
Anindi pulang dari toko tempat Cantika bekerja sekitar pukul setengah dua siang. Masih ada tiga buket bunga lagi yang perlu diantarkan dan tentunya menunggu menjumpai sang pemilik baru.
Anindi berniat kembali ke toko bunga menggunakan bus. Wanita tersebut berdiam diri di halte bus yang sepi sekitar sepuluh menit berhasil membuatnya memikirkan nasihat dari Nisa.
"Aku mana mungkin melibatkan hati. Bertemu dia saja rasanya seperti musibah. Astagfirullah." Anindi mengangkat kepala, menatap langit siang yang cukup cerah hari ini. Bahkan, terik mentari pun masih sangat menyengat.
Anindi duduk di tempat yang seharusnya. Menikmati setiap keramaian jalanan yang tiada hentinya bahkan sampai malam hari. Tinggal di kota besar dengan berusaha mencari nafkah sendiri memang cukup berat, terlebih tanggungannya kini bukan biaya sehari-hari. Namun, juga ada obat-obat sang ibu yang nominalnya cukup menguras kantong.
"Bu, indah sekali langit hari ini. Apa dulu langit juga seindah ini saat Ibu melahirkan aku di siang hari?" Perempuan yang lahir di hari Jumat siang itu pun tersenyum kecil, mengenang beberapa moment menyenangkan masa kecil ketika keluarganya masih utuh. "Aku jadi rindu Ayah, Bu."
Anindi memejamkan mata. Tidak ada siapa pun, sepi sekali untuk ukuran halte bus di kota. Selain bukan jam pulang bekerja dan sekolah, cuaca di siang hari ini menjadi alasan orang-orang pun memilih untuk tetap tinggal di rumah saja.
Sekitar satu menit, suara derap langkah kaki seseorang mendekat. Kemudian, duduk di samping Anindi. Melirik sekilas. "Mbak, kalau mau tidur, jangan di halte bus. Di rumah nanti!"
Anindi tersentak, menoleh ke samping. Dua pupil mata perempuan itu terbelalak melihat sosok lelaki dengan pakaian seperti preman, memakai anting di kedua sisi telinga serta rambut pendek. Anindi bergeser ke kanan sedikit, takut juga. Tidak akan ada yang tahu bagaimana selanjutnya. "Maaf." Akhirnya memberikan diri berbicara.
Pria itu menghela napas kasar, menoleh ke samping kanan dan menatap lekat Anindi. "Gue nggak tau masalah Mbak ini apa, ya. Tapi, kalau bisa jangan ceroboh di tempat umum. Mbak, mau jadi sasaran empuk para penjahat?"
Anindi terdiam. Penampilan pria ini bisa dikatakan sangat berandalan. Lihat saja rambutnya yang pendek di cat merah ungu dengan anting juga kalung panjang. Benar-benar mengerikan. "Maaf, ya, saya bukan wanita ceroboh."
__ADS_1
Pria itu tertawa lepas. "Kalau nggak ceroboh, nggak usah tidur di halte juga." Menyunggingkan senyum kecil. Menatap lurus ke depan lagi. "Harusnya bus datang cepat! Bikin orang nunggu lama aja."
Anindi mengerutkan kening lagi. Pria ini bersikap seolah mereka sudah saling mengenal lama, bisa berbicara dengan santai.
"Gue sebenarnya nggak peduli, ya, Mbak itu mau diapa-apain di jalan, tapi kadang gue kesel aja sama perempuan yang nggak bisa jaga diri sendiri. Mentang-mentang kalau ada kasus bisa nangis sejadi-jadinya biar yang lain iba."
Anindi sontak kesal. Pemikiran ini terlalu pendek dan menyudutkan perempuan. "Maaf, ya, saya tidak tau kamu siapa. Tapi, alangkah baiknya kalau berbicara itu sedikit sopan!" Anindi justru ikut naik darah. Melihat dari penampilan pria ini, bisa ditaksir jika usianya sangat di bawah Anindi. Wajahnya pun muda. Apa mungkin anak sekolahan? Sekarang sulit sekali membedakan anak yang masih sekolah dengan lelaki dewasa, sebab terkadang anak-anak muda itu berprilaku layaknya orang dewasa.
