Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup

Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup
Bu Mila Bimbang


__ADS_3

Bu Lia terbangun dan hanya menemukan sosok tetangga di sampingnya. "Mila, Anindi mana?" Bertanya dengan suara yang pelan sekali.


Bu Mila langsung menoleh, menatap lekat seorang wanita paruh baya yang sebaya dengannya. Sudah dianggap sebagai saudara karena bertetangga sejak pertama menikah dan merantau ke kota yang kejam ini. "Anindi lagi ke toko sebentar. Kamu perlu apa?" 


Orang lain pasti akan iri dengan persahabatan mereka. Terjalin dengan indah juga tanpa adanya saling iri maupun marah. Hanya ada saling mengingatkan satu sama lain ketika terjebak dalam satu kesalahan. 


Bu Lia tersenyum kecil, manis sekali. Langit-langit rumah sakit ini mengingatkan dirinya pada sosok suami yang lebih dahulu pergi. Sudah lama pula. "Aku cuma mau melihat anakku."


Bu Mila meraih tangan sang Sahabat. Memberikan sebuah kekuatan paling dalam seraya berkata, "Anakmu lagi berjuang. Kamu juga harus berjuang untuk sembuh total."


Bu Lia menganggukkan kepala dua kali, pelan sekali. Melirik ke kanan dan ke kiri, kemudian berkata lagi. "Di mana suaminya?" Bu Lia bertanya lagi.


Bu Mila terdiam, keningnya berkerut. Kurang paham dengan pertanyaan sang Sahabat. 


Bu Lia ikut terdiam dalam beberapa waktu, lalu bertanya lagi. "Mila, di mana suaminya Anindi?" 


Barulah Bu Mila paham. Tampak terkejut. "Suami?" Bertanya balik.


Bu Lia mengangguk pelan. "Ya, suami anakku. Dia kemarin ada di sini."


Saat ini, di otak Bu Mila memiliki satu kalimat. Namun, tertahan. Tidak sampai ke mulut. 


"Kenapa diam, Mila? Di mana suaminya Anindi?" Bu Lia mendesak. Sebab, ingatannya hanya sampai sana saja. Anindi masih bersuami dan lelaki yang dilihatnya adalah sosok yang baik.

__ADS_1


Bu Mila sendiri bimbang. Menelan ludah, terlalu bingung. Entah harus dikeluarkan atau tidak jawaban yang ada di otak.


Belum sempat terjawab, Dokter lelaki dan dua perawat masuk. Senyum sang Dokter mengembang ketika menginjakkan kaki di lantai ruangan tersebut.


"Selamat sore, Bu Lia." Dokter Pras namanya, menyapa dengan kesopanan tingkat tinggi. Dua perawat itu pun sama halnya dengan Dokter, melempar senyum. Dokter berdiri di samping kanan Bu Lia. "Bagaimana keadaannya sekarang? Apa ada pusing?" Kontrol yang dilakukan sore ini memang untuk memantau keadaan pasiennya, termasuk Bu Lia.


Bu Lia membalas senyum. Senang rasanya mendapatkan sosok Dokter yang begitu baik dan sabar terhadap para pasien. "Tidak ada pusing, Dok." 


Bu Mila hanya diam. Masih memikirkan tentang pertanyaan sang Teman, walaupun tidak terlalu dalam. Mengingat sedang ada pemeriksaan. 


"Baik, kita periksa dulu, ya." Dokter tadi mulai memeriksa Bu Lia. Salah satu perawat mengecek selang infusan dan satunya lagi menunggu instruksi sang Dokter.


"Tolong, cek tekanan darahnya, ya, Sus." Dokter akhirnya memberikan tugas pada perawat yang sedang praktek tersebut.


Bu Lia selalu bekerja sama selama ini. Setelah sadar, ia menjawab dan mendengarkan semua yang dikatakan sang Dokter. 


Bu Mila lega. Setidaknya, temannya ini menuju ke angka sembuh lebih cepat. "Syukurlah, Dok. Saya berharap, saudara saya ini cepat bisa sembuh dan pulang. Berkumpul dengan keluarga lagi." Sebuah harapan besar dari seorang teman yang begitu menyayangi.


