
Anindi ikut perihatin. Mengingat Cantika ini juga seorang teman yang banyak membantunya dalam keadaan susah. Cantika pula yang selalu berusaha menenangkan Anindi ketika dalam keadaan tidak baik-baik saja selain ibunya.
Anindi menikmati sekotak susu rasa coklat tersebut. Mendengarkan semua jeritan hati Cantika yang pastinya sama hal dengan perempuan lain yang menunggu kepastian. "Kenapa kamu tidak tanya langsung ke dia?"
Cantik menghela napas kasar. Seperti itu saja sudah menjadi jawaban bagi Anindi.
"Kalau tidak ditanyakan, kamu tidak tau bagaimana reaksi dia." Anindi berusaha memberikan solusi. Kali ini Cantika berbalik badan, menatapnya lekat. Sama seperti Cantika, Anindi pun menoleh ke arah temannya itu. "Setidaknya, kamu harus bisa mendiskusikan ini dengan Kemal. Kalian itu kan sudah menjalin hubungan sekitar satu tahun lebih. Baik kamu ataupun Kemal juga bukan anak kecil lagi. Kalau kalian tidak mencari jalan tengah untuk hal ini, kalian akan selamanya terombang-ambing."
Cantika terdiam. Setiap kata-kata yang didengar oleh daun telinganya diterima dengan baik. Anindi memiliki banyak nasihat baik yang selalu bisa dipertimbangkan. "Aku udah pernah bicarakan ini sama Kemal, Nin." Cantika berjalan menghampiri Anindi lagi. Menarik kursi di samping temannya itu, lalu duduk. Wajah mereka kini saling berhadapan satu sama lain dengan suasana yang tidak terlalu tenang karena ruko ini memang dekat dengan jalan raya. Suara bising kendaraan tidak bisa dihindari.
"Tapi, Kemal itu seperti menghindar. Itu yang bikin aku kesal!" Cantika menghela napas kasar lagi.
__ADS_1
Anindi kembali merangkai bunga setelah menghabiskan sekotak susu. Ia ikut bimbang, sekali pun menyarankan Cantika untuk mengakhiri hubungan. Pasti temannya itu tidak bisa, karena sudah dicoba beberapa kali. Namun, hasilnya Cantika seolah terlalu sayang terhadap Kemal. Begitulah cinta, selalu membuat siapa pun buta. "Aku tidak tau harus memberikan kamu nasihat seperti apalagi, tapi aku berdoa semoga saja kamu bisa paham kalau kita ini tidak bisa memaksa seseorang untuk mengikuti keinginan kita. Memang menunggu itu sulit. Kalau misal tidak ingin menunggu, jalan satu-satunya jelas harus mengakhiri hubungan."
Anindi tidak bisa menghindari lagi kalimat tersebut. Sebab, sudah mencoba sebisa mungkin memberikan saran terbaik.
"Aku sayang sama Kemal, Nin." Cantika menyembunyikan wajah di meja dengan kedua tangan dilipat juga. "Rasanya susah sekali kalau harus berpisah sama dia, tapi dia juga seperti kurang paham tentang apa yang aku rasakan."
Anindi mendengarkan. Menepuk pundak kanan Cantika seraya berkata, "Kamu harus bisa lebih tegas. Apa pun yang terjadi, kamu itu berhak bahagia."
"Ya, aku buka sampai jam delapan malam." Anindi memperpanjang jam buka toko dengan harapan bisa lebih banyak mendapatkan pelanggan. Biaya perawatan sang ibu tidaklah murah. Anindi harus lebih giat lagi dalam mencari uang, walaupun rezeki memang sudah diatur Tuhan.
Cantika naik ke lantai atas, memilih tidur untuk menenangkan pikiran. Sementara Anindi sendiri bekerja dengan baik, melayani setiap pelanggan yang datang dengan ramah.
__ADS_1
Malam pun datang menyapa bersamaan dengan datangnya waktu salat Magrib. Anindi melaksanakan kewajibannya terhadap Tuhan di lantai atas, melihat Cantika yang tertidur karena sedang tidak salat.
Anindi menghamparkan sajadah. Memakai mukena, lalu melantunkan takbir. Hatinya langsung tenang, bergetar hebat ketika mengucapkan kalimat takbir. Tidak ada lagi penghalang untuknya bertemu Sang Pencipta langit dan bumi. Lupakan sejenak permasalahan yang sedang bergulir.
***
"Maaf, Kak, aku sibuk seharian ini." Rendra baru saja sampai rumah dan langsung disidak oleh Adib.
Adib duduk di sopa ruangan tamu dengan membawa sebuah buku yang sedang dibacanya. Pria yang sudah matang untuk berumah tangga itu menghela napas kasar, entah harus bagaimana menghadapi adiknya. "Kakak, tidak masalah perihal kesibukanmu selama ini. Tapi, seharusnya kamu bisa membedakan mana pekerjaan dan mana yang bisa didampingkan!" Nada bicara Adib tegas. Pria itu bisa bersikap menakutkan jika sudah menyangkut pekerjaan. "Kamu memang penulis lepas, artinya kamu bisa bekerja di perusahaan mana pun. Tapi, kamu punya kewajiban untuk menyelesaikan naskahmu yang sudah hampir empat bulan mangkrak! Kamu bukan anak kecil lagi bukan?" Adib menyunggingkan senyum kecil.
Rendra berdiri, malas berdebat dengan Adib. "Aku lelah, Kak. Kita bahas ini nanti." Berniat melangkah, tetapi Adib mencegah.
__ADS_1
"Siang tadi kamu ada di rumah sakit bukan?" Adib menatap Rendra tajam. "Kenapa tidak datang? Apa kamu begitu marah pada Ayah dan Ibu?"