Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup

Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup
Adib


__ADS_3

Rendra menikmati tidurnya dengan tenang, walaupun hanya beberapa menit saja. Azan Magrib berkumandang. Dan, ayahnya sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter yang mengontrol. Jelas, lelaki itu senang. Tidak perlu datang lagi ke tempat menyeramkan ini.


"Jangan bermalas-malasan. Kamu bisa ketinggalan dalam berkarir." Adib–Kakak Kandung Rendra–mencoba mengingatkan adiknya. "Kamu yang memilih jalan ini, jadi harus serius."


Kedua pria itu keluar dari ruangan VIP rumah sakit tersebut, hendak menunaikan salat Magrib sebelum akhirnya pulang ke rumah.


Rendra sendiri bertingkah semaunya. Terkadang ia menyapa usil beberapa perawat perempuan yang mereka jumpai di lorong. 


"Jaga sikapmu! Ini bukan di rumah." Adib sedikit kesal. Rendra ini kadang susah diatur. Memang aslinya berkarakter rumit dan bebas. Lelaki dengan setelan jas hitam itu berjalan lebih cepat mendekati lift. Lorong ini cukup tenang dan tidak banyak yang melewati kecuali keluarga pasien dan pihak rumah sakit. Jelas saja karena lantai enam ini adalah deretan kamar elite yang dihuni oleh para pengusaha saja. 


Rendra merasa kurang bebas ketika berada di samping Adib. Mungkin karena watak mereka yang berbanding terbalik. Adib terbilang sangat disiplin dan selalu melakukannya dengan sempurna, sementara Rendra sendiri melakukan apa pun sesukanya. Untung saja orang tua mereka cukup sabar, berhati luas dan tidak membanding anak satu dengan yang lainnya.


Mereka masuk lift. Berdua saja, turun dengan tenang. Adib mengamati sosok adiknya dari samping, akhir-akhir ini Rendra seolah menyembunyikan sesuatu. Entah apa itu. Yang pasti, ada hal yang tidak diketahui oleh dirinya. "Kamu sedang ada kabar baik?" Tak segan untuk bertanya.


Rendra menoleh ke samping, sedangkan Adib sudah lurus ke depan. "Kabar baik?" Lelaki itu bertanya balik.


"Wajahmu menunjukkan itu," jawab Adib.


Lift berjalan turun tanpa menunggu siapa pun lagi, seakan menjadi gambaran dunia yang tidak akan pernah menunggu kita. Baik keadaan kita sedang sedih ataupun tertinggal jauh. 


"Ah." Rendra paham. Bersikap biasa saja. "Aku lagi ada proyek baru."

__ADS_1


Adib melirik sekilas. "Kamu buat cerita baru lagi? Ini saja belum selesai!" Adib langsung mencerca Rendra dengan beberapa kalimat. Sudah tidak heran.


Rendra tertawa kencang. "Kak, tidak perlu sedetail itu kalau bertanya. Lucu sekali." Menggelengkan kepala.


Adib yang dididik dengan sangat sempurna dan tumbuh menjadi pribadi yang sedikit kaku pun merasa sedang diremehkan. "Kamu sedang berbicara dengan kakakmu, Rendra!" Marah juga.


"Ya, maaf." Rendra tak ingin masalah sepele ini berkepanjangan. "Bukan soal novel. Aku bukan penulis dengan banyak otak. Menyelesaikan satu cerita saja, aku perlu waktu lumayan lama."


Lift mengantarkan mereka ke lantai dasar. Adib dan Rendra pun keluar, berbelok ke koridor kanan. Berjalan bersama dengan orang-orang yang mungkin memiliki tujuan yang sama pula.


"Lalu?" Adib penasaran. Dibandingkan orang tuanya, Adib lebih dekat dengan Rendra. Mungkin karena Rendra sedikit bisa terbuka dengannya, tidak pada orang tua mereka. "Proyek apa yang kamu maksud?" 


"Sebenarnya proyek ini tuh dadakan alias tidak ada list di jadwal tahunanku. Tapi, ini lebih menarik." Rendra mencoba menjelaskan sedikit alurnya. "Kakak, tidak perlu khawatir karena aku tidak mungkin menandatangani kontrak dengan penerbit mana pun. Kakak sendiri tau kalau aku penulis kontrak di penerbit Kakak."


