Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup

Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup
Toko Buah


__ADS_3

Semua buket bunga sudah selesai, termasuk milik Rendra. Sekali pun harus melewati banyak cerita menegangkan sekaligus menyebalkan, tetapi Anindi tetap mengerjakannya. Rendra itu terlalu cerewet untuk ukuran seorang lelaki. Benar-benar tidak disangka.


"Alhamdulillah, aku harus ke rumah sakit lagi. Tapi, sebelum itu beli buah-buahan dulu buat Ibu sama Tante." Anindi mengambil tas selempang, tak lupa juga kunci motor. Hari akan beranjak malam, ini bahkan sudah senja. Namun, semangat Anindi untuk bertemu dengan sang Ibu tidak menurun. Ia harus mendampingi sosok itu sampai dinyatakan bisa pulang.


Anindi keluar toko, menutup lagi dan menguncinya. Ibu pemilik apotek kembali memberikan semangat ketika bertemu di depan, lalu melepas Anindi pergi dengan kendaraan roda duanya.


Sepanjang jalan yang memang sangat padat, Anindi terus mengemudi dengan baik. Melihat ke kiri dan ke kanan, mencari toko buah yang segar. Barangkali ada yang menarik hati.


Setelah lima menit berkendara, akhirnya kedua mata Anindi menangkap basah toko buah yang terlihat segar juga ramai. Tidak menunggu lama lagi, gadis itu pun segera menepi ke toko yang berada di jalurnya. Memarkirkan motor di depan mobil hitam. Anindi sempat melirik sekilas ke arah kendaraan beroda empat itu, hanya sebentar. Ia langsung masuk toko yang ramai tersebut.


Buah kesukaan sang Ibu adalah mangga harumanis. Buahnya manis dan selalu enak saat dibuat jus maupun puding, membuat ibunya sangat menyukai nama buah tersebut. Bahkan, Anindi selalu membelikan setiap hari ketika musim mangga tiba.


Mata Anindi dimanjakan oleh beberapa lwarna dari berbagai nama buah. Ada melon yang hijau, adapula semangka merah yang sudah dibelah, tidak lupa juga anggur yang juga menggoda. Rasanya akan sangat susah untuk memilih buah mana yang akan lebih dahulu dibeli. Ingin di borong saja, itu pun jika memiliki cukup uang.


Anindi berdiri di samping seorang lelaki muda dengan setelan jas rapi. Harum parfum semerbak menusuk hidung Anindi, tetapi tidak terlalu mencolok. Aromanya tenang dan sedikit memikat hati. Anindi sempat melirik, lelaki itu pun sedang memilih buah mangga. Namun, dengan cepat memalingkan pandangan. Ini tidak baik.


Anindi memilih buah mangga yang bagus dan besar. Biasanya, dagingnya pun akan sangat manis dan tebal. Kali ini Anindi membeli mangga sekitar dua kilo saja, itu pun pasti hanya empat buah yang besar. Tak mengapa. 


"Kalian punya selera yang sama, ya. Senang sekali melihat pasangan muda yang kompak." Mendadak seorang Ibu paruh baya yang baru datang dan kini berada di depan mereka berkomentar semaunya. 


Anindi sontak mengangkat kepala, barangkali kalimat itu bukan ditujukan untuk dirinya. 

__ADS_1


"Kamu cantik sekali, Nak. Pantas saja dapat suami tampan dan gagah." Sekali lagi sang Ibu berkata tanpa bertanya.


Anindi mengerutkan kening, melirik pria muda yang sepertinya tidak terganggu sama sekali. "Maaf, Ibu berbicara ke saya?" Bertanya lebih baik dibandingkan hanya menebak saja.


Ibu itu pun sama memilih mangga harum manis. "Ya, Nak. Sama pasanganmu juga." Menunjuk pria di samping Anindi. "Ibu, sampai iri melihat kalian kompak punya kesukaan buah yang sama."


Barulah Anindi paham. Mengapa selalu terjadi seperti ini? Gadis itu hendak membuka mulut, tetapi pria itu lebih dahulu bersuara.


"Kami memang pasangan serasi, Bu," katanya tanpa membantah. Akan tetapi, tidak berniat mengangkat kepala. Hanya tangannya saja yang terus mengambil mangga, memilih yang terbaik.


