
Sakura membuka mata perlahan, disebelahnya sudah ada Hinata dengan wajah khawatir.
"Sakura, syukurlah," ucap Hinata tersenyum senang.
"Aku kenapa? Dan ini dimana?"
"Kau ada di barat kota konoha, di rumah ini aku akan tinggal bersama mu, tuan uchiha menyuruhku untuk menjaga mu, Sakura."
Sakura memejamkan matanya, mengingat kejadian mengerikan itu.
"Dia sudah membunuh Kiba, Hinata. Aku takut, aku takut jika kau juga akan dibunuh oleh dia," ucap Sakura panik, sekarang hanya Hinata yang selalu ada. Ia tidak bisa membiarkan sahabatnya terluka karna dirinya.
"Kau tidak perlu khawatir Sakura, Hinata sudah menjadi milikku, dan Sasuke tidak akan berani mencelakainya," ucap seorang lelaki berambut pirang dari balik pintu.
"Hinata, siapa dia?" tanya Sakura.
"Perkenalkan, aku Uzumaki Naruto, tunangan Hinata," jawab Naruto.
Sakura terkejut, ia memperlihatkan wajah bingungnya.
"Kisahku sekarang sama sepertimu Sakura." Hinata mengusap rambut Sakura lembut.
"Sebentar lagi aku akan menikahi nya karna dia sedang mengandung anak ku," ucap Naruto sembari mengusap perut rata Hinata.
Saat itu juga Sakura ingin membenturkan kepala Naruto ke tembok tapi Hinata memberi isyarat untuk tetap tenang.
"Sakura, kau harus tenang, ini bukan kemauan ku tapi kami-sama tau apa yang terbaik untukku."
Gadis berambut gulali itu hanya mengepalkan tangannya, Hinata gadis yang baik kenapa Kami-sama mempertemukannya dengan pria rubah?
"Oiya, Sasuke akan mengunjungi mu seminggu sekali," ucap Naruto.
Sakura hanya mengangguk.
"Serahkan dirimu pada Sasuke untuk hari ini saja," ucap Naruto lagi.
"Kenapa aku harus menyerahkan diri pada si kejam itu?!"
"Karna dia sekarang sedang ber ulang tahun, alangkah baiknya seorang istri memberikan hal berharga itu."
"Naruto-kun, jangan menyarankan hal itu, Sakura aku akan mengantarkan mu membeli hadiah, jangan pikirkan saran dari Naruto-kun," ucap Hinata usai memukul Naruto.
"Sayang, kau sedang hamil jadi aku tidak mau kau melakukan hal melelahkan." Naruto memeluk Hinata dari belakang, Sakura hanya memutar bola mata malas, sekarang ia harus melihat ke uwuan orang lain sedangkan dirinya dalam cengkraman maut.
__ADS_1
"Apa yang dikatakan tunanganmu memang benar, mungkin memang itu yang tuan Uchiha inginkan, dia hanya menyukai tubuhku kan?"
"Omong kosong!" batin Naruto.
"Panggil dia dengan namanya, kalian bukanlah budak yang mengharuskan memanggilnya tuan, kalian sudah menjadi pasangan," ucap Naruto.
"Tapi—" Belum Sempat selesai bicara, Naruto sudah lebih dulu memotongnya.
"Jangan berdebat denganku Sakura, turuti saja perkataan ku jika kau mau membuat Sasuke senang."
...🌸...
Suara dentuman musik terdengar begitu jelas, pesta untuk Sasuke begitu megah, mereka seperti tidak memiliki masalah.
"Sasuke ini hadiahku." Karin menyerahkan kotak yang dibalut dengan kertas coklat cantik.
Sasuke memeluk Istri pertamanya setelah menerima hadiah dari Karin.
"Bagus," puji nya sembari melihat emblem emas yang ada didalam kotak itu.
"Aku senang jika kau menyukainya," kata Karin tersenyum senang.
"Sasuke mari kita minum," ajak Itachi yang disetujui oleh Sasuke, dia meninggalkan Karin dan bergabung ke meja yang sudah ada beberapa uchiha yang tengah mabuk.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang Sasuke? Keluarga Inuzuka menuntut atas kematian Kiba," ucap Rin yang duduk disebelah Obito, lelaki itu sudah mabuk duluan.
