After 17

After 17
22


__ADS_3

Ini adalah hari terakhir mereka ada di desa itu, maka dari itu Sasuke dan Sakura sedang menunggu peluncuran petasan, sembari menunggu Sasuke membeli dua kopi untuk menghangatkan badan.


"Perasaan," ucap Sasuke menatap Sakura.


"Maksudnya?" tanya Sakura pura-pura tidak mengerti.


"Bagaimana perasaan mu pada ku? Kita sudah bersama hampir satu bulan, mustahil jika kau tidak memiliki perasaan apapun padaku," selidik Sasuke.


"Aku tidak memiliki perasaan apapun padamu," bohong Sakura, ia membuang muka, menghindari kontak mata dengan suaminya.


Sasuke memegang dagu Sakura lalu menariknya pelan, agar wajah gadis itu bisa menatap kedua matanya.


"Coba katakan sekali lagi," titah Sasuke, sebenarnya ia sudah tau jika Sakura memiliki rasa padanya.


"Aku tidak suka dengan mu!"


"Benarkah? Ayolah, kenapa kau itu seperti gadis tsundere." Sasuke mendekatkan wajahnya.


"Kalau aku menjawab ya atau tidak apa akibatnya?" tanya Sakura yang terdengar seperti sedang menantang.


Sasuke mengeluarkan cincin berbentuk dua ular kembar, " Aku tidak perlu menjawab lagi."


Demi apapun, mulut Sakura terbuka sedikit, cincin seperti itu hanya bisa ditemukan di sunagakure, tempat yang paling jarang dikunjungi karna tingkat kejahatan yang tinggi.


"Aku pernah memberikan ini pada Karin, tapi dia tidak mau, karna ya....bentuknya yang menyeramkan," ucap Sasuke terkekeh. Sakura tau ada rasa kecewa terbesit dibenak lelaki itu.


"Aku—ya....menyukaimu, sedikit," jawab Sakura disertai kedua pipi yang mulai merona.


Sasuke tersenyum, ia mengambil tangan kiri Sakura lalu memasang cincin itu di jari mungilnya.


"Mulai sekarang, Sakura is Mine!" tegas Sasuke pada para pengunjung yang menatap mereka berdua sedari tadi.

__ADS_1


Sakura juga baru sadar bahwa ada banyak orang disekeliling mereka, iya-iya dunia milik kalian berdua, yang lain ngontrak.


Sasuke mengeluarkan dua buah komik yang telah ia beli ditoko Monomo beberapa hari lalu, Sakura yang mendapati itu langsung terkejut.


"Komik ini...bagaimana bisa?" tanya Sakura heran sambil melihat dalam komik itu, original dan ada tanda tangan komikusnya juga.


"Apa yang tak bisa aku lakukan untuk membuatmu tersenyum?" goda Sasuke yang mendapat senggolan kecil dari Sakura.


"Terima kasih, aku sangat senang," ucapnya mengecup pelan pipi Sasuke.


Para pengunjung yang mengetaui identitas Sasuke langsung lari dari tempat itu setelah mendapat lirikan tajam yang mengisyaratkan mereka untuk pergi, tak lama kemudian suara petasan terdengar, Sakura maupun Sasuke menatap kearah langit, menikmati keindahan petasan itu.


...🌸...


Siang harinya, Mereka sudah sampai di share house, Hinata memeluk sahabatnya erat.


"Lama sekali sih," keluh Hinata yang sudah terlanjur kangen pada Sakura.


"Cincin itu...." ucap Naruto pelan.


"Ya, Cincin yang pernah ditolak Karin, Sakura menghargai pemberianku walaupun bentuknya menyeramkan," jawab Sasuke cepat, pandangannya tidak lepas dari Sakura.


"Hm...Gajiku?" tagih Naruto langsung, mood Sasuke rusak seketika, ia mengeluarkan amplop coklat tebal dan menyerahkan kepada teman iblisnya itu.


"Mantab, aku bisa membeli perlengkapan bayi," ucap Naruto.


Ngomong-ngomong soal bayi, Sasuke semakin menginginkan itu, ia berharap Sakura cepat-cepat hamil seperti Hinata.


"Itu berarti aku harus sering melakukan hal itu padanya," batin Sasuke yang mulai menyusun rencana.


"Sasuke, sekarang pulang kekediamanmu, kemarin bodyguard kepercayaan kakekmu sudah mengobrak-abrik share house, untung saja aku datang tepat waktu, kalau tidak mereka pasti sudah mencelakai kekasihku," ucap Naruto dengan nada pelan agar Sakura tidak dengar, ia juga sudah memperingati Hinata agar tutup mulut dihadapan Sakura.

__ADS_1


Sasuke tau, ini sebuah peringatan, jika kakeknya sudah meluncurkan para bodyguard kepercayaannya.


...🌸...


Sesampainya di kediaman Uchiha, Sasuke mendapatkan banyak teguran dari keluarganya, walaupun begitu ia tetap menulikan pendengarannya.


"Kenapa kau tidak mau makan hm?" tanya Sasuke yang menahan amarahnya.


"Aku mau kau yang menyuapiku," jawab Karin yang wajahnya sudah pucat.


"Aku sibuk Karin, tidak bisa kau makan sendiri? Kemana kedua tanganmu hm?"


"Kau selalu sibuk dengan gadis itu!" marah Karin.


"Aku hanya menemuinya seminggu sekali dan kemarin adalah kesempatanku untuk memiliki anak!" marah Sasuke balik.


"Kenapa kita tidak adopsi anak saja," saran Karin yang tentu saja akan ditolak mentah-mentah oleh suaminya.


"Mereka bukan darah dagingku," jawab Sasuke pelan tapi tegas.


Seorang pelayan masuk dan menyerahkan makanan kepada Sasuke, lelaki itu menghembuskan nafas pelan, ia akhirnya menyuapi Karin agar wanita itu tidak meninggal.


Padahal bagus jika wanita ini dihabisi, maka rahasia keluarganya tidak akan terbongkar, sebuah kebodohan bagi Sasuke yang dulu mencintai Karin dan melarang siapapun untuk membunuhnya, dan sekarang peringatan itu sudah membuatnya gila.


Mikoto sudah menyukai Karin dan menganggapnya seperti putrinya sendiri.


"Setelah ini Istirahat," ucap Sasuke setelah selesai menyuapi Karin dan memberinya obat.


"Terima kasih, Sasuke-kun. Umm... Ini mungkin sedikit mendadak tapi aku mau memakai cincin yang kau berikan dulu."


"Aku sudah memberikannya pada Sakura, dan itu sudah tidak ada stoknya lagi," ucap Sasuke sebelum pergi.

__ADS_1


Karin kembali menggertakkan giginya pertanda dia kesal, "Sakura, kau tidak jauh dari seorang perebut!"


__ADS_2