
Anindi jelas menolak. Sudah terlalu dalam membohongi ibunya. Yang ia perlukan hanyalah berusaha mencari waktu yang tepat untuk menjelaskan pada ibunya. "Nggak perlu!" Dengan tegas menolak.
Rendra melirik sekilas dari kaca depan. Perempuan ini memiliki pendirian kuat. Bahkan, angin pun tidak bisa menggoyangkannya. "Kamu yakin?" Sekali lagi bertanya.
Anindi mengangguk cepat. "Aku selalu yakin dengan keputusan yang dibuat."
Rendra menerima keputusan Anindi. Tak ada yang bisa dilakukan selain berharap semoga ibunya bisa segera mendapatkan ingatan yang hilang.
Keduanya sampai di depan rumah sakit. Anindi diberikan pertolongan pertama dan akhirnya keluar dengan kaki diberi beberapa plaster luka.
Rendra masih menunggu dengan tenang sampai Anindi keluar rumah sakit.
"Ayo, aku antar pulang." Tanpa ragu Rendra langsung menawarkan bantuan.
Anindi menggelengkan kepala. "Tidak perlu." Gadis itu tidak ingin merepotkan siapa pun, baik itu keluarga ataupun teman. Apa lagi Rendra yang hanya sebatas kenalan di rumah sakit. "Aku bisa pulang sendiri, naik angkot."
Rendra memperhatikan Anindi. "Kamu yakin?"
__ADS_1
Anindi menghela napas kasar. "Aku sudah bilang, semua yang aku katakan itu selalu yakin."
Ingin rasanya memaksa, tetapi Rendra sadar diri bahwa tidak punya hak untuk itu. "Baiklah. Setidaknya aku sudah menawarkan bantuan."
Pada akhirnya mereka pun berpisah. Motor Anindi sendiri sudah diangkut oleh montir dari keluarga Rendra. Tinggal perempuan itu membawanya besok hari. Mengingat tidak ada kendaraan lagi, Anindi terpaksa pergi ke toko dengan naik angkot.
Hari ini ada pesanan buket bunga besar ke salah satu perusahan penerbitan. Dan, uang mukanya pun sudah dibayar oleh si Pemesan. Dengan kata lain, Anindi harus tetap pergi ke toko dan memenuhi pesanan.
Dengan menggunakan angkutan umum, Anindi bisa sampai di toko. Gadis itu ditodong beberapa pertanyaan dari pemilik apotek di samping, tentunya tentang kesehatan sang Ibu. Termasuk ada kalimat yang keluar seperti ini. "Nanti, Tante ingin menjenguk ibumu," katanya. Anindi jelas tidak bisa menolak, itu niat baik setiap orang.
Setelah berbincang sekitar lima menit, Anindi segera membuka toko. Tiga pesanan menanti dan dua di antaranya tidak terlalu rumit. Hanya memerlukan waktu lima belas menit. Kedua pesanan ini akan diambil oleh pemesan sekitar satu jam lagi.
Dua buket bunga selesai dalam kurun waktu empat puluh lima menit. Tak lupa Anindi menghubungi pemiliknya agar bisa segera diambil. Setidaknya, ia hanya perlu mengerjakan satu lagi.
Pesanan diambil. Anindi mendapatkan upah atas itu. Bersyukur masih bisa mengais rezeki di tengah himpitan ekonomi dan gempuran para pencari kerja.
"Alhamdulillah. Tinggal satu buket bunga lagi, tapi harus bisa selesai sebelum Asar Apa bisa, ya?" Tangan Anindi lumayan pegal, belum lagi melayani pembeli yang datang langsung. Akan tetapi, ada senang juga dalam hati. Tokonya ramai dan dipercayai orang banyak.
__ADS_1
Pembeli rata-rata menginginkan mawar merah, dan memang yang membelinya pun dari kalangan muda-mudi. Bisa dikatakan mereka membeli itu untuk menyenangkan pasangan, sedikit iri juga. Sebab, setiap merangkai bunga mawar, Anindi merasa tertarik ke dimensi masa lalu. Menakutkan, tetapi ada menyenangkannya juga.
"Pokoknya harus segera selesai secepat mungkin. Kalau tidak, aku mempertaruhkan nama toko bungaku." Anindi menghela napas berat. Kehidupan ini tidak selamanya sejalan dengan apa yang diinginkan. Namun, perempuan itu selalu berusaha yang terbaik. Kemudian, memasrahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa.
Bunga yang bisa dikatakan dengan ukuran cukup besar itu dipesan oleh sebuah perusahaan penerbitan. Katanya, pemilik dari perusahaan itu berulang tahun yang ke tiga puluh tahun. Cukup matang untuk usia seorang manusia. Hanya saja, kematangan usia tidaklah menjadi tolak ukur dari kedewasaan itu sendiri. Jangan sampai tertipu.
Anindi mengerjakan pesanan itu sendirian. Hanya beristirahat untuk salat dan makan sebentar, selanjutnya perempuan itu terus menguji kelihaian kedua tangan dan otak untuk menciptakan karya.
Tiga jam berkutat, akhirnya buket yang banyak menggunakan bunga mawar merah dan putih itu pun selesai. Tak lupa dengan ucapan pula, sepertinya yang memesan ini para karyawan juga. Cukup menyenangkan lingkungan di sana, sepertinya.
"Bismillah, aku harus cepat-cepat kirim bunga ini." Anindi menyambar tas yang selalu menemani, keluar membuka buket bunga serta menutup toko. Ia memesan mobil online sebagai transportasi agar tidak perlu naik turun angkutan umum.
Sepanjang jalan ke sana, Anindi memperhatikan sekitar. Suasana sudah teduh, sore pun datang menyapa. Sebentar lagi mungkin senja datang, rasanya perempuan itu terdorong ke sebuah momentum indah yang masih membekas dalam ingatan.
Mobil berhenti, terpaksa karena macet. Anindi pun tidak bisa berbuat apa-apa, jalanan ini milik umum. Berharap saja bisa datang tepat waktu.
Ketika menunggu, ia tak sengaja menoleh ke samping kanan, menurunkan kaca jendela sampai habis. Dan, hal tidak disangka pun terjadi. Kedua netra itu menangkap sosok yang pernah ditemuinya. Dunia ternyata sangat sempit.
__ADS_1
Sosok itu menoleh ke arah Anindi yang mobilnya berada di samping kendaraan sosok tersebut. Mata mereka bertemu, sekejap, saling menatap satu sama lain di gempuran suara klakson mobil yang sudah tidak sabar sampai rumah.