
Berita itu bukan sekadar bualan Rendra semata, memang benar adanya. Anindi terdiam, langkah terakhir adalah menggunakan taksi. Tidak masalah tarifnya akan lumayan mahal, setidaknya tidak harus satu mobil dengan Rendra.
Rendra menunggu jawaban. Namun, yang ia dapatkan justru pergerakan Anindi. Perempuan itu kini berdiri, berjalan ke depan jalan raya dan menoleh ke samping kanan. "Kamu mau menunggu bus juga?" Rendra bertanya lagi.
Anindi tidak menatap Rendra. "Aku bisa naik taksi." Jangan sampai keadaan mendesak memaksanya untuk berada di ujung keputusasaan. "Terima kasih tawaranmu, tapi aku sebaiknya naik taksi saja."
Rendra mengamati Anindi begitu lekat. Selain memiliki prinsip yang kuat, wanita itu pun sedikit keras kepala dan bisa mengandalkan diri sendiri. Seolah Anindi ingin menunjukkan pada dunia bahwa tidak perlu bantuan lelaki untuk bisa menyelesaikan masalah. Cukup unik.
Satu menit, dua menit, bahkan sampai lima menit. Taksi tak kunjung datang. Anindi mulai cemas. Di antara puluhan kendaraan yang melintas di dekat halte bus, tidak ada satu pun taksi yang datang. Menyebalkan.
Rendra menunggu dengan tenang. Lelaki itu justru melakukannya bersuka cita seakan menunggu kekalahan Anindi.
Langit yang panas berubah sedikit mendung. Memang terkadang sering seperti itu, kemudian awan hitam pun terlihat menggantung. Perubahan cuaca yang cukup drastis dan cepat. Anindi mengangkat kepala, melihat keadaan langit yang pastinya akan semakin menghitam pertanda datangnya hujan sebentar lagi. Bisa jadi. "Kenapa mendung?" Helaan napas kasar memberikan isyarat kelelahan perempuan itu.
Rendra menyimpan ponsel di saku celana depan dan berkata, "Kamu yakin tidak mau menerima tawaranku?" Masih saja bertanya untuk ke berapa kali. "Niatku baik, jadi jangan berpikir negatif."
__ADS_1
Anindi terdiam. Semakin ada di sini, maka akan semakin lama menuju toko. Akan tetapi, tidak mungkin pula menerima. "Tidak perlu. Aku tetap menunggu taksi."
Rendra berdiam diri. Kali ini tak akan egois. Anindi berhak menentukan keputusan terakhir. "Ya sudah. Aku pamit, Assalamualaikum, Ukhti." Lelaki itu mengedipkan mata sekali. Untung saja Anindi tidak melihat, memang wanita itu selalu saja menghindari pertemuan kedua mata di antara mereka.
"Wa'alaikum salam," jawab Anindi cepat.
Mobil Rendra berjalan ke arah kiri. Melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan Anindi di tengah kecemasan.
Anindi sendiri masih berusaha menunggu, walaupun keadaan langit semakin hitam. Tiga menit kemudian hujan pun turun. Menyapa semesta dengan deras sekali. Terpaksa Anindi kembali duduk di halte bus yang masih sepi. Terduduk lesu penuh keputusasaan. "Waktunya semakin mepet. Kenapa juga taksi tidak datang-datang?" Anindi menghela napas kasar di tengah derasnya hujan.
Di sela kebimbangan, tiba-tiba mobil Rendra kembali datang. Pria itu merasa tidak tega ketika harus meninggalkan Anindi dengan cuaca yang begitu meyakinkan untuk hujan. Benar saja. Kali ini Rendra justru turun dari mobil, berlarian menerobos hujan ke arah halte bus. Berhasil membuat kaget gadis berhijab itu sehingga kepala Anindi terangkat ke atas. "Kamu masih mau menunggu di sini? Apa sebegitu keras kepalanya kamu?" Rendra berdiri di depan Anindi. Mereka saling menatap satu sama lain.
Anindi terkejut. Tidak menyangka kedatangan Rendra lagi.
