
"Selamat pagi." Seorang Ibu paruh baya turun dari mobil hitam itu.
Anindi terdiam sebentar, lalu berkata, "Selamat pagi juga."
Penampilan sang ibu luar biasa manis dan sederhana. Terlihat sebagai orang kaya yang tak sombong. Bahkan ibu itu terus mengukir senyum di bibirnya, cantik. "Apa benar ini toko bunga milik Anindi?" Mendekati Anindi. Berdiri di depan.
Anindi mengangguk cepat. "Benar, Bu. Ada yang bisa saya bantu?"
Mata ibu itu menatap dalam Anindi. Memperhatikan penampilan Anindi yang hari ini memakai gamis biru muda dengan jilbab hitam, sangat pas sekali. "Saya senang sekali buket bunga dari toko ini. Apa saya bisa melihat-lihat ke dalam?"
__ADS_1
"Boleh, Bu. Mari." Dengan senang hati Anindi mempersilakan ibu paruh baya itu masuk.
Keduanya berada di dalam. Ibu itu terus mengamati satu per-satu bunga yang ada. Termasuk bunga mawar merah dan tulip. Warna merah serta putih yang jika dipadukan akan sangat cantik sekali.
Anindi bergegas mendekati bunga tulip putih itu. Selalu sayang sekali jika jenis bunga ini diadopsi oleh pembeli. Akan tetapi, ia menyadari jika itu adalah salah satu risiko saat berjualan. "Ini bunga tulip namanya, cantik sekali." Anindi menyentuh salah satu daun berwarna putih itu. Sangat lembut dan menenangkan. "Beberapa orang ada yang mengaguminya, termasuk saya sendiri."
Tangan kanan ibu itu ikut menyentuh salah satu daun bunga. Merasakan sensasi lembut serta halus yang bisa dirasakan pada jari jemarinya. "Saya juga sama. Tulip ini adalah salah satu bunga yang paling digemari."
Si Ibu membalas senyuman manis kembali. "Saya jadi paham kenapa bunga ini sangat terawat dan cantik karena pemiliknya begitu mencintai si bunga."
__ADS_1
Anindi malu. "Terima kasih, Bu. Tapi, saya rasa semua bunga di sini juga sangat cantik."
"Tentu saja." Ekor mata ibu tadi kembali bergerak ke bunga mawar merah dan putih. Sama-sama cantiknya. Kedua kaki ibu itu mendekat, tangannya menyentuh satu helai dari bagian bunga tersebut dan berkata, "Beberapa waktu lalu anak saya membawa buket bunga mawar dari sini. Masya Allah, cantik sekali. Dan, sampai sekarang bunganya masih segar."
Anindi terdiam. Itu artinya anak dari ibu ini adalah pelanggan Anindi. Entah yang mana. "Syukurlah, Bu." Anindi cukup bahagia. Dengan artian, bunganya bisa memberikan kebahagiaan pada setiap orang yang diberikan. "Saya tidak tau anak Ibu yang mana, tapi saya yakin kalau pilihannya adalah paling baik. Bunga mawar itu melambangkan cinta. Bukan pada pasangan saja, tapi juga pada orang tua dan kerabat."
Ibu itu sontak berbalik badan, menatap lekat Anindi. "Apa kamu yakin tidak mengenalnya?" Kening ibu paruh baya itu berkerut kencang. Rasanya tidak mungkin. "Dia membawa buket bunga itu dengan wajah bahagia. Padahal, saya selama ini tidak pernah melihat wajah itu. Ah, lebih tepatnya belum melihat."
Anindi bergeming. Otaknya berpikir keras dengan rasa penasaran yang muncul tiba-tiba di jiwa. Siapakah gerangan sosok itu? Banyak sekali pembeli yang datang, jelas saja Anindi tidak bisa mengingatnya satu per-satu. "Maaf, Bu, saya terlalu banyak melayani pelanggan. Sepertinya saya lupa."
__ADS_1
Ibu itu tersenyum kecil, bergerak ke depan sekali. Kini jaraknya dengan Anindi hanya setengah meter saja. Menepuk pundak kanan Anindi dan berkata, "Saya mencari tau kamu dengan mengandalkan nama tokomu. Saya penasaran, pemilik toko bunga yang bisa membuat anak saya terlihat lebih berwarna. Rupanya kamu."
Anindi tersentak. Topik pembicaraan ini sudah menjalur ke hal yang lebih sensitif. Sedikit pribadi. "Maaf, Bu, apa saya boleh tau nama anak Ibu?"