
Setelah membersihkan diri dan berendam cukup lama, Kevin beranjak ke dapur karena merasa lapar. Padahal belum waktunya makan malam. Mungkin karena seharian ini energinya terkuras untuk bekerja.
Saat di dapur, ia mendapati Amora yang tengah membuat kue.
"Hai kak, ngapain?" Tanya Amora
"Mau bikin sandwich buat ganjal perut." Jawab Kevin sambil terkekeh.
"Oh, kebetulan aku bikin kue, kakak mau?"
"Boleh?"
"Ya boleh lah. Astaga kak Kevin, kenapa jadi canggung begitu sih?"
"Haha, mungkin karena setelah sekian lama kita tidak bertemu." Ucap Kevin sambil mengunyah kue buatan Amora.
"Enak. Kamu pandai masak sepertinya." Puji Kevin yang membuat pipi Amora bersemu merah.
"Ah tidak juga, aku hanya hobi masak."
"Kamu ingat tidak waktu dulu kita adakan sosialisasi tentang pentingnya pendidikan untuk anak. Kita masuk ke kampung pemulung dan mencari anak-anak yang putus sekolah. Saat itu kamu di kejar kucing sampai naik ke atas pohon. Hahaha."
"Ih, kakak. Masih ingat saja. Itu kan sudah lama sekali. Sampai sekarang aku juga masih takut sama kucing. Hahaha." Amora menertawakan dirinya sendiri. Ia tak habis pikir Kevin masih mengingat kejadian memalukan itu.
Tawa keduanya terdengar sampai ruang tengah. Melisa yang terbangun dan hendak mencari Kevin ke kamar terhenti karena mendengar tawa mereka. Melisa sudah berfikiran yang tidak-tidak saat melihat Kevin bercanda selepas itu dengan Amora.
"Kak, sudah pulang?" Tanya Melisa dengan suara serak."
"Suara kamu kenapa sayang? Kevin menjawab pertanyaan Melisa dengan pertanyaan juga.
"Nggak tau." Jawabnya singkat.
"Lapar kak." Imbuhnya lagi.
"Mau kue?" Amora menawarkan kue buatannya kepada Melisa.
"Kamu yang buat ya?"
"He'em. Cobain deh." Menyodorkan sepiring kue buatannya ke depan Melisa
"Emmm, enak. Makasih." Masih dengan suara seraknya.
"Sama-sama. Oh iya Mel, Kak Alan masih di kamar?
"Masih, baru mandi. Tadi kita ketiduran saat ngobrol."
"Sepertinya kalian sangat dekat ya. Sebenarnya aku juga ingin seperti itu. Tapi kau tau sendiri kan bagaimana sikap kak Alan kepadaku." Wajah ceria Amora berubah menjadi murung. Ia menundukkan pandangannya karena tidak ingin memperlihatkan kesedihannya.
"Jangan sedih, dulu sikap kak Alan kepadaku juga seperti itu. Bahkan lebih buruk lagi. Dan lihatlah sekarang, Waktu telah mengubah semuanya. Kak Alan hanya butuh waktu untuk melihat betapa kau menyayanginya."
"Benarkah?" Amora ragu dengan ucapan Melisa. Benarkah kak Alan akan menyayanginya seperti menyayangi Melisa?
__ADS_1
"Kita akan membantumu." Kau gadis baik, kak Alan pasti akan sangat menyayangimu. Ucap Kevin menyemangati Amora.
"Sepertinya kalian sudah sangat akrab." Melisa yang menyadari keakraban Kevin dan Amora mencoba memastikan kebenarannya. Ia tak ingin negatif thinking dulu.
"Amora ini teman lamaku sayang. Dia adik kelasku saat masih SMA."
"Kamu jangan cemburu ya Mel." Canda Amora.
"Haha, tidak lah. Masak iya cemburu sama saudara sendiri." Walau memang rasa cemburu itu ada, Melisa berusaha menutupinya. Asal kedekatan mereka tidak melewati batasannya.
"Uhuk.. uhuk... " Melisa tiba-tiba merasa tenggorokannya tidak nyaman. Suaranya juga semakin serak.
"Kamu sakit?" Kevin menempelkan punggung tangannya di kening Melisa.
"Ya ampun, kamu demam ya?"
"Ngak apa-apa, aku hanya merasa tenggorokanku tidak nyaman. Mungkin karena capek."
"Mungkin kamu radang tenggorokan Mel. Aku ada obat radang, kamu mau? Tawar Amora kepadanya.
"Jangan, Melisa tidak bisa mengkonsumsi sembarang obat. Dia sedang hamil." Tawaran Amora ditolak Kevin dengan sopan.
"Hamil?" Amora shock mendengarnya. Bukan tanpa alasan, sejak dulu memang dia menyukai Kevin. Mendengarnya sudah menikah saja sudah membuat hatinya terluka. Apalagi mendengar istri dari orang yang ia sukai tengah hamil. Tapi ia berusaha tegar dan menyembunyikan perasaannya.