Adib menghela napas kasar. Lelaki bersetelan jas hitam itu memang memiliki perusahaan penerbitan buku dan juga sekaligus editor khusus Rendra. "Bukan itu masalahnya." Adib tidak mempermasalahkan itu. Yakin jika Rendra itu sudah memahami konsekuensi dari hal itu. "Kita ini keluarga."


"Lalu?" Kali ini Rendra yang bertanya. Keduanya terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang menghubungkan ke arah mushola. 


"Kalau memang ada proyek yang besar dan kamu tidak bisa mengatasi, kamu sebaiknya cerita." Adib menjeda lebih dahulu ucapannya sebentar. Memberi jarak agar tetap stabil satu sama lain. "Mau itu baik atau buruk, kamu bisa berbagi dengan namanya keluarga."


Di sini Adib belajar dari masa lalu. Mungkin bukan sepenuhnya kesalahan dia, tetapi sebagai anak pertama. Tetap saja Adib ikut bertanggung jawab.

__ADS_1


Reaksi Rendra biasa saja, santai. Tidak ada yang perlu dibahas dengan begitu serius, karena proyek ini tidak menarik terlalu besar dirinya. "Proyek ini namanya rahasia. Aku belum bisa membeberkan, karena aku sendiri bisa mengatasi. Sebaiknya Kakak lebih fokus ke kehidupan percintaan saja. Umur sudah kepala tiga, tapi masih saja sendiri. Bagaimana Ayah dan Ibu bisa menggendong cucu?" Rendra terkekeh geli.


Adib tak marah sedikit pun, sudah biasa. Anak pertama dan seorang lelaki harus memiliki mental sekuat baja. Jangankan hanya gerimis kecil, hujan badai pun tetap harus dinikmati sampai selesai. "Itu masalah nanti."


"Sampai kapan? Wanita banyak yang mengantri, tapi Kakak memilih menutup diri. Tidak asyik namanya!" Rendra selalu saja meledek sang Kakak dengan candaan kecil, itu pun karena tahu sifat kakaknya yang penyabar. "Ibu sama Ayah semakin tua, mereka juga mau menimang cucu dari Kakak."


"Kamu duluan saja." Adib melirik sekilas ke arah kanan. Tersenyum kecil. "Berikan cucu untuk Ibu dan Ayah."


Tawa Rendra pecah lagi, beberapa orang bahkan memperhatikan mereka. Keduanya sampai di depan mushola, sudah penuh saja. "Aku masih mau sendiri. Umurku saja masih muda. Jadi, lebih baik menikmati waktu dulu."


Adib duduk di teras masjid hendak melepas sepatu, mengangkat kepala. Menatap Rendra. "Bebasmu itu jangan keterlaluan. Kakak, sudah memberikanmu kesempatan kedua. Ayah dan Ibu juga. Apa kamu mau mengecewakan kami lagi?" 


Pertanyaan Adib cukup menusuk jantung. Rendra bisa memahami itu. Kekhawatiran setiap keluarga pasti ada, hanya saja berbeda-beda. Beruntung Rendra memiliki sosok Kakak yang terbilang sempurna. Pemuda itu ikut duduk di samping Adib, lalu berkata, "Jangan bahas itu lagi, Kak. Aku sudah mengatakannya kalau tidak akan menyentuh itu lagi."


Adib melirik, kedua sepatu berhasil dilepaskan. "Semoga saja, karena terkadang manusia itu susah dipercaya. Ini berlaku bukan untuk kamu saja, tapi semua orang. Termasuk Kakak."


Rendra menyunggingkan senyum kecil. Menoleh ke samping, bertemu pandangan dengan Adib. "Apa itu artinya Kakak kurang percaya sama aku?" 


Adib berdiri. Melonggarkan dasinya, cukup mengikat kuat. "Kita itu memang percaya sama siapa pun, tapi berjaga-jaga itu lebih baik. Jangan banyak menimbun kepercayaan ke manusia karena sejatinya diri kita itu bisa jadi penyebab kecewa seseorang." Adib melangkah lebih dahulu ke arah tempat wudu. 


Rendra diam. Dari balik kaca, ia melihat sosok yang sedang melaksanakan salat. Sosok itu asing lagi. "Dia masih ada di sini. Apa mungkin bisa bertemu lagi?" 

__ADS_1


__ADS_2