Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup

Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup
Calon Suami


__ADS_3

Malam datang menyapa. Anindi sampai di rumah tepat bersamaan dengan suara azan. Perempuan itu langsung disambut hangat sang Ibu yang masih saja mempertanyakan keberadaan Rendra, walaupun Beliau tidak tahu namanya.


Anindi menjawab sebisa mungkin, menjelaskan jika orang yang disangka suaminya itu sedang ada di luar kota. Mungkin sudah menumpuk dosanya, tetapi ia terpaksa.


Perempuan manis itu bergegas pergi ke kamar. Mandi, wudu dan salat. Menghamparkan sajadah untuk bertemu Sang Khalik. Mencurahkan segala isi hati yang menjadi unek-uneknya selama ini.


Mukena berwarna putih polos yang dibelinya dari hasil berjualan itu menjadi saksi ketika linangan mata perempuan itu tidak kuasa tertahan. Terlalu berat cintaNya terhadap Anindi, tetapi harus terus semangat untuk bisa melewati ini.


Anindi mengangkat kedua tangan, lalu berkata, "Ya Allah, aku tidak bermaksud membohongi Ibu, tapi saat ini keadaan Ibu tidak bisa dipaksakan untuk mengingat semuanya." Perempuan itu menghela napas kasar. Sesekali memejamkan mata, merasakan lonjakan perasaan yang sulit diartikan. "Maka dari itu, permudahlah aku dalam mengakhiri keadaan ini agar tidak terlalu berlarut-larut. Aku tidak ingin Ibu sampai kecewa berat karena mengetahui hal yang tidak benar."


Anindi menutup mata dengan kedua tangan, lalu bersujud lagi. Kali ini tangisnya semakin pecah. Beberapa masalah sudah terlewati dengan baik, tetapi yang kali ini dirinya harus berhadapan dengan orang paling dicintai. Susah dicarikan jalan keluar.


Setelah puas melakukan cerita pada Yang Maha Kuasa, Anindi langsung keluar kamar. Memasak makan malam. Menu kali ini cukuplah sup bakso dengan telur dadar saja. Sederhana, tetapi nikmat.


Hanya butuh waktu setengah jam, masakan Anindi selesai. Ia memanggil sang Ibu, makan bersama dengan lahap tanpa perbincangan. Tenang sekali. 


Di tengah keheningan, tiba-tiba ibunya bertanya lagi. Anindi menjawab dengan sabar dan tenang.


"Nak, apa kamu tidak ingin menyusul suami ke luar kota? Suami Istri itu harus bersama-sama," tanya Bu Lia. Makanan di piringnya tinggal beberapa suap lagi.


Belajar dari beberapa kejadian, Anindi berusaha untuk tenang. "Kali ini aku tidak bisa ikut, Bu."


Bu Lia terdiam, mengerutkan kening dan berkata, "Kenapa?" Penasaran dengan jawaban sang Anak. Bu Lia memperhatikan wajah Anindi dengan lekat. "Nak, kamu dan suamimu tidak sedang bertengkar, kan?" 

__ADS_1


Anindi tersentak. Tidak menyangka akan panjang seperti ini. Tangan kirinya di bawah meja mengepal, sedikit bingung juga. Mungkin benar kata Rendra, jika ia harus belajar banyak tentang akting agar bisa lebih tenang ketika berada di situasi sulit. "Tidak, Bu. Kami baik-baik saja." Anindi menyembunyikan wajah bimbang di lengkungan senyuman manis. Memutar otak agar bisa mengakhiri perbincangan topik ini. "Ibu, sebaiknya makan dulu. Nanti nasinya tidak enak." Semoga saja sang Ibu bisa paham.


"Ah, iya, Nak." Bu Lia kembali makan. 


Anindi lega. Sesegera mungkin menghabiskan makannya, kemudian mencuci piring dan tidur. Barangkali dengan beristirahat, ia bisa sedikit memberikan jeda untuk pikiran.


Berada di kamar yang tidak terlalu luas. Namun, cukup rapi dan menenangkan. Ada jendela kecil yang selalu terbuka ketika malam hari untuk bisa melihat langit malam. Tempat ini nyatanya menjadi tempat paling nyaman, di sini Anindi bisa menikmati setiap potongan kenangan masa lalu yang indah ketika sang Ayah masih ada.


Tidak sesuai rencana awal, Anindi justru masih terbangun sambil berdiri di jendela. Rembulan malam ini jauh lebih bersinar dari sebelumnya, ribuan bintang pun hadir menemani. Manis sekali. "Ayah, aku rindu." Sebagai seorang anak perempuan tunggal, ada sepotong hati Anindi yang mendambakan ayahnya. Sosok lelaki yang sudah pergi lebih dahulu sekitar tiga tahun belakangan. "Dulu, Ayah selalu bilang kalau aku akan bahagia saat sudah dewasa. Tapi, nyatanya aku justru jadi wanita yang mengalami banyak luka. Bukan dari Ayah, tapi seseorang."