Perbincangan mereka terhenti ketika seseorang memanggil-manggil nama Melisa.
"Melisa..."
"Mel..."
"Astaga, lihatlah kakakmu. Melihatmu tidak ada di kamar saja sudah seheboh itu. Bagaimana jadinya kalau suatu saat kita pindah ke rumah kita sendiri." Cibir Kevin.
"Hehe. Namanya juga bestie. Cemburu bilang bos." Goda Melisa.
"Kau ini, kakak panggil-panggil diam saja. Kau belum meminum vitaminmu." Menyerahkan butiran berbentuk tablet, lalu mengambil gelas kosong dan mengisinya dengan air mineral.
"Ini airnya."Alan menyerahkan segelas air mineral kepada Melisa."
"Thanks kak." Menjawab dengan suara seraknya.
"Suaramu kenapa?"
"Melisa demam, sepertinya dia sedang radang tenggorokan." Di jawab oleh Kevin karena Melisa masih meneguk air minum.
"Tuh kan, kakak bilang juga apa. Ini pasti gara-gara es krim tadi. Kalau sudah begini kamu juga kan yang harus menanggung akibatnya."
"Sudah kak, Melisanya jangan di marahi. Kasihan kan lagi sakit malah dimarahi." Amora melontarkan pembelaan untuk Melisa.
"Maaf sayang. Kakak tidak bermaksud memarahimu. Kakak hanya tidak ingin melihatmu sakit. I just worry. Love u so much." Memeluk Melisa dan mendaratkan kecupan hangat di ujung kepalanya.
"Vin, hubungi dokter. Aku akan membawa Melisa ke kamarnya untuk istirahat." Menggendong tubuh Melisa dan berjalan menaiki tangga.
__ADS_1
"Kakak turunkan aku, aku bisa jalan sendiri." Alan tak menggubris ucapan Melisa dan tetap menggendongnya menuju kamar.
"Mereka manis sekali ya." Ucap Amora dengan suara bergetar, ia sedih karena hubungannya dengan kakak kandungnya itu kurang baik.
"Kau tenang saja. Suatu saat kak Alan juga akan bersikap seperti itu kepadamu. Dia hanya butuh sedikit waktu." Kevin berusaha menghibur Amora.
Setelah setengah jam menunggu, Dokter akhirnya datang dan memeriksa kondisi Melisa.
"Nona Melisa mengalami radang tenggorokan. Mungkin karena makanan atau minuman yang di konsumsi ada pemanis buatan atau kurang steril.
Saya hanya meresepkan antibiotik saja, karena nona Melisa sudah banyak memiliki obat-obatan."
"Apa harus saya minum obat dok, saya sudah terlalu banyak obat." Melisa khawatir jika obat obatan akan berpengaruh buruk untuk janinnya.
"Harus, kalau tidak nanti bisa semakin parah.
Beri jeda dua jam setelah atau sebelum anda meminum obat rutin yang anda konsumsi nona. Karena ini anti biotik, jadi harus dihabiskan meski sudah sembuh.
Juga perbanyak minum air putih.
Aktifkan juga humidifier jika diperlukan."
"Baik dok, terimakasih."
"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi."
"Mari saya antar sampai depan dok."
Kevin mengantar dokter sampai pintu depan, sedangkan Alan masih belum beranjak dari kamar Melisa. Ia masih terlihat begitu khawatir.
Setelah mengantar dokter ke pintu depan dan hendak kembali ke kamar, Kevin tak sengaja berpapasan dengan Amora saat berada di depan pintu kamarnya.
"Kak, Andai aku juga sakit, apa kak Alan juga akan bersikap seperti itu kepadaku."
"Kau ini bicara apa ra. Sudah jangan sedih seperti itu. Senyum dong, mana Amora yang ku kenal? Kevin memegang kedua sudut bibir Amora dan menariknya ke atas hingga membentuk sebuah senyuman.
"Nah, kalau gini kan cantik.
Ucapan Kevin berhasil membuat Amora tersenyum. Orang yang ia sukai memujinya cantik. Tentu saja hatinya saat ini dipenuhi bunga-bunga bermekaran.
"Kalian sedang apa?" Tanya Alan yang melihat Kevin dan Amora berbincang di depan pintu kamar Melisa."
"Tidak kak, aku hanya ingin melihat kondisi Melisa." Jawab Amora begitu antusias karena memiliki kesempatan untuk berbincang dengan kakaknya.
Tapi Alan justru tak menanggapi Amora dan berlalu pergi begitu saja.
Seketika wajah Amora berubah mendung. Terlihat air matanya sudah mulai jatuh tak terbendung.
"Kau lihat sendiri kan? Dia mengabaikanku."
"Sudah jangan di ambil hati." Kevin berusaha menghibur Amora. Sebenarnya ia tak tega melihat Amora di abaikan Alan seperti itu. Tapi ia bisa apa.
__ADS_1
Bersambung...