Anindi terkejut. Apa lagi ini? Baru saja bernapas dari hal gila, sekarang ada lagi.


"Karena kami sangat serasi, apa Ibu bisa tetap diam sambil memilih buah? Kami takut ada orang yang iri juga." Suara pria itu tegas. Sepertinya sudah terbiasa dengan kepemimpinan.


Pria itu selesai memilih buah mangga. Cukup banyak yang diambilnya, mungkin ada sekitar lima kilo. Tanpa menjelaskan apa pun langsung pergi menghampiri penjual yang melayani pembeli lain juga. 


Anindi terdiam. Mungkin pria itu hanya ingin terhindar dari banyak pertanyaan. Sudahlah, biarkan saja. Ia pun fokus lagi memilih buah mangga dan akhirnya selesai. Tak lupa juga membeli semangka dan beberapa buah anggur pula. Semuanya kesukaan sang Ibu.


Anindi selesai. Keluar dari toko buah dan melihat pria tadi yang rupanya sedang memberikan seorang anak gelandang satu plastik berisi buah.


"Ambil dan makanlah dengan keluargamu. Om, masih punya banyak di wadah satunya lagi." Pria itu juga membelai lembut rambut anak lelaki yang Anindi taksir berusia tujuh tahun.

__ADS_1


"Terima kasih, Om." Si Anak bahagia. Membawa pemberian pria itu dengan sedikit berjingkrak-jingkrak. Sebuah pemandangan yang cukup menyentuh hati.


Anindi terdiam, mengamati dengan baik dengan kedua netra cantik itu. Tak disangka si pria itu pun berbalik badan, menatap Anindi yang langsung menundukkan kepala.


Terdengar langkah kaki mendekati Anindi, lalu berdiri sosok tinggi itu. Mengangguk sebentar layaknya orang yang akan meminta maaf. "Saya minta maaf atas kejadian tadi." Suaranya kali ini lembut, berhasil menarik kepala Anindi untuk terangkat ke atas. "Saya cuma tidak mau ibu tadi terlalu banyak bertanya. Maaf, kalau kamu kurang nyaman." Tanpa senyum, lebih tepatnya dengan ekspresi yang datar. Pria itu berbicara dengan Anindi.


Anindi terhipnotis, terdiam beberapa saat. Kemudian, sadar. "Oh, ya, tidak masalah. Aku juga minta maaf kalau kamu kurang nyaman karena disangka pasanganku." Anindi mengangguk juga. 


"Kalau begitu, saya pamit undur diri. Senang bertemu dengan kamu. Assalamualaikum." 


"Wa'alaikum salam." 


Mereka berpisah seperti halnya dua insan yang harus pergi karena keadaan. Anindi bergegas menghampiri motor, mencantelkan plastik hitam berisi buah ke motor. Dengan cepat menyalakannya dan tidak berhasil juga. "Astagfirullah, kamu kenapa?" Anindi berusaha terus. Namun, tak ada hasil. Motornya mogok, padahal tadi tidak apa-apa. "Ayolah, aku harus ke rumah sakit."


Pria muda yang masih belum menjalankan mobil itu memperhatikan Anindi. Melihat kesulitan yang dihadapi gadis itu, kemudian memutuskan untuk keluar lagi. Mungkin ada bantuan yang bisa diberikan. "Ada yang bisa saya bantu?" Bertanya langsung ketika sudah sampai di depan Anindi.


Anindi menoleh ke samping kanan. Melihat sosok tinggi itu kembali lagi.


"Apa motormu mogok?" Pertanyaan diberikan lagi oleh si Pria. Melihat ke arah motor Anindi. "Biar saya bantu. Mungkin bisa menyala."


Entah mengapa Anindi justru menurut. Gadis tersebut turun dari kendaraan yang sudah enam tahun menemaninya itu. Padahal, Anindi ini tipe wanita yang bahkan sulit untuk berbicara dengan orang lain, kecuali keluarga. 

__ADS_1


"Saya izin membantu sebentar." Pria tersebut mengambil alih motor Anindi. Biasanya para lelaki lebih tahu dengan detail tentang hal ini.


__ADS_2