Pikiran Anindi terbang ke angkasa, mencari hal yang tidak tahu di mana tempatnya. Mengantarkan Anindi pada sebuah momentum yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. "Ayah, tau tidak." Anindi diam sejenak, menjeda lebih dahulu ucapannya. "Dia datang lagi seenaknya sekarang, padahal aku mati-matian mengobati bekas luka itu. Tapi, yang lebih pentingnya sekarang itu tentang ingatan Ibu."


Sedari kecil, Anindi sudah dekat dengan sang Ayah. Bahkan, perempuan itu lebih dekat dibandingkan pada sang Ibu. "Aku bingung karena anggapan Ibu tentang suami. Aku sebenarnya ingin jujur, tapi itu tidak mungkin untuk sekarang."


***


Dua hari setelah itu, Bu Lia harus melakukan check up lagi. Sebelum pergi ke rumah sakit yang jadwal dokternya memang pukul dua siang, Anindi memilih untuk membuka toko lebih dahulu. Ada empat pesanan bunga dan pastinya harus segera selesai sebelum pukul sebelas siang. Barangkali ada juga pelanggan yang datang membeli bunga di sana, semoga saja ada rezeki.


Anindi membuka toko seperti biasa, pemilik toko apotik menegurnya tidak lupa menanyakan tentang pengakuan Rendra beberapa hari lalu di depan toko.


Anindi menelan ludah, entah seperti apa harus menjelaskan. Belum sempat menjelaskan, pemilik toko boneka yang ada di samping kanan tokonya pun menghampiri dan ikut menanyakan hal yang sama.


Posisi Anindi sedang menyapu toko, benda itu pun masih ada di tangan. Berdiri di depan dua ibu paruh baya yang sudah mengenalnya dengan baik.

__ADS_1


"Jangan malu, Nak, kalau memang itu calon suamimu. Gadis manis sepertimu memang banyak yang suka," kata Bu Ratna.


Bu Kila–pemilik toko boneka–menganggukkan kepala dua kali. "Benar itu, Nak. Kamu juga sudah pas untuk menikah. Pernikahan pertama itu memang mendebarkan." Wanita itu tersenyum manis.


Anindi terdiam. Ternyata selain di rumah, di sini pun dirinya harus menghadapi banyak pertanyaan. Memang wajar juga karena Rendra begitu lantang mengatakan jika Anindi adalah calon istri. Ah, menyebalkan sekali lelaki itu. Pembuat masalah yang merumitkan hidup Anindi. "Begini Ibu-Ibu." Anindi berniat menjelaskan. Jangan sampai para ibu ini pun salah paham dengan perkataan Rendra. "Sebe–"


"Assalamualaikum." Kalimat Anindi terpotong ketika suara sang Ibu terdengar bersama dengan suara Bu Mila. Sontak Anindi kaget, Bu Ratna dan Bu Kila juga sama. 


"Wa'alaikum salam. Masya Allah, Bu Lia sudah sehat?" Bu Ratna langsung menghampiri. Bersalaman dan mencium pipi kanan dan kiri. Begitu pun dengan Bu Kila. 


Bu Lia ditemani Bu Mila ingin datang melihat toko anaknya karena merasa jenuh di rumah. "Alhamdulillah, baik, Bu."


Bu Ratna beberapa kali mengucapkan kata syukur, Bu Kila pun sama.


"Ada apa, ya, di depan toko anak saya Ibu-Ibu?" Bu Lia heran. Takutnya ada kejadian yang terjadi.


"Ah, itu, ya." Bu Ratna langsung menyahut. "Kami sedang membacakan soal lelaki yang kemarin bertengkar di depan toko, mengaku calon suaminya Anindi, Bu."


Kening Bu Lia mengerut kencang. "Calon suami?" Menatap lekat Anindi.


Sementara Anindi terdiam, sedangkan Bu Mila hanya melempar pandangan pada Anindi. Ikut bingung juga.


Pikiran Bu Lia terjurus pada nama Rendra. "Bukan calon suami mungkin Ibu-Ibu, tapi memang suaminya Anindi." Bu Lia menjelaskan.

__ADS_1


Mulut Anindi menganga, habislah dirinya. Permasalahan semakin rumit. Kini bukan hanya sang Ibu saja yang mengetahui itu, tetapi bisa jadi sederatan pemilik ruko di sini.


__ADS_2