali tidak merasa." Chika mencoba memancing reaksi Melisa karena sindirannya tidak di gubris oleh Melisa.


Melisa tetap tidak bereaksi dan kembali melangkahkan kaki menuju kelas. Namun ia menghentikan langkahnya ketika mendengar kata-kata yang menurutnya sangat tidak pantas di ucapkan oleh seseorang yang berstatus sebagai pelajar.


Melisa membalikkan badan dan menatap Chika dengan sorot mata tajam. Tapi ia masih berusaha tidak terpancing emosi.


"Maaf, apa kita ada masalah?" Tanya Melisa yang berusaha tetap bersikap ramah.


"Nggak ada sih. Tapi gimana ya, aku cuma mersa malu aja sih jika harus satu sekolah sama orang yang nggak bener. Ups, kenapa aku yang malu ya? harusnya kan situ yang malu."


"To the point aja. Apa yang kau inginkan dariku?" Ucap Melisa yang jengah karena pembicaraan Chika yang berbelit-belit dan semakin tidak bisa ia cerna.


"Alah nggak usah muna deh, situ sudah nggak perawan lagi kan, dan yang lebih wow lagi, situ sedang hamil. Ihhhh... amit-amit."


"Kalau memang aku hamil, memangnya apa urusan anda nona?" Tanpa Melisa sadari, banyak siswa yang menyaksikan pertengkaran antara dirinya dan Chika. Bahkan beberapa orang yang mendengarnya ikut menghakimi Melisa dengan pertanyaan yang merendahkan harga dirinya.


"Jadi benar kau hamil?"


"Astaga, jadi benar kau sudah tidak virgin?Ternyata benar gosip yang beredar selama ini."


"Aku tidak menyangka orang sepertimu hamil di luar nikah."

__ADS_1


Melisa terkejut dengan semua ucapan teman-temannya itu.


Terjawab sudah kenapa beberapa hari ini teman-temannya menunjukkan sikap berbeda. Ternyata mereka semua mengira bahwa dirinya sedang hamil di luar nikah. Tapi siapa yang menyebarkan berita ini?


Aldo? apa mungkin dia yang menyebarkan berita tidak benar ini? Ah, tidak mungkin. Aku sangat mengenal Aldo. Ia tidak mungkin melakukan hal rendah seperti ini. Tapi hanya dia kan yang tau jika aku sedang hamil?


Melisa pergi begitu saja tanpa peduli dengan ocehan dari teman-temannya yang mayoritas perempuan itu. Ia harus pergi menemui Aldo dan memastikan siapa yang telah menyebar gosip murahan seperti ini.


Sesampainya di kelas, Melisa menarik tangan Aldo begitu saja dan membawanya ke belakang sekolah.


"Ada apa?" Tanya Aldo dengan wajah bingung.


"Apa kau yang menyebarkan berita jika aku sedang hamil. Aku tidak masalah jika semua orang tau aku sedang hamil, karena itu kenyataan. Tapi yang jadi masalah, mereka mengira aku sedang hamil di luar nikah."


"Aku tidak mengatakan apapun kepada siapapun tentang itu. Satu hal yang perlu kau tau, aku tulus mencintaimu. Aku tidak akan pernah bisa menyakitimu. Walaupun aku tau, cinta ini tidak akan pernah terbalaskan."


Di lain tempat, lebih tepatnya di depan kantor guru, beberapa siswi berdatangan untuk mengadukan kehamilan Melisa. Mereka mendesak agar Melisa segera di keluarkan dari sekolah, karena mereka menganggap ia telah mencoreng nama baik sekolah. Khususnya siswa kelas duabelas.


Dan sudah pasti orang yang berdiri di barisan paling depan sekaligus yang menjadi provokatornya adalah Chika.


"Mel, lo di panggil kepala sekolah ke ruang BK." Ucap Nathan yang di tugaskan kepala sekolah untuk memanggil Melisa.


"Lo juga Aldo." Imbuh Nathan.


Melisa seolah tau apa yang membuatnya harus menghadap kepala sekolah. Ia mengambil nafas dalam-dalam dan mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang terjadi. Setelah itu ia melangkah dengan segenap kekuatan yang ia kumpulkan.


Lain halnya dengan Aldo. Ia benar-benar tidak tau kenapa tiba-tiba ia dan Melisa di panggil kepala sekolah secara bersamaan.


"Ada apa?" Aldo bertanya kepada Nathan karena jujur ia tidak tau kenapa dirinya dan Melisa dipanggil kepala sekolah.


"Gawat bro. Di depan kantor guru lagi ada demo. Mereka mendesak kepala sekolah agar ngeluarin lo sama Melisa dari sekolah."


"Apa? Memangnya ada masalah apa?" Aldo masih belum bisa menangkap maksud dari ucapan Nathan.


"Mereka bilang Melisa hamil di luar nikah, dan..." Kalimat Nathan menggantung di udara.


"Dan apa?"


"Dan mereka bilang, lo yang sudah menghamili Melisa."


"APA?"


Tentu saja Aldo shock mendengarnya. Ia tak habis pikir, kenapa ada orang yang bisa-bisanya menebar fitnah seperti ini.

__ADS_1


Aldo berlari untuk mengimbangi jarak Melisa yang sudah hampir tiba di depan kantor guru. Ia tidak akan membiarkan Melisa melewati masalah ini sendirian.


Bersambung...


__ADS_2