After 17

After 17
24


__ADS_3

Suasana Share house di pagi hari tampak sibuk, Hinata berlari kecil menuju kamar mandi dengan kotak tisunya.


"Sakura, yaampun, kamu kenapa ishh..." ucap Hinata khawatir karna dari tadi Sakura muntah setelah sarapan.


"Aku tidak tau, mungkin masuk angin, hueek," jawab Sakura sambil mengambil tisu dari kotak yang dibawakan oleh Hinata.


"Ada apa dengan Sakura?" tanya Naruto yang bersiap pergi kekantor.


"Sepertinya Sakura sakit, Naruto-kun," lapor Hinata pada Naruto.


"Aku akan memanggil dokter."


"Tidak usah, tuan Naruto, mungkin aku hanya salah makan, aku akan kembali pulih jika sudah beristirahat," ucap Sakura yang sudah selesai mengeluarkan isi perutnya.


"Kau yakin?" tanya Naruto memastikan.


"Ya, aku akan istirahat sekarang," pamit Sakura setelah itu melangkah menuju kamarnya.


"Naruto-kun, kau akan bekerja sekarang? Bagaimana jika tuan Sasuke melukaimu nanti," cemas Hinata, karna ia tau mereka lah penyebab kerenggangan di hubungan Sakura dan Sasuke.


Naruto mengelus puncak kepala Hinata, "Istriku ini semakin cerewet saja, aku akan kembali dengan selamat, jika tidak kau boleh mencari pria lain," ucap Naruto menenangkan Hinata.


"Tidak-tidak, bagaimana mungkin aku mencari pria lain jika aku masih mengharapkanmu?"


Naruto tertawa, ia memeluk Hinata sebentar lalu pamit pergi.


...🌸...


Naruto masuk keruangan Sasuke, disana sudah ada pria itu yang sibuk dengan laptopnya.


"Heh, ternyata benar kau memang marah padaku," ucap Naruto, mendengar hal itu Sasuke menghentikan kegiatannya.


"Pergi," usir Sasuke tanpa menoleh kearah Naruto.


Naruto menghela nafas pelan, ia mengeluarkan surat dari saku nya, lalu menyerahkan ke Sasuke.


"Ini surat pengunduran diri dari perusahaan," ucap Naruto santai.

__ADS_1


Sasuke menatap tajam kearah Naruto, "Pergilah, aku juga tidak butuh pekerja tak becus sepertimu."


Naruto tersenyum penuh arti, "Tidak becus katamu? Aku memimpin perusahaan ini ketika kau sedang berlibur, jika aku tidak becus, perusahaan uchiha sudah hancur dari dulu," balas Naruto telak.


"Pergi!" usir Sasuke dengan nada tinggi.


"Satu lagi, Tidak semua wanita bisa kau katakan *****, kau mengatakan dia sebagai wanita polos dan sekarang bagaimana bisa kau mengatakan hal kotor itu," ucap Naruto lagi, ia tidak peduli Sasuke sudah mengusirnya berulang kali, dia hanya kasihan pada Sakura, Naruto yang tak sengaja mendengar ucapan Sasuke kemarin merasa sakit hati padahal ia laki-laki.


"Jangan bicara sok bijak bodoh," cibir Sasuke.


"Jika kau tidak segera menemuinya, akan aku pastikan kau kehilangan Sakura dalam jangka waktu dekat," ucap Naruto, lalu melangkahkan kaki keluar ruangan, lega rasanya bisa memberi pencerahan pada si uchiha itu.


"Aku harap dia cepat menyadari kesalahan dan berlutut di hadapan Sakura." Naruto masuk kedalam mobil lalu melajukannya menuju Share house, ia tidak ingin antek-antek Uchiha membuat kerusakan lagi.


...🌸...


"Aku akan memanggil dokter, lihatlah dirimu, kau kehabisan tenaga sehabis muntah tadi," ucap Hinata lemah.


Sakura menggeleng, "Tidak, aku tidak mau, Hinata aku hanya kelelahan."


Sakura tak tega melihat sahabatnya seperti ini, "Begini saja, aku akan kedokter besok, dan kau pergi menemui calon mertua." Ya, Hinata dan Naruto menikah secara diam-diam, tapi sekarang Naruto dan Hinata memantabkan hati untuk meminta restu, pernikahan resmi akan mereka adakan bila restu kedua pihak sudah ada.


Wanita bersurai indigo itu mengusap air matanya dengan punggung tangan, "Sendirian? Tidak! Itu beresiko."


"Bagaimana kalau aku ke dokter bersama Gaara?"


"Gaara, teman dari suna?"


"Ya, dia ada di Konoha sekarang, pelatihan dokter," bisik Sakura pelan.


"Oke, kalau begitu aku tidak akan cemas, dia lelaki yang baik serta aku yakin dia juga akan menghajar siapa saja yang mau menyakiti mu," ucap Hinata antusias.


Sakura menggelengkan kepala heran, "Aa... Kau sudah minum susu ibu hamil?" tanya Sakura.


"Aku sudah meminumnya tadi, Naruto-kun yang membuatnya."


"Laki-laki seperti dia juga bisa romantis," cibir Sakura.

__ADS_1


"Jangan seperti itu, tuan Sasuke juga menjadi romantis jika berada didekatmu." Mendengar nama Sasuke, senyum Sakura memudar mengingat perkataan Sasuke yang menyakitkan.


"Stop sebut dia, Hinata sekarang kau perlu istirahat, kau sudah menjagaku dari tadi," perintah Sakura.


"Kau yakin?"


"Ya."


"Baiklah," ucap Hinata lalu bangkit, kemudian keluar dari kamar Sakura setelah menutup pintu.


Saat Sakura hendak memejamkan mata, tiba-tiba ia menginginkan sesuatu.


"Tunggu, kenapa aku malah ingin melihara ikan? Kami-sama cobaan apa lagi ini," ucap Sakura frustasi


...🌸...


Karin melangkah memasuki rumah sakit, ia ingin menjenguk seseorang, dengan membawa buah-buahan ia masuk kedalam dandelion room.


Terdapat lelaki berambut putih sedang duduk, seolah-olah menantikan kedatangan Karin.


"Akhirnya kau datang juga," ucap lelaki itu.


"Aku pasti menjengukmu Suigetsu, kerjamu sangat bagus, sekarang mereka bertengkar hebat, saat aku menanyakan kabar Sakura, Sasuke tampak malas menjawab." Karin bercerita setelah meletakkan buah-buahan dimeja.


"Apapun untuk kesayanganku."


"Berhenti menyebutku seperti itu, aku sudah memiliki suami," Karin menatap sendu kearah lelaki itu.


"Milik siapapun kamu, kamu akan tetap jadi kesayanganku, begitupun seterusnya karna sebelum uchiha itu datang kau memang milikku Karin."


Karin tidak menyangka Suigetsu begitu tulus padanya.


"Aku punya tugas satu lagi," kata Karin.


"Katakan," jawab Suigetsu.


"Aku menginginkan cincin berbentuk ular kembar yang dipakai oleh Sakura."

__ADS_1


__ADS_2