"Kamu merasa kalau kaum kami ini kurang bisa menjaga diri, padahal kami juga selalu berusaha untuk hati-hati!" Anindi menegaskan.
Pria itu melirik tajam Anindi lagi. "Kalau seperti itu, jangan sampai ceroboh, Mbak." Kedua sudut bibir terangkat ke atas membentuk senyuman kecil. Pria itu berdiri ketika bus datang dan berhenti, tetapi sayang Anindi justru melewatkannya. "Jangan sampai kita bertemu lagi, Mbak. Gue bisa jatuh cinta." Pria itu masuk dan bus langsung pergi.
Anindi bingung sendiri. Waktu semakin mepet. Andaikan tidak habis mengantarkan buket bunga yang lumayan besar, jelas saja dirinya akan membawa kendaraan pribadi. Ditengah keramaian kota yang semakin tidak karuan, Anindi terpaksa terduduk lesu lagi di halte. Menunggu bus selanjutnya. "Harusnya aku tidak fokus menanggapi orang itu." Anindi mengelus dada dua kali, mencoba menahan amarah agar tidak berlarut dan mengotori hati.
Anindi menatap lurus ke depan lagi. Angin sepoy-sepoy menerpa kerudung perempuan itu, menerakan bagian ujungnya seolah melambai-lambai meminta orang lain datang. Anindi mengeluarkan ponsel di tas kecil. Barangkali bisa mengusir kekesalan yang hadir karena kecerobohan. Semoga saja bus segera datang agar tidak terlalu lama menunggu.
Anindi berselancar di dunia maya, melihat-lihat postingan orang lain yang bisa dikatakan cukup menarik. Adapula postingan para teman yang memamerkan keluarga bahagia, menyenangkan pastinya.
Jari jemari perempuan itu berhenti ketika melihat unggahan Arga, di mana lelaki itu mengunggah foto bunga anggrek putih di sebuah teras rumah yang pastinya sangat dikenali oleh Anindi.
__ADS_1
Dada Anindi mendadak sesak, sulit sekali mengambil napas padahal atmosfer di sekitar banyak. Beberapa kali Anindi mengelus dada, jangan sampai hanyut hanya karena satu keadaan.
Tanpa disadari, sebuah mobil hitam berhenti di depan halte. Kaca jendela bagian kanannya perlahan turun, lalu terdengar seseorang berkata, "Assalamualaikum, Ukhti!" Suara orang itu begitu kencang dan berhasil menarik perhatian Anindi. "Sendiri aja?"
Anindi sempat terdiam, kemudian berkata, "Wa'alaikum salam." Sekali pun kesal, Anindi tetap menjawab salam. Itu tidak baik. Namun, Anindi tak menjawab pertanyaan selain itu.
Yang datang rupanya adalah Rendra, lelaki itu masih diam di dalam mobil. Memperhatikan Anindi yang kini fokus lagi bermain ponsel. "Kamu menunggu bus?" Rendra pantang menyerah. Masih terus bertanya dan semoga saja Anindi menjawab.
Anindi menghela napas kasar. "Seperti yang kamu lihat." Perempuan itu bersuara sedikit kesal. Padahal baru saja tenang setelah meredakan kekesalan pada sosok pria tadi. Ternyata semesta tidak memberikan kedamaian sekejap saja, ini terbukti dengan mengirimkan Rendra sekarang.
Rendra tersenyum simpul. "Aku rasa kamu akan menunggu sampai besok pagi."
Anindi sontak mengangkat kepala, menatap Rendra dengan kening berkerut kencang. "Maksudmu?" Kadang berpikir jika Rendra ini melebihi anak kecil yang sering bersikap seenaknya, termasuk perkataannya juga. "Sebaiknya kamu pergi daripada buat orang kesal!"
Rendra terkekeh geli. Begitu santai menanggapi kekesalan Anindi. "Bus arah ke sini mengalami kecelakaan di halte ambara. Kalau kamu tidak percaya, lihat saja berita di media sosial."
Tanpa menunggu lama Anindi langsung mengecek berita terkini. Kalau sampai Rendra bercanda, akan langsung Anindi berikan pelajaran di sini juga.
"Benar tidak?" Rendra menunggu. Menyunggingkan senyuman tipis. "Kalau kamu buru-buru. Ayo, naik mobil."
__ADS_1