Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup

Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup
Makan Siang


__ADS_3

Suasana jalanan semakin ramai karena kian dekat pada jam makan siang. Biasanya, banyak karyawan kantor dan penghuni kota yang berkeliaran mencari makan siang. Memadati lagi aspal.


"Itu artinya aku bisa merasakan masakanmu. Hal yang tidak aku sangka," jawab Rendra cepat.


Anindi tertegun.


"Apa bisa kita makan bersama di taman kota?" Entah angin apa yang membuat Rendra bertanya demikian. Ia seolah menemukan minatnya di tengah keputusasaan. "Bawalah lagi makanan itu dan temui aku di taman kota. Assalamualaikum." Rendra kembali ke mobil tanpa berkata apa pun lagi, meninggalkan Anindi yang masih terdiam dengan kotak makan di tangan. Setelah mobil Rendra bergerak, barulah Anindi menyadari kepergian lelaki itu. "Hei, tunggu!" Teriakannya terdengar di daun telinga Rendra, sangat jelas. Namun, Rendra terus berkendara.


"Kenapa harus seribet ini?" Anindi menghela napas kasar, lelah juga. Di tengah siang bolong seperti ini, ia harus berkeliaran mengejar satu makhluk yang menurutnya menyebalkan. "Panasnya."


Anindi melirik barang bawaan. Tidak mungkin membawanya pulang lagi, jalan satu-satunya hanya mengikuti Rendra yang menyerahkan kembali.


Pada akhirnya Anindi pun mengendarai motor dan menyusul mobil Rendra. Mengikuti ke mana lelaki itu pergi dan berharap segera berakhir.


Mobil Rendra berhenti tepat di taman kota. Lelaki itu turun dan berjalan tanpa memperdulikan teriakan Anindi yang juga baru sampai.


"Hei, kamu bisa ambil ini dulu!' Anindi berteriak kencang. Beberapa pengunjung taman yang sedang duduk di bangku panjang di bawah pohon rindang. Cukup asri untuk sekelas kota besar, setidaknya bisa merasakan tempat teduh dan bisa dijadikan berdiam diri, menepi dari keramaian kota.


Rendra duduk di bangku panjang kosong. Tatapannya lurus ke depan, lalu disusul dengan kedatangan Anindi yang berdiri di depannya. "Kamu bisa duduk di sampingku." Lelaki itu berkata-kata tanpa melihat mata lawan.

__ADS_1


Anindi terdiam. Keberadaanya di sini bukan untuk tujuan itu. Ia menyimpan kantong plastik hitam berisi kotak makan di samping Rendra sambil berkata, "Tugasku cuma mengantarkan ini, amanat Ibu!" Menolak tegas permintaan Rendra.


Rendra mengalihkan pandangan pada Anindi, tatapannya berubah sendu. "Aku biasanya makan sendiri dari kecil. Apa kamu tega menolaknya?"


Anindi terdiam.


"Aku bukan meminta belas kasian. Kalau memang mau pergi, silakan." Rendra menyadari sifat egois ini tidak baik juga. Mengambil pemberian Anindi dan mengeluarkan kotak makan yang isinya ternyata makanan rumah. Menggiurkan. "Aku jadi lapar. Terima kasih."


Anindi masih belum bergerak. Sebagian hati kecilnya berkata untuk tetap diam, tetapi ada sebagian hati kecilnya pula yang meminta Anindi untuk tetap di sana. Membingungkan.


Rendra membaca doa sebelum akhirnya menikmati nasi dengan lauk sambal cumi, telur dadar dan tumis buncis. Perpaduan yang tak bisa dijelaskan, nikmat sekali. "Masakanmu ternyata luar biasa." Satu pujian keluar dari mulut Rendra.


"Alasannya?" Rendra bertanya sambil menikmati makan siang yang tak pernah terbayangkan.


"Kamu bisa menebaknya sendiri."


"Aku lebih suka mendengar dari orangnya langsung."


