
Tubuh Maya melemas. Kebusukannya diketahui Kevin. Ia sangat mengenal Kevin, yang sangat membenci penghianatan. Bahkan ayah kandungnya saja tidak ia maafkan. Lalu akan seperti apa nasibnya sekarang?
"Kevin, ini tidak seperti yang kau pikirkan." Maya berusaha membela diri di hadapan orang yang menjadi alasan untuknya berbuat seperti ini.
"Benarkah? Memang kau tau apa yang sedang ku pikirkan?"
"A..aku, aku hanya tidak ingin kehilangan dirimu. Aku tau caraku ini salah. Tapi, tapi ini semua terjadi karena.., " Belum selesai pembelaan yang ia lakukan, Kevin memotong ucapan Maya begitu saja.
"Cukup May, alasan apa itu? Kapan kau kehilangan diriku? Aku selalu menganggapmu sahabat, adik, keluarga, bahkan aku selalu melindungimu dengan nyawaku. Dan lihatlah apa yang kau lakukan? Astaga, aku tidak habis pikir May."
"Aku sudah kehilanganmu sejak kau menikahi gadis itu." Teriak Maya sambil menunjuk Melisa yang diam membisu sejak kedatangan Kevin.
"Apa maksud ucapanmu itu?"
"Aku mencintaimu Kevin! Belasan tahun kita bersama, sejak kecil kita tumbuh dan besar bersama, dan selama itu kau selalu perhatian padaku. Kau memperlakukan diriku dengan istimewa. Kau ada saat aku jatuh dan menangis. Apa kau tidak sadar, perlakuanmu yang seperti itulah yang membuatku jatuh cinta kepadamu. Lalu dengan mudah kau menikahi gadis lain. Apa aku salah karena mencintaimu. Tidak, aku tidak bersalah. Kau yang bersalah Kevin, kau yang mempermainkan hatiku." Maya terduduk dan menangis sejadi jadinya. Baginya, ini sangat tidak adil untuk dirinya.
Kevin berjalan mendekati Maya. Ia menghapus air mata gadis itu dengan tangannya.
"Maafkan aku, aku tidak tau jika sikapku selama ini kau salah artikan. Aku sangat menyayangimu May, aku juga selalu melindungimu. Itu semua ku lakukan karena kau sudah seperti adik kandungku. Maaf jika saat ini kau menderita karena aku. Tapi caramu ini salah May. Tidak seharusnya kau seperti ini." Kevin mencoba memberi pengertian kepada Maya. Entah mengapa amarahnya yang sudah memuncak tiba-tiba luluh karena mendengar alasan yang di berikan Maya. Ia merasa sangat bersalah.
Melisa tak tega melihat Maya yang seperti itu. Ia berjalan mendekati Maya yang posisinya di tepi gedung dan bersebelahan dengan Farhan.
Saat berjalan tib-tiba saja Farhan menarik lengannya secara kasar dan membawanya ke tepian gedung hingga nyaris jatuh kebawah.
"Aaaa... Ayah, lepaskan aku." Teriak Melisa yang sangat ketakutan.
"Mari kita akhiri semua ini. Jika kalian ingin nyawa Melisa selamat, maka kalian harus menuruti petintahku." Farhan semakin mendorong tubuh melisa hingga tubuhnya condong melampaui pagar pembatas atap gedung.
"Baiklah, aku akan berikan semua yang kau inginkan. Katakan apa yang kau inginkan. Tapi jangan kau sakiti Melisa." Alan sangat takut jika Farhan benar-benar nekat.
"Aku ingin kau mencabut tuntutanmu dan menyerahkan perusahaanmu kepadaku. Apa kau sanggup?"
__ADS_1
"Baiklah, akan ku berikan semua yang kau inginkan. Tapi tolong, jauhkan Melisa dari situ. Dia kesakitan karena tubuhnya terhimpit pembatas."
Farhan mengambil lembaran kertas dari sakunya dengan tangan kanan, dan berniat menyerahkan kepada Alan untuk di tandatangani. Sedangkan tangan kirinya memegang lengan Melisa.
Melisa mengambil kesempatan itu untuk meloloskan diri. Ia menggigit tangan Farhan hingga kesakitan, dan secara reflek Farhan melepaskan cengkeraman tangannya itu.
Setelah berhasil lolos, Melisa berlari dan menghamburkan tubuhnya kedalam pelukan Alan.
