
Bu Lia menyambut baik perkataan Rendra. Memiliki menantu dengan pemikiran yang sangat matang dan dewasa saja, harus bisa disyukuri. "Kalau seperti itu, Ibu pinjam dulu Anindi, ya, Nak?"
Terselip senyum kecil di bibir Rendra, merasa sedang membicarakan sebuah benda sampai ada kata pinjam meminjam.
"Ibu, Anindi bukan barang." Orang yang mereka sedang bicarakan pun protes. Wajahnya sedikit kesal.
Bu Lia terkekeh geli dan hal ini berhasil membuat senyum Anindi mengembang. Mendengar tawa kecil tiang dari sang ibu bisa menjadi penyemangat dirinya untuk lebih bekerja keras dalam mencari rezeki untuk kesembuhan sang ibu.
"Maaf, Nak." Bu Lia memeluk Anindi dan disaksikan oleh kedua mata Rendra yang seolah terhipnotis. Pemandangan luar biasa dengan kasih sayang seorang Ibu yang tidak kalah luar biasanya juga. Hal yang pastinya dinantikan oleh anak mana pun.
Kemacetan terurai. Rendra segera mengendarai mobil agar bisa secepatnya sampai di rumah sakit.
***
Mobil Rendra sampai di parkiran rumah sakit. Lelaki itu bukan hanya sekadar mengantar, tetapi juga sekaligus menemani Bu Lia menunggu dokter di rumah sakit. Selama itu, Anindi tidak sama sekali berbicara padanya. Bisa jadi perempuan itu sedikit risih.
"Bu, aku ke toilet sebentar, ya." Anindi berdiri ketika mereka duduk di bangku tunggu dengan pasien yang lain.
Bu Lia mengangguk pelan tanpa mengucapkan apa pun, sementara Rendra yang berdiri di samping kanan Bu Lia cukup diam.
__ADS_1
Anindi berjalan meninggalkan deretan pengunjung rumah sakit, baik itu pasien ataupun pengantar pasien. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Ada beberapa dari mereka anak-anak balita yang juga sedang menanti dokter anak, tidak luput para lansia. Semua ada.
Anindi bergerak terus ke arah luar. Mencari-cari toilet sampai akhirnya menemukan tulisan dengan kata itu. "Rupanya ada di sebelah kanan." Anindi masuk ke area rumah sakit lagi, kali ini berjalan ke koridor kanan.
Anindi mengamati sekitar, di mana banyak tangisan dari beberapa orang. Barangkali baru saja kehilangan orang tercinta. Ada pula orang-orang yang berjalan cepat sambil mendorong kursi roda dengan pasien perempuan melahirkan. Di tempat ini, semua orang memiliki rasa sakitnya sendiri. Maka dari itu, Anindi berusaha untuk bersyukur atas apa yang Tuhan berikan. Entah itu tentang atmosfer yang masih bisa dihirup bebas.
Anindi sampai toilet perempuan. Bergabung dengan mereka yang juga memiliki tujuan ke tempat tersebut. Setelah selesai, Anindi tidak langsung keluar. Berdiri di depan cermin lebih dahulu dengan memandangi pantulan diri. "Berat badanku sepertinya berkurang banyak." Setelah dilihat lebih dekat dan detail, rupanya Anindi merasa dirinya lebih kurus. Mungkin karena banyak kegiatan yang perlu dilakukan secara sendiri ditambah dengan beban pikiran tentang drama suami istri yang entah kapan akan berhenti. "Aku berharap Ibu segera membaik dan aku bisa secepatnya jujur ke Ibu."
Semakin hari, Anindi merasakan kegelisahan dalam diri. Serangan bersalah tidak henti-hentinya menerjang jiwa. Pada dasarnya, perempuan itu selalu berusaha menghindari kebohongan. Dalam bentuk apa pun. Namun, kali ini justru Anindi melakukannya sendiri. Rasanya seperti menelan ludahnya sendiri. Tidak terpikirkan sama sekali akan berada di keadaan yang cukup membingungkan. Satu sisi, ada kesehatan ibunya yang belum pulih. Di sisi lain, jiwanya memberontak untuk meneruskan drama ini. Andaikan ini hanyalah sebuah pekerjaan, mungkin tidak masalah. Seperti layaknya para aktor dan aktris di layar televisi, tetapi ini berbeda. Anindi justru melakukannya pada dunia nyata.
Sudah terlalu lama tinggal di kamar mandi, tidak enak juga pada sang ibu. Anindi sesegera mungkin keluar toilet. Bergerak maju dari arah toilet perempuan dan menabrak punggung seseorang. "Astagfirullah." Langkah Anindi terhenti. Berdiri, kemudian mengangkat kepala. Menatap punggung lebar dengan balutan jas hitam yang memiliki harum semerbak. "Maaf, Mas."
Anindi tertegun. Mungkinkah dunia ini begitu sempit sampai harus terus menerus bertemu dengan orang yang sama? Dan, tentunya tidak diinginkan Anindi.
"Maaf, aku tidak tau kalau itu kamu." Anindi mengalihkan pandangan ke sembarang arah. Tidak menyangka akan bertemu di sini. Mereka berada di dekat pintu antara toilet perempuan wanita dan lelaki. Lelaki itu sepertinya sedang menunggu seseorang juga. "Aku mengantar Ibu check up." Anindi jujur.
Lelaki itu mengerti, sehingga tidak bertanya lebih detail lagi.
"Kalau seperti itu, aku pergi dulu." Kaki kanan Anindi melangkah ke depan, hendak meninggalkan lelaki itu sendiri. Namun, kegiatannya langsung terhenti ketika lelaki tersebut bertanya sesuatu.
__ADS_1
"Sepertinya kita sering bertemu. Apa boleh kita bertukar nama?" tanya sang lelaki.
Anindi tertegun. Beberapa orang yang hendak masuk ke toilet perempuan pun memperhatikan keduanya. Saling berbisik dan mengira jika mereka pasangan kekasih.
"Ah, maaf, saya mungkin lancang." Lelaki itu menarik perkataannya. Merasa terlalu cepat untuk mengetahui nama satu sama lain, padahal setiap orang di dunia ini memang ada kemungkinan bisa bertemu lagi. Kapan, di mana, itu cukup rahasia Tuhan.
Di tengah keramaian, Anindi masih saja terdiam. Sebenarnya tidak masalah dengan penukaran nama, tetapi ia sendiri sedikit kurang berminat. Banyak pertimbangan, bukan sombong.
"Kamu bisa meneruskan perjalanan. Maaf sekali lagi." Lelaki itu tidak ingin mengganggu Anindi. Terlebih, mereka bukanlah dua orang yang saling kenal untuk bisa menahan satu sama lain.
Anindi menghela napas kasar dan berkata, "Maaf, mungkin di lain waktu kita bisa bertukar nama. Aku sedang terburu-buru."
Lelaki itu mengerti. Melihat Anindi berjalan cepat ke arah koridor kanan, menatap punggung perempