
Sarada berjalan melewati lorong bersama dua temannya, jujur ia kagum. Sekolah ini memang pantas disebut elite, lihat saja cara berpakaian dan cara bicaranya beda dari orang kasta bawah.
"Sar, Mitsuki katanya juga kesini loh," ucap Sumire setelah melihat handphone nya.
Sarada membalikkan badannya, "Serius?"
"Iya, katanya sih nggak adil kalo cuman kita doang yang nikmatin," ucap Sumire lagi.
Tiba-tiba, seorang cewek berambut pirang menyenggolnya hingga Sarada hampir tersungkur.
"Heh! Dimana matamu?!" teriak Sarada kesal.
"Ini, orang cantik sepertiku itu sempurna," ucapnya dengan nada sombong.
"Kyaa, Hara," panggil gadis itu.
Hara yang mendapat panggilan segera mendekat, "Kenapa, Zora?"
"Ih, cewek miskin ini nyenggol aku tadi,"adunya sok imut.
"Anjim, jelas tadi kau yang nabrak sahabat ku," ucap Chocho yang mulai naik darah.
Sarada diam, dilihat dari ekspresi Hara, cowok itu tidak akan percaya dengan penuturannya.
"Sebuah keberuntungan bagimu dan kawan-kawanmu masuk kesekolah ini! Jadi jaga sikap jangan sampai aku harus turun tangan untuk menghukum mu!" bentak Hara, Sarada tidak takut dibuatnya , ia sudah biasa mendengar suara bentakan.
"Aku juga tidak sudi tinggal di kota penjahat jika aku tak punya misi," balas Sarada sebelum pergi.
Hara menatap punggung gadis itu, ia baru sadar bahwa ciri-ciri Sarada sangat mirip dengan papanya, mulai dari rambut dan matanya.
"Hanya kebetulan," batin Hara.
__ADS_1
...🌸...
Setelah kelas usai Sarada duduk ditaman sembari berpikir cara mendapatkan uang agar Sakura tidak perlu lagi melayani Indra dan clannya.
Pandangan gadis itu tertuju pada sebuah kertas yang menabrak kakinya, diambilnya kertas itu dan membacanya.
"Pembantu? Gaji lima puluh juta sebulan? What? Share house," ucap Sarada, ia segera mengambil handphone dan memberitaukan pada teman-temannya yang sekarang sedang ada di kos-kosan.
Sarada bergegas menuju Share House, gaji sebesar itu mana mungkin tidak ada orang yang tergiur.
"Permisi." Sarada menekan tombol bel berulang kali, rumah bak istana itu memiliki taman yang sangat indah.
Ckek.
Pintu terbuka,menampilkan Hara dengan pakaian hitamnya.
"Hah, kenapa kamu lagi sih," umpat Sarada setelah melihat wajah dingin Hara.
"Aku pemilik bangunan ini, mau apa kau kemari?" tanya Hara saat ia melihat kertas yang Shuji sebar dua hari lalu.
"Oke, tapi ada syaratnya."
"Apapun bakalku lakuin!"
"Cium kakiku," titah Hara dengan angkuhnya.
Sarada menatap sebal, mau tak mau ia menurut, Sarada berlutut dan hendak mencium kaki cowok itu tetapi Hara mencegah.
"Stop, aku suka pelayan yang patuh, masuk, mulai hari ini kau kerja disini."
Setelah Hara masuk, Sarada menghentak-hentakkan kaki kesal, "Kok ada sih cowok sepertimu!"
__ADS_1
...🌸...
Gaara kini berada di hadapan Sakura, wanita itu sepertinya sedang gelisah.
"Gaara, aku mohon, pergi ke Konoha dan lindungi Sarada jangan sampai dia bertemu dengan Sasuke-kun."
"Aku akan lindungi Sarada tapi untuk menghalangi dia bertemu dengan Sasuke aku tidak akan melakukannya."
"Kenapa?! Bencana jika mereka bertemu!"
"Kenapa jika mereka bertemu Sakura? Itu hal baik karna Sarada bisa melampiaskan kekesalannya," ucap Gaara.
"Gaara, aku tidak mau jika Sasuke-kun mengetahui semua ini, nyawa Nyonya Karin dalam bahaya," ucap Sakura tak tega.
"Kau bodoh Sakura, dia penyebab sumber permasalah mu!" pekik Gaara yang tak bisa menahan diri lagi.
"Dan Hara juga harus tau bahwa kau ibu kandung nya, bukan si ****** Karin itu!"
...🌸...
Hara melakukan kegiatan seperti biasa, memantau masyarakatnya, sesekali ia melihat foto keluarganya, ada Hara, Sasuke dan Karin.
Cowok itu heran, darimana ia mendapatkan mata hijau ini, seharusnya ia mewarisi mata sang ayah ataupun sang ibu.
"Aku berbeda, siapa aku sebenarnya, kenapa aku tidak mirip mama Karin!" teriak Hara frustasi sambil mengambil pisau dan melayangkannya kesembarang arah.
Sarada yang hendak mengantarkan minuman terkejut, untuk saja pisau itu meleset jika tidak kepalanya bisa bolong.
"Kak Hara, minuman yang kakak pesan," ucap Sarada sopan lalu meletakkan nampan disebelah komputer cowok itu.
Tiba-tiba Hara menariknya hingga Sarada duduk dipangkuannya dan memeluk gadis itu erat.
__ADS_1
"Lepas," ucap Sarada.
"5 menit, aku butuh tempat untuk bersandar Sar," ucap Hara yang terdengar rapuh.