"Kau tidak apa-apa sayang?" Alan membolak-balikkan tubuh adiknya, memeriksa apakah ada yang terluka.
Kedatangan polisi menbuat Farhan panik. Ia berniat kabur, tapi niatnya itu ia urungkan setelah polisi melepaskan tembakan peringatan.
Polisi berhasil meringkus Farhan tanpa perlawanan. Ia menggiringnya menuju mobil polisi.
"Tangkap perempuan itu juga pak." Alan menunjuk Maya dengan sorot mata penuh amarah.
"Kak, jangan." Melisa berusaha membujuk kakaknya agar memaafkan Maya. Ia merasa sangat bersalah kepadanya. Pasti hatinya sangat hancur dan terluka karena cintanya kepada Kevin tak terbalas.
"Aku tidak akan mengampuni siapapun yang berani menyentuhmu sayang."
***
Bom waktu ditemukan di bawah kursi kerja Alan. Hanya ada sisa waktu satu menit untuk menjinakkannya, Setelah itu bisa dipastikan bom akan meledak jika petugas tidak berhasil menjinakkannya dalam waktu satu menit itu.
Bravo! Setelah berperang melawan waktu, akhirnya mereka berhasil menjinakkan bom itu.
Tidak ada yang terluka dalam insiden ini. Polisi menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan meminta semua orang pergi meninggalkan tempatnya masing-masing. Sofia berusaha menghubungi Alan. Berkali-kali ia menelpon tapi tidak di angkat. Hingga akhirnya batre ponsel miliknya itu lowbat.
***
"Astaga, aku sampai lupa. Bagaimana keadaan Sofia sekarang." Mendadak Alan panik dan memutar arah mobil yang ia kemudikan." Ia mengambil ponselnya lalu mencoba menghubungi Sofia. Kepanikannya bertambah ketika nomor yang ia hubungi tidak aktif.
__ADS_1
"Tenangkanlah dirimu. Polisi memberikan informasi, bom waktu sudah berhasil di jinakkan dan tidak ada korban jiwa. Jadi kau tenang saja, Sofia pasti baik-baik saja. Kevin berusaha menenangkan Alan.
"Aku tidak bisa tenang sebelum melihatnya sendiri dan memastikan keadaannya baik-baik saja."
Mobil yang mereka tumpangi sampai di depan gedung pusat Yong ju Group. Tidak ada siapapun disana kecuali beberapa petugas dari kepolisian.
"Kita kerumah kak Sofi saja kak. Siapa tau dia sudah di rumahnya."
"Melisa benar, kita cari saja dia ke rumahnya." Kevin menuetujui usul Melisa.
"Tidak, aku akan menelpon ibu saja. Jika dia sudah pulang tentu ibu akan memberi tau nanti."
"Ibu?" Kevin dan Melisa saling pandang. Siapa yang ia maksud ibu?
"Iya ibu, aah.. maksudku, ibunya Sofia."
Kak Alan memanggil ibunya kak Sofi dengan sebutan ibu? Sudah seakrab itukah mereka.
Cukup lama Alan berbincang dengan ibunya Sofia lewat telepon. Entah apa saja yang mereka bicarakan.
Setelah mengakhiri panggilan, Alan setengah berlari menghampiri Melisa dan Kevin yang menunggu di dalam mobil.
"Sofia tidak ada di rumahnya."
Ucapan yang di lontarkan Alan itu membuat Melisa dan Kevin ikut panik. Dimana dia sekarang? Apakah dia baik baik saja? Apakah Farhan melakukan sesuatu yang buruk padanya?
"Kita cari dulu sekitar sini. Kalau tidak ketemu juga, kita lapor polisi." Usul Kevin.
Beberapa saat kemudian, mobil yang mereka tumpangi berhenti di pinggiran jalan, tepat di samping pedagang kaki lima yang sedang berjualan mie ayam. Mereka berhenti karena melihat sosok Sofia yang sedari tadi di cari-cari dan membuat semua orang khawatir.
"Hei apa yang kau lakukan disini? Semua orang panik dan mengkhawatirkanmu. Kau malah asik makan disini ternyata. Ponselmu juga tidak bisa di hubungi." Alan jengkel sekaligus merasa lega karena Sofia baik-baik saja.
__ADS_1
"Hehehe, maaf. Tadi aku lapar pak. Jadi aku mampir kesini dulu."
Bersambung...