Dokter tersenyum lagi. Mengenal Bu Mila dan Bu Lia sebagai seorang teman baik, karena kebetulan Bu Mila ini sering melakukan pemeriksaan kesehatan rutin di sini. "In Syaa Allah, Bu. Kita berdoa yang terbaik saja." Sebagai Dokter, pria itu harus bisa menenangkan para pasien sekaligus keluarga pasien juga. Jangan sampai membuat kegaduhan.


Dokter Pras melihat lagi ke arah Bu Lia. "Sebaiknya, Ibu banyak beristirahat. Jangan terlalu memaksakan diri untuk mengingat banyak hal. Pelan-pelan saja." Dokter Pras memang sudah menjelaskan hal ini pada Anindi dan Bu Mila, jika pasiennya itu pasti mengalami amnesia. Dan, Bu Lia memahami itu. Masalahnya, tidak banyak ingatan Bu Lia yang kembali. "Kalau begitu, saya undur diri, ya, Bu. In Syaa Allah, nanti malam saya datang lagi."


Bu Lia mengangguk pelan.

__ADS_1


"Silakan, Pak Dokter. Terima kasih." Bu Mila tersenyum manis lagi.


"Sama-sama, Bu." Dokter Pras dengan dua perawat yang cantik jelita tersebut akhirnya keluar. 


Bu Mila membenarkan selimut yang dipakai sang Teman. "Kamu mau minum? Atau mau makan sesuatu?" Menawarkan apa pun yang mungkin dibutuhkan Bu Lia.


"Aku mau ketemu suaminya Anindi, Mila." Permintaan Bu Lia tidak berubah. Jelas saja Bu Mila terdiam lagi. "Coba lihat ke luar, mungkin dia ada di sana."


Bu Mila semakin bimbang. Namun, pikirannya berpatok pada ucapan Dokter tadi. Pada akhirnya memutuskan untuk mengikuti alur yang ada. "Baiklah, aku lihat dulu. Kamu tunggu di sini. Kalau dia tidak ada di luar, mungkin aku harus cari ke lantai bawah. Sebaiknya kamu istirahat saja."


"Terima kasih, Mila. Aku bersyukur punya teman sebaikmu." Ingin memeluk, tetapi tak bisa. Hanya ucapan itulah yang menggambarkan isi hatinya. "Tolong, cari sampai ketemu, ya. Aku mau bicara serius."


Dengan kebimbangan yang ada, Bu Mila terpaksa mengangguk cepat. Biarkanlah urusan ada atau tidaknya, dipikirkan nanti saja. Yang penting, semuanya berjalan dahulu. "Iya. Kamu istirahat dulu."


Anggukan Bu Lia kembali terlihat. Kali ini lebih cepat dan sudah mulai bertenaga. Melepaskan temannya pergi mencari menantunya, ada hal penting yang harus dibicarakan.


Langkah Bu Mila pelan keluar ruangan, menutup pintu dan berdiri di sana. Memikirkan langkah apa yang harus dilakukan sekarang. "Apa dia masih mengingat Anindi bersuami, ya? Bagaimana ini?" Bu Mila menggaruk kepala, tak gatal. Bimbang dengan keadaan. "Aku harus telepon Anindi dulu." Merogoh saku, mencari benda pipih yang canggih. 


Sebagai seorang wanita yang sudah berstatus janda dan tidak memiliki anak, Bu Mila hanya tinggal sendirian. Bersyukur bisa bertemu dengan Bu Lia dan Anindi. Mengenal mereka adalah hal yang patut disyukuri sejak dahulu. 


Bu Mila mencari kontak Anindi. Harus bisa diselesaikan sebelum berkepanjangan. Bagaimanapun, ia tak mungkin memberitahu perihal kenyataan yang menimpa putrinya. "Pasti dia bakal shock. Aku harus cari cara." Bu Mila baru saja memencet tombol telepon berwarna hijau, tetapi suara seseorang menyapa telinga Bu Mila.


"Selamat sore, Bu." Suaranya sangat lembut dan menggoda Bu Mila untuk mengangkat kepala. Menatap lekat orang itu. "Apa Bu Lianya sudah bangun?" 

__ADS_1


Bu Mila terdiam seakan terpana dengan sosok di depannya ini. Jika masih muda, sudah pasti jatuh cinta dan tergila-gila.


"Saya mau bertemu." Sosok itu senyum dengan manis. Menambah rasa kagum dalam diri Bu Mila.


__ADS_2