Anindi melirik Rendra sekilas, kembali menatap lurus ke depan. Area taman kota ini cukup asri dengan banyak pohon besar dan rindang dan juga bangku panjang di bawahnya. Sangat bermanfaat untuk dipakai berdiam diri dan menikmati waktu sendiri. "Alasan terbesarnya karena aku dan kamu itu bukan pasangan yang harus melakukan itu. Lalu, aku ini jualan, mana mungkin ada waktu menyiapkan makan siang. Terlebih harus diantarkan ke tempatmu. Aku bisa kehabisan waktu."

__ADS_1


"Masalah itu bisa diatur." Rasa sambal cumi buatan Anindi cukup pedas dan pas. Sangat layak untuk dijual. "Kalau memang kamu merasa kita bukan pasangan, tinggal jadikan pasangan. Lalu, yang terakhir, itu paling gampang. Aku bisa datang ke rumah atau tokomu."


Anindi sontak terkejut. Gampang sekali Rendra berkata seperti itu. "Jangan asal bicara!" Anindi geram.


Rendra menoleh ke samping. "Apa aku salah?" Alis kanan Rendra terangkat ke atas.


Percakapan ini terasa menyudutkan bagi Anindi. Rendra begitu pintar berbicara sampai rasanya Anindi kesulitan untuk mencari celah agar bisa selamat dari topik ini. "Ini bukan hal yang bisa diputuskan dengan cepat. Kamu harusnya bisa memahami itu!" Nada bicara Anindi naik satu oktaf dengan memberikan penekanan pada setiap kata-katanya. "Tolong, dipikirkan baik-baik sebelum kamu berbicara."


Rendra tertawa kecil, berhasil membuat Anindi semakin geram. "Kamu terlalu serius." Lelaki itu memalingkan wajah ke depan lagi. Melihat air mancur yang ada di taman. Rasanya lebih segar melihat air di tengah rasa panas luar biasa. "Kalau seperti itu, kamu tidak akan bisa merasakan nikmatnya hidup. Santai saja. Jangan terlalu dipikirkan."


"Aku akan serius kalau memang menyangkut hal penting, tapi jelas aku bisa santai kalau memang tidak terlalu penting!" Anindi protes. Tidak peduli seberapa asingnya Rendra di hidupnya, ia berhak untuk mengeluarkan pendapat atau mempertahankan keputusan. "Justru kamu yang sering menganggap apa-apa itu bercanda. Padahal seharusnya kamu memahami betul mana yang bercanda, mana yang memang serius."


Rendra diam. Bukan kalah, tetapi lebih mendengarkan dahulu. Membiarkan Anindi untuk mengeluarkan isi hati. Pasti perempuan itu memiliki banyak unek-unek.


Anindi berdiri, sudah cukup berada di sini. Terlebih tidak ada percakapan yang perlu dilakukan lagi. "Aku sebenarnya menghindari perdebatan, tapi itu ternyata sulit." Anindi diam sejenak. Menjeda ucapannya, lalu berujar lagi, "Jangan beranggapan gampang untuk sesuatu yang serius karena bisa jadi hal itu menyinggung orang lain. Kamu harus belajar banyak hal kalau di dunia ini tidak semuanya bisa sesuai keinginanmu. Maaf, aku pamit. Assalamualaikum."


Anindi melangkah ke depan, berbalik badan dan mengambil langkah dua kali ke depan kembali. Namun, langkahnya terhenti karena ucapan Rendra.


"Aku bukan ingin membuatnya bercanda, tapi terkadang kita juga perlu menanggapinya dengan santai agar pikiran juga tidak pusing. Kamu sepakat bukan?" Menoleh ke arah Anindi, tersenyum kecil. "Kalau terlalu serius, aku takut hanyut dan tidak bisa tertawa lagi."

__ADS_1


Kalimat Rendra ini terdengar menyedihkan bagi Anindi. Seolah memberikan isyarat sesuatu yang ingin tersampaikan pada Anindi, walaupun sedikit sulit. Hanya saja lelaki itu senang berteka-teki, ini yang menyebalkan. Tarik ulurnya kuat, bahkan tidak bisa tertebak begitu saja.


__ADS_2