After 17

After 17
38


__ADS_3

Malam harinya, Hinata dan Naruto berkunjung ke Share House, usai mengerjakan sesuatu yang penting.


"Ibu," panggil Himawari yang sudah menunggu didepan pintu rumah.


"Hima, kenapa ada diluar nanti masuk angin loh," peringat Hinata.


"Hima kangen banget sama ibu jadi Hima menunggu disini."


"Hanya ibu nih? Ayah tidak? Begitu," ucap Naruto pura-pura merajuk.


"Ayah jangan seperti gadis saja, ayo masuk, kakak Sarada sudah masakin makanan banyak banget," ajak Himawari.


Hinata merasa asing dengan nama itu begitu juga dengan Naruto, apa ada pendatang baru? Batin mereka.


"Paman Naruto, bibi Hinata," sapa Shuji dan Arius, Hara hanya diam sembari menatap Sarada yang tengah menata piring dimeja makan.


"Bibi Hinata, lama tidak bertemu," sapa Zora.


Naruto yang tak mendapatkan sapaan dari Hara, ia langsung menghampiri cowok itu dan menjitak kepalanya pelan.


"Aduh," rintih Hara.


"Bagus, ada tamu yang datang kau tidak menyapanya hmmm?" sindir Naruto, Hara meneguk ludah pelan, selain Sasuke, Hara juga takut terhadap tatapan Naruto.


"Maafkan aku paman, Selamat datang," sambut Hara walau sedikit terlambat.


Hinata menghampiri gadis yang memakai pakaian pelayan, "Aku akan membantumu."


"Tidak perlu nyonya, saya bisa," tolak Sarada sembari menoleh.

__ADS_1


Hinata terpaku melihat wajah Sarada, tiba-tiba ia teringat Sakura karna wajah Sarada sangat mirip dengan temannya itu tapi ada campuran Sasuke, mata serta rambutnya. Hinata tidak akan pernah lupa soal itu.


"Nyonya, Aku permisi, aku ingin mengambil minuman dulu," pamit Sarada lalu pergi ke dapur untuk mengambil teh hangat.


Naruto menghampiri Hinata, ia menyuruh istrinya untuk duduk.


"Naruto-kun....Sakura..." bisiknya pelan.


"Kenapa?"


"Anak itu mirip dengan Sakura," bisik Hinata sedih.


"Kau pasti sedang bermimpi, anak Sakura hanya Hara dan sejak waktu itu kita belum mendengar kabar tentang Sakura lagi." Hinata mengangguk, mungkin ia hanya berilusi.


"Aku akan mengambil minum," ucap Hara beranjak dari tempat duduknya.


"Kali ini tidak ada acara minum-minum, kalian besok masih sekolah, ingat sekali kalian minum, kalian tidak akan bangun sampai besok siang, walaupun kalian Uchiha, belum saatnya kalian seperti pendahulu." Naruto masih teringat saat ketiga Uchiha itu tidak bangun setelah minum.


"Kalau begitu aku akan membantu Sarada saja," ucap Hara lalu melangkah menuju dapur.


Sesampainya di dapur, Hara berkacak pinggang melihat Sarada berjinjit untuk mengambil gula di wadah cadangan.


"Perlu bantuan pendek?" ejek Hara membuat Sarada menoleh kesal.


"Tidak perlu!" tolak Sarada ketus kemudian kembali berjinjit.


Merasa kasihan, Hara mendekat dan mengambilkan gula itu.


"Nih, kalau pendek ya pendek aja," ejek Hara lagi.

__ADS_1


Sarada mengambil roti kering lalu menyumpalkan kemulut Hara, Hara yang mendapat perlakuan itu hanya terkekeh.


"Sarada, sepertinya aku tertarik padamu," ucap Hara tanpa dosa.


"kau lama-lama ku tendang juga, nyeselin banget, berhenti menggodaku!"


"Orang bodoh sepertimu memang pantas di goda."


Karna tak mau berdebat, ia melangkah pergi menuju meja makan  sembari membawa nampan.


"Papa pasti akan marah kalau dia tau aku menyukai orang bawah, tapi siapa peduli, dia bisa mengaturku tapi tidak dengan kisah cintaku." Hara mengulas senyum kecil lalu menyusul Sarada ke meja makan.


Mereka menghabiskan malam dengan menikmati makanan enak bersama, Sarada kembali mengingat Sakura, apakah mamanya itu sudah makan atau malah tambah disiksa? Memikirkannya saja sudah membuat Sarada sedih.


"Mama, aku akan terus mencari keberadaan papa, agar dia bisa menyelamatkanmu."


...🌸...


Karin duduk di meja rias dengan senyum mengembang.


"Sakura-Sakura, kau adalah wanita yang bodoh, kau menyerahkan kebahagiaanmu demi janjimu padaku," ucap Karin. Tanpa dia sadar Sasuke mendengar semua ucapannya.


"Janji apa maksudmu," ucap Sasuke, Karin terperanjat sontak berdiri dari tempat duduknya.


"Sasuke-kun," panggil Karin gemetar.


"Jawab aku! Atau aku akan menghabisi Hara tepat dihadapanmu," ancam Sasuke tentu saja Karin tidak akan membiarkan itu terjadi. Meskipun Karin membenci Sakura, ia sangat menyayangi Hara seperti putranya sendiri.


"Aku dan Sakura membuat janji, jika dia sudah melahirkan anak laki-laki, dia akan meninggalkanmu, alasan yang dia berikan kepadamu semuanya bohong," ucap Karin, "Aku mohon jangan sakiti Hara lagi."

__ADS_1


Sasuke mencekik leher Karin dengan erat, "Gara-gara dirimu aku kehilangan Sakura! Aku tidak akan mengampuni mu untuk kedua kalinya, persetan dengan nyawa Kakek Madara yang aku ingin kan sekarang hanyalah Sakura kembali padaku!"


__ADS_2