Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup

Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup
Motor Misterius


__ADS_3

Motor Anindi meluncur terus. Mencari tempat yang lebih ramai dari ini. Ketika di lampu merah, ada satu mobil yang berhenti menunggu. Anindi memepetkan kendaraannya ke mobil itu, tidak peduli bagaimana tanggapan si pemilik.


Anindi menoleh ke belakang, motor besar itu tak ada. Entah berhenti di mana. Anindi tidak tahu pasti. "Astagfirullah, itu siapa sebenarnya?"


Lampu merah baru menyala beberapa detik, tentu saja akan menunggu sedikit lama. Pemilik mobil itu menurunkan kaca bagian kanan, lalu berkata, "Kamu, ada apa?" Rupanya Adib yang ada di sana.


Anindi tersentak. Menoleh ke kiri dan terkejut. "Kamu!" Menunjuk Adib dengan tangan kanan. Syukurlah bertemu orang yang dikenal.


Adib sedikit penasaran karena Anindi terus menengok ke belakang. Takutnya ada sesuatu. "Kenapa dari tadi kamu terus menengok ke belakang. Apa ada sesuatu?" Adib mencoba mencari jawaban sendiri, tetapi tak ada yang dilihatnya selain jalanan kosong.


Anindi diam sebentar. Rasa takut itu masih ada, sisanya. "Tadi ada motor yang membuntutiku." Akhirnya jujur juga.


Lampu merah sebentar lagi akan berubah hijau. Tidak mungkin mereka berbicara di sini. "Kamu bisa menepi di depan? Kita bicara sebentar." Adib hanya takut ada orang jahat yang mengincar Anindi. Dengan alasan kemanusiaan, lelaki itu melakukannya.


Belum sempat Anindi menjawab, lampu sudah berubah hijau. Mobil Adib lebih dahulu meluncur ke depan, disusul oleh Anindi. Perempuan itu menurut ketika melihat mobil Adib menepi di sisi jalan, setelah melewati pertigaan.


Adib tampak keluar dari mobil. Menghampiri Anindi yang masih diam di atas motor. "Kamu yakin dia mengikutimu?" Lelaki itu langsung bertanya tanpa basa-basi.


Anindi seolah dihipnotis, mengangguk cepat.


"Kamu lihat wajahnya?" Sekali lagi Adib bertanya. Kala itu juga Anindi menggelengkan kepala. "Kamu harus waspada, di zaman sekarang banyak sekali kejahatan." Lelaki itu memperhatikan Anindi, melihat tas bekal yang menggantung di motor Anindi. "Kamu mau pergi ke mana?"


Anindi menenangkan diri. Dan, anehnya tiba-tiba keadaan jalan berubah ramai sekali, padahal tadi lumayan sepi. Benar-benar di luar dugaan. Anindi sadar, barulah menjawab. "Aku mau ke toko, tapi mau menemui seseorang. Entahlah." Anindi bingung sendiri. Kotak makan ini amanah dari ibunya, tetapi tidak mungkin menemui seorang lelaki di malam hari. Bimbang juga.

__ADS_1


Adib diam sebentar, rasanya khawatir juga. Takut terjadi apa-apa. "Sebaiknya aku menemanimu."


Anindi tersentak. "Maksudnya?" Kening wanita itu berkerut kencang. Lagi-lagi dibuat salah paham.


Adib mencoba menjelaskan menurut bahasanya. "Ah, maaf, jangan salah paham dulu." Jangan sampai Anindi berpikiran negatif. Pria yang baru pulang bekerja itu tidak sengaja bertemu dengan Anindi. "Maksudnya, saya akan mengikutimu sampai tempat tujuan. Jangan salah paham, ini semua demi memastikan kamu selamat."


"Untuk apa?" Anindi justru bertanya lebih dalam. Ia rasa tidak perlu, sebab baik dirinya ataupun Adib tidak memiliki hubungan untuk melakukan hal itu. Teman atau saudara, jelas tidak ada. Dan, pastinya Adib pun tidak mempunyai kewajiban untuk itu pula.


Angin malam menerpa kedua orang tersebut, menerbangkan sebagian jilbab Anindi juga menyentuh kulit sampai menusuk ke tukang. Dingin. Beberapa suara kendaraan terdengar ketika saling bersentuhan di jalan. Ada yang menyalip, tetapi tidak memberi aba-aba, sampai menimbulkan kekesalan pengendara lainnya.


