After 17

After 17
47


__ADS_3

Pagi harinya Sarada sudah siap dengan pakaian serba hitam, hari ini adalah hari yang ia tunggu-tunggu untuk membalas dendam pada si kejam Indra.


"Sarada, apa kamu yakin nak?" tanya Sakura khawatir.


Sarada tersenyum penuh arti, "Sekali ini saja ma, setelah ini aku tidak akan memegang benda-benda ini," ujar Sarada menunjukkan pisau lipat dan alat lainnya.


Sakura memeluk Sarada, percuma ia menghentikan putrinya jika Sarada sudah memegang janji Hara dulu.


"Sarada, kita berangkat, Shuji dan Arius sudah menunggu," ajak Sasuke, Sarada mengangguk, ia mencium pipi Sakura sebelum pergi.


"Pastikan dia selamat Sasuke-kun," pinta Sakura.


"Tanpa kau minta pun aku akan memastikan darah dagingku selamat."


...🌸...


Markas Indra sudah dikepung, sungguh mengenaskan Sarada harus melihat pemandangan mayat wanita yang bergelimpangan dimana-mana.


"Dia itu binatang," ucap Sarada kesal, ia menendang pintu markas dan melihat Indra tengah meneguk segelas anggur.


Ini adalah kesempatannya, Sarada menembak kedua tangan dan kaki Indra sehingga orang itu tak dapat melarikan diri, Sasuke tersenyum puas Sarada mampu melakukannya tanpa campur tangan Sasuke.


Sarada membaringkan Indra di meja yang sangat luas, ia memaku telapak tangan serta kaki Indra sehingga pria itu meringis kesakitan.


"Ini adalah pembalasanku atas penderitaan mama, papa Gaara dan kakakku!" teriak Sarada.

__ADS_1


Shuji dan Arius menatap angkuh Indra, mereka menghidupkan gergaji mesin dan memotong kedua kaki Indra.


"Akh!" erang Indra.


Setelah itu, Boruto dan Himawari, bocah kecil itu juga menyimpan dendam atas kematian Hara, mereka berdua hanya menancapkan dua pisau di perut Indra lalu memutarnya sehingga benda itu membuat lubang.


"Berhenti!" teriak Indra yang sangat kesakitan.


"Ini belum seberapa, melakukan pecehan saja kau bisa kenapa menahan rasa sakit seperti ini tidak bisa? Dasar lemah!" ejek Sasuke puas, ia mengizinkan putrinya untuk melakukan apapun kepada Indra.


Setelah puas menyiksa Indra, Sarada mengambil gergaji mesin dan memotong leher Indra tanpa ampun, yang ada dipikirannya adalah darah meluncur deras dari pelipis Hara waktu itu.


"Rasakan hukumanmu! Rasakan akibat karna sudah meremehkan uchiha!" ujar Sarada setelah kepala  Indra putus dari badan, suara tepuk tangan begitu menggema Sarada adalah gadis pertama yang mampu melakukan hal sekeji ini.


"Sangat puas, setidaknya orang seperti dia sudah berkurang satu, papa panggil petugas kepolisian dan tim medis untuk mengurus mayat-mayat itu," ucap Sarada yang langsung dikabulkan.


Tak lama kemudian suara sirine polisi mulai bersaut-sautan bersamaan dengan tim medis.


"Sekali lagi terima kasih nona Sarada, orang ini memang buronan dan juga kartu pelecehannya sudah sampai batas waktu," ucap salah satu polisi.


"Sama-sama pak, Indra sudah membuat saya kehilangan orang yang saya cintai," balas Sarada, ia sudah menepati janjinya pada Hara.


"Kakak, aku berhasil menepati janjiku," batin Sarada lalu menatap langit, ia berharap Hara melihatnya saat ini.


...🌸...

__ADS_1


Setelah hari kelulusan selesai. Sarada, Sasuke dan Sakura mengadakan rapat pribadi. Ini sudah lebih dari empat bulan sejak kejadian itu, hidup mereka menjadi lebih aman.


"Apa papa tidak mau memberikan perusahaan padaku?" tanya Sarada.


"Tidak, kau harus menemukan pasanganmu terlebih dahulu baru perusahaan itu menjadi milikmu Sarada," balas Sasuke.


"Kenapa terburu-buru, putriku baru berumur 19 tahun, begini saja, Sarada kamu mau kuliah dimana?" tanya Sakura lembut.


"Aku akan kuliah di Suna, ma, aku sudah lama tidak bersama Sumire dan Chocho." Seketika Sakura terkejut.


"Mama tidak mengizinkanmu, kenapa tidak diKonoha saja? Kalau kau jauh dari mama, mama tidak akan setuju," tolak Sakura cemberut.


"Papa...," rengek Sarada memandang Sasuke memelas.


"Begini saja, Sakura kita akan pindah ke Suna, biarkan Sarada memilih jalan hidupnya," ucap Sasuke membuat keputusan.


"Tapi Sasuke-kun, perusahaanmu?"


"Arius bisa mengurusnya, mulai minggu depan kita hidup sederhana di Suna bagaimana?" tanya Sasuke mendapat respon baik dari Sarada.


"Yes!"


"Baiklah kalau itu keputusanmu," pasrah Sakura setidaknya ia bisa melihat senyum lebar Sarada.


"Hara, mama kangen kamu nak," batin Sakura tersenyum getir.

__ADS_1


__ADS_2