"Nyawa tidak bisa di bayar, Sasuke," ucap Fugaku, diam-diam Fugaku menaruh obat perangsang diberi Itachi pada minuman Sasuke saat lelaki itu tengah lengah.
Izumi yang melihat Fugaku melakukan hal itu, ia langsung meluncurkan gelas kacanya, alhasil minuman itu tumpah dan mengenai jas Sasuke, kebetulan jaraknya dengan Sasuke hanya terhalang oleh Itachi, Itachi menatap garang kearah calon Istrinya.
"Ma-maaf, aku tidak sengaja," ucap Izumi.
"Tidak apa, ini bisa dibersihkan," ucap Sasuke.
"Apa yang kau lakukan?!" bisik Itachi penuh tekanan.
"Itu akan berakibat buruk, Itachi." Itachi langsung menarik Izumi pergi menjauh dari tempat itu.
"Kenapa dengan wajah kalian? Kusut sekali." Sasuke mengambil tissu lalu mengelap jas nya.
"Aa tidak ada," ucap Rin setelah itu kembali meneguk minumannya.
Sasuke yang tidak menyadari rencana busuk clan nya hanya diam dan memikirkan tentang kejadian apa yang akan dia alami selanjutnya.
__ADS_1
...🌸...
Hinata dan Sakura kini tengah duduk diatap sembari menatap langit yang penuh dengan bintang, terkadang mereka tertawa kecil.
"Hinata, apa aku harus menyerahkan diri?" tanya Sakura yang masih bimbang.
"Jika kamu menyukainya serahkan saja, tapi kalau tidak aku sarankan jangan, aku akan menemanimu memilih barang untuk tuan Uchiha," ucap Hinata menyerahkan handphone nya, " Untuk sekarang kita tidak bisa keluar seenaknya, maka dari itu pakai handphone ku untuk membeli sesuatu."
Sakura menerima handphone Hinata, " Lalu sejak kapan kau dan tuan Uzumaki ber hubungan?"
Hinata diam sejenak, "Sejak tuan Uchiha membawa mu pergi dari rumahku, saat itu dia melakukan hal itu padaku, tapi tidak apa Sakura, dia mau bertanggung jawab walaupun kak Neji masih belum menerima kenyataan."
"Aku bakal bunuh dia kalo si kuning jabrik itu nyakitinmu, Hinata."
"Ya, aku juga akan menghajar si kelam itu jika dia tidak kunjung memberimu kebahagiaan."
Mereke berdua pun tertawa lalu melihat barang-barang yang ada di toko online, begitu banyak pilihan tapi Sakura tidak bisa memilih.
"Sakura, lihat ini, Lingerie yang bagus," ucap Hinata sembari menunjuk Lingerie seksi berwarna hitam, Sakura bergidik melihat itu.
"Aku akan memberikan ini ke Uchiha itu? Ayolah Hinata dia laki-laki."
"Bukan dia tapi untuk mu," koreksi Hinata.
"Apa kau gila?" tanya Sakura tidak percaya.
"Tidak, ini sangat bagus, aku yakin suatu saat nanti kamu akan mencari barang ini untuk menyenangkan suami mu itu." Dari situ Sakura beranggapan bahwa Naruto sudah mengotori otak sahabatnya.
"Tidak, sampai kapan pun aku tak mau memakai benda jahanam itu."
Hinata tertawa kecil melihat tingkah Sakura, kemudian mereka kembali memilih barang yang pantas untuk Sasuke.
"Jam ini bagus," kata Sakura.
"Ya, model nya bagus, ayo pesan," ucap Hinata semangat.
"Harganya...aku tidak punya uang."
"Aku punya, kau bisa meminjamnya dulu," ucap Hinata tersenyum manis.
Sakura ikut tersenyum melihat kebaikan dari Hinata, ia lalu memesan jam itu.
"Aku harap dia menyukainya."
__ADS_1
Clek
"Apa yang aku suka?" ucap seseorang tiba-tiba bersamaan dengan pintu atap terbuka.