"Aku bukan anak kecil yang harus ditemani." Anindi merasa lebih baik sendiri.


"Saya tau." Adib merasa bukan masalah itu yang harus diperdebatkan saat ini. "Kamu sudah dewasa, kamu bisa ke manan-mana sendiri, tapi kamu tetaplah perempuan yang butuh pengawalan orang lain, termasuk laki-laki. Niat saya pun baik."


"Saya tidak tau apa yang akan terjadi ke kamu nanti di jalan. Bisa jadi orang itu masih ada. Maka dari itu, saya menawarkan diri untuk mengawalmu, itu pun kalau kamu berkenan," lanjut Adib.


Setiap kata yang keluar dari Adib mengingatkan Anindi pada seseorang. Rendra, nama itu justru muncul ketika mereka sedang berbicara. Dari gaya bahasa dan kedewasaannya, hampir sama. Padahal jelas berbeda orang.


Adib menghela napas kasar. Jangan sampai memaksa Anindi, sebab gadis itu berhak untuk menolak. "Saya tidak akan memaksamu, tapi kalau kamu berkenan. Mari, saya antarkan sampai tempat tujuan." Dengan sangat lembut, kali ini Adib mengutarakan maksudnya.


Anindi merasa Adib jauh lebih dewasa dari Rendra. Lelaki itu bahkan tidak melibatkan emosi saat penolakan yang dilakukan Anindi. Berusaha membuat Anindi merasa nyaman sehingga Anindi juga tidak terlalu terpojokkan. "Sebenarnya aku ingin bertanya ke Allah sesuatu."


Adib bergeming. "Kenapa kamu selalu ada di setiap aku kesulitan?"

__ADS_1


Suara klakson mobil mengusik fokus mereka. Keduanya menoleh ke jalan raya, mendengar bagaimana suara nyaring seorang lelaki penuh emosi karena disalip tanpa aba-aba. "Hei!" Kesal sekali lelaki itu.


Keadaan jalan pun cukup ramai. Kendaraan yang tadi Anindi rasa hilang, kembali datang. Padahal seharusnya keadaan ini berlangsung juga tadi sehingga dirinya tidak ketakutan.


Adib kembali memalingkan wajah dari jalan raya. Kali ini mencari jawaban untuk Anindi, pasti perempuan itu menunggu. Namun, pria itu juga tidak menemukan jawaban tentang pertanyaan itu. Lebih tepatnya, Adib pun menanyakan hal yang sama.


"Saya tidak tau," jawab Adib.


Memang benar kata Anindi, Adib selalu ada ketika perempuan itu berada dalam masalah. Entah itu di kantor ataupun jalanan. Beberapa bertemu pun, begitu. Mereka seperti sudah disetting oleh semesta untuk bisa bertemu dalam keadaan mendesak dan membutuhkan.


"Seperti halnya malam ini, saya yang biasanya pulang ke rumah, nyatanya tergerak hati untuk pergi ke apartemen adik dulu." Adib menjeda sebentar kalimatnya. Memikirkan lagi alasan semesta melakukan ini pada mereka. "Ternyata Allah sudah mengatur pertemuan kita di sini dengan keadaan kamu ketakutan dan butuh bantuan. Itulah yang menjadi pertanyaan saya juga."


Anindi terdiam. Rasanya tidak mungkin Tuhan mengatur itu semua tanpa tujuan, jelas saja ada hikmah di balik ini semua.


"Tapi, apa pun itu, saya senang bisa bertemu dengan kamu." Adib tidak memungkiri hal itu. Hatinya senang.


Suasana jalanan mendadak sepi lagi. Keheningan itu sampai ke jiwa Anindi. Aspal jalanan itu menjadi saksi bagaimana orang yang tak pernah dikenalnya dengan baik justru diutus menjadi penolong di kala kesusahan. Tuhan memang paling baik.


"Anindi!" Tiba-tiba suara menyapa telinga Anindi dan Adib ketika mobil hitam berhenti di samping mereka. "Aku tidak menyangka bisa bertemu kamu di sini, dengan lelaki juga."


Anindi yang kenal suaranya. Langsung menoleh ke samping, kedua bola mata perempuan itu melebar. Ini gila! Mengapa harus di waktu yang tidak tepat orang itu datang?


"Kamu yang sangat menjaga diri, ternyata sekarang senang berkeliaran malam-malam dengan lelaki. Aku sama sekali tidak menyangka," kata orang itu.

__ADS_1


__ADS_2