"Jangan seperti itu, kamu harus membaca situasinya." Rendra sedikit kesal. Wajah pria itu juga menunjukkan sesuai isi hati. Rendra memijat pelipis kanan, sakit rasanya. "Aku mungkin bisa memahami kalau situasinya tidak mau hujan dan kendaraan umum beroperasi. Setidaknya kalau memang kamu terdesak dan butuh bantuan, cobalah meminta bantuan ke orang lain!"
__ADS_1
Anindi berdiri, tinggi badannya hampir sama dengan Rendra. Hanya berbeda sedikit saja. "Kenapa kamu ada di sini?" Bukannya menjawab, Anindi justru mengajukan pertanyaan baru. Biasanya orang lain akan tetap pergi ketika sudah menolak, tetapi Rendra justru datang lagi. Ada apa ini?
"Tidak perlu bertanya banyak hal. Sekarang, apa kamu masih mau menolak tawaranku?" Rendra masih berharap Anindi bisa terbuka dengan bantuan orang lain. Tak peduli semandiri apa pun wanita itu, tetapi dalam keadaan mendesak tetaplah perlu bantuan orang lain. "Aku bertanya untuk terakhir kali. Setelah itu, aku tidak akan kembali lagi ke sini. Menyebalkan memang!" Rendra pusing sendiri dengan sikapnya. Padahal ia bisa saja pergi. Namun, hatinya tidak tenang.
Anindi terdiam. Hujan masih saja deras, bahkan tidak ada harapan cepat reda untuk waktu sekarang. Terlebih kendaraan umum tak datang juga.
"Kamu bisa menolakku lagi, itu hakmu. Tapi, coba pikirkan baik-baik kalau seseorang menawarkan bantuan. Ini bukan tentang prinsipmu yang tidak suka merepotkan orang lain atau mungkin kamu tidak suka bersamaku, tapi di mana situasi yang sedang berlangsung sekarang. Kamu pasti lebih paham dari pada aku," tutur Rendra berharap Anindi bisa mengerti dengan baik.
Anindi menimbang lagi tawaran Rendra. Perkataan pria itu tidak sepenuhnya salah. Ia mungkin terlalu berpikiran sempit tentang tawaran Rendra. Namun, ada beberapa pertimbangan juga. Hanya saja, Anindi sekarang sedikit goyah setelah mendengarkan kalimat nasihat dari Rendra.
Untuk pertama kalinya, Rendra bisa menatap mata Anindi tanpa wanita itu memalingkannya dengan cepat. Memang bukan salah Anindi dalam hal itu karena sejatinya mereka bukanlah sepasang suami istri yang bisa berinteraksi bebas dan punya hak untuk saling menatap satu sama lain. Jantung Rendra merasa lebih bekerja cepat. Beberapa kali Rendra menelan ludah, selain karena gugup juga menunggu jawaban Anindi. Pria dengan hodie hitam juga celana yang bolong bagian lutut itu pun sedikit gugup. Sebuah rasa yang sulit diungkapkan dalam bentuk kata seperti apa pun.
"Cepatlah jawab! Aku bisa kehabisan waktu karena menunggumu menjawab!" Rendra berpura-pura marah, menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. Rendra juga memalingkan wajah ke samping kanan, melihat dua orang anak kecil yang bahagia bermain di bawah hujan. Entah anak siapa itu, tetapi Rendra bisa melihat sirat bahagia di wajah keduanya. Menarik diri Rendra kembali ke masa kecil yang sudah pergi begitu saja, lebih menyenangkan dibandingkan masa sekarang. Jadi rindu.
Anindi mendapatkan jawaban setelah berpikir beberapa detik. Perempuan itu yakin dengan keputusannya. Ketika mulut Anindi hendak terbuka, bersamaan dengan itu dari arah kanan taksi datang. Sontak fokus Anindi beralih pada transportasi umum itu. Dengan bergerak cepat ke depan melewati Rendra sambil melambaikan tangan kanan. "Pak, berhenti."
__ADS_1
Melihat lambaian tangan Anindi, sopir langsung menghentikan laju kendaraan. Akhirnya bisa dapat penumpang juga, sedangkan Rendra sendiri tersenyum tipis. Memang semesta tidak mengizinkan mereka satu mobil lagi. Bagus juga, setidaknya Anindi sudah dapat kendaraan.