Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup

Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup
Bunga Yang Sama


__ADS_3

"Ternyata toko ini milik kamu. Aku baru tau." Pria muda tersebut mengamati beberapa bunga di toko Anindi.


Anindi berdiri di belakangnya, memperhatikan lelaki yang sudah membuat kehebohan beberapa menit lalu. "Kamu kenapa bilang ke semua orang kalau aku istrimu? Mereka jadinya salah paham." Sampai detik ini pun, Anindi belum mengetahui siapa nama pria tersebut.


"Aku senang saja menjahilimu." Dengan entengnya pria tersebut berkata itu. Ia berbalik badan, menatap lekat Anindi yang kini menundukkan kepala. "Kita udah beberapa kali bertemu bukan?" 


Anindi mengangguk. "Di mushola, ruangan Inap ibuku sama di sini."


"Benar." Telunjuk kanannya menuding ke Anindi. "Sepertinya kita belum kenalan."


"Untuk apa? Kita juga tidak akan banyak bertemu." Anindi menolak. Melihat sikap lawan bicaranya yang seperti ini saja, sudah membuat kesal. Apa lagi harus berkenalan.


Pria itu tertawa kecil. "Ada pepatah mengatakan kalau tak kenal, maka tak sayang. Gimana aku mau sayang, kalau tidak kenal." Anindi sontak mengangkat kepala, pemancingan yang bagus. "Aku Rendra." Pria itu mengulurkan tangan kanan, hendak berjabat tangan. 


Anindi diam, ia kembali menundukkan kepala dan hanya berkata, "Nggak usah jabatan tangan, kita bukan mahram. Aku Anindi, sudah cukup?" 


Rendra diam sejenak, mengamati Anindi dan menarik kembali tangan kanannya. "Ok, tidak masalah." Ekor mata kanan Rendra menemukan bunga anggrek putih dan bunga mawar merah yang cantik menggoda. "Aku tidak sengaja berjalan ke arah sini dan melihat toko bunga. Tulisannya tutup, tapi keluar pria tadi. Apa mungkin dia pelanggan spesial sampai toko tutup pun, bisa masuk."


Kedua mata Anindi membulat sempurna. Rendra ini pintar bicara, walaupun penampilannya begitu berantakan. Lihat saja sekarang, lelaki itu memakai kaos berkerah, tetapi lengan oblong dengan celana jeans yang selalu ada robek di bagian lutut. Entah style seperti apa yang sedang diikuti pria ini?

__ADS_1


"Aku rasa, sih, begitu. Mungkin pria tadi itu pacarmu. Ya, tidak masalah juga. Tapi, kalau memang pacarmu. Kenapa tidak kamu kenalkan saja ke ibumu?" Rendra terus bertanya-tanya dalam hati.


Anindi menghela napas kasar. Di antara pertanyaan Rendra, ini yang paling menjengkelkan. Lelaki di depannya ini terkesan selalu ingin tahu tentang kehidupan pribadinya. Padahal, ia sendiri tidak peduli dengan kehidupan percintaan orang lain. "Aku nggak punya kewajiban untuk menjelaskan ke kamu tentang siapa lelaki tadi. Yang jelas, dia datang untuk membeli bunga. Itu saja!" Anindi tegas, walaupun tidak dalam keadaan menatap Rendra.


Rendra terus berjalan ke arah kanan, melihat setiap keindahan yang dihadirkan oleh sekumpulan bunga nan indah. Ada berbagai jenis bunga di toko ini, harumnya pun semerbak. Rasanya ingin semua diambil dan disentuh, karena mereka terlalu cantik. "Aku mau satu buket bunga yang sama juga dengan lelaki itu." Keputusan yang entah kenapa muncul begitu saja dari otak Rendra. "Sama persis, wajib!"


Anindi terkejut bukan main. Mengangkat lagi kepala, menatap punggung Rendra yang terlihat sangat bidang dan mungkin juga kuat. "Untuk apa kamu mau bunga yang sama?" Entah mengapa juga pertanyaan itu pun muncul.


Rendra berbalik badan, mendapati Anindi langsung menunduk lagi. "Suka-suka aku!" Dengan sedikit sinis menjawab. Melangkah satu kali ke depan. "Pembeli itu raja bukan? Jadi, apa permintaanku salah."


Anindi bergeming. 


Anindi menghela napas kasar lagi. Rupanya Rendra punya sifat yang susah sekali mundur, padahal mereka baru saja bertemu. Ingin rasanya protes pada Tuhan tentang pertemuannya dengan Rendra. Namun, itu bukan haknya. Sebab, apa pun yang sudah ditentukan-Nya adalah sesuatu yang sudah terbaik. "Aku memang membuat sesuai pesanan pelanggan, tapi aku rasa kamu mau buket bunga itu bukan karena keinginanmu. Jangan bilang karena masalah sepele tadi, kamu kesal?" 


Rendra tertawa kecil, berhasil membuat Anindi semakin kesal. Lelaki gila yang sepertinya lebih muda dari Anindi.


"Kenapa malah tertawa?" Anindi sulit menahan kekesalan. Hanya saja, tidak mungkin untuk menatap mata Rendra. "Coba tanya ke hatimu. Orang itu pesan buket bunga karena kepentingan pribadi ataupun mau memberikannya ke orang tersayang. Rasanya terlalu menyakitkan kalau bunga-bunga itu dirangkai cuma karena ingin memberikan rasa puas atas kekesalanmu saja." Anindi mulai berani untuk berdebat. Tidak ada salahnya juga.


Rendra diam beberapa saat, kemudian menepuk tangan dua kali. "Wah, ternyata kamu punya nyali juga untuk mengutarakan isi hati. Harusnya kamu tunjukan itu di depan ibumu kemarin dan mengatakan kalau aku bukan suamimu."

__ADS_1


Anindi lelah. Rendra membahas itu terus menerus, ia sudah menjelaskan sedemikian detail. "Kamu bisa paham situasinya tidak?" 


Rendra mengerutkan kening. "Karena saran dokter?" Ia ingat betul percakapan dengan Anindi. "Tapi, kamu sama saja sedang berbohong ke ibumu sekarang. Apa itu bisa dibenarkan juga?" 


"Memang benar." Anindi mengakui kesalahannya. Memilih untuk diam ketika Rendra diklaim sebagai suaminya oleh sang Ibu. Namun, perempuan itu tidak punya pilihan lain. "Kebohongan itu tidak baik. Aku juga mengakuinya, tapi ini keadaannya berbeda. Ibu masih dalam kondisi yang belum stabil, dan aku harus tetap begitu sampai Ibu benar-benar bisa mengingatnya dengan baik."


"Kalau ibumu masih belum bisa mengingatnya sampai lama, apa kamu tetap seperti ini?" Rendra terus memojokkan Anindi. Ingin melihat reaksi Anindi selanjutnya. "Sepertinya drama ini masih sangat panjang. Wah, menarik sekali."


Anindi bergerak ke arah samping kanan, tepatnya ke dekat meja. "Aku tidak banyak waktu, kamu mau pesan buket atau tidak?" Tidak ingin meneruskan perdebatan yang kurang baik. "Kalau tidak, sebaiknya pergi dari sini. Aku sibuk."


Dua bola mata Rendra mengikuti ke mana pun Anindi pergi, kemudian berkata, "Apa perkataanku tadi kurang jelas?" 


Anindi yang hendak mengambil gunting itu pun, terdiam. Setiap kali ditanya, Rendra justru mengajukan pertanyaan balik. Ini yang membuat Anindi kesal. "Kamu mau buket yang sama, kan? Tunggu sebentar, aku buatkan." Anindi bergegas kembali ke arah kiri, tepatnya ke depan bunga mawar yang berada di samping Rendra. Jaraknya dengan lelaki itu hanya sekitar satu meter, dan Anindi membelakangi Rendra. "Apa ada kata-kata yang dituliskan di catatan?" Mengambil setiap bunga mawar merah yang dibutuhkan nanti. "Bilang saja, nanti aku tuliskan."


Rendra mengamati punggung Anindi, selalu tertutup sekali pakaian gadis ini. Manis juga. "Ada."


"Untuk siapa? Kalau ada namanya." Lima tangkai bunga mawar merah sudah ada di tangan perempuan itu. Tinggal dirangkai saja. 


"Anindi." Rendra menyunggingkan senyum kecil. "Nama yang indah, kan? Setidaknya menurutku." 

__ADS_1


Anindi tertegun. Apa maksud lelaki ini. Namun, nama Anindi itu banyak. Dan, pastinya bukan dia saja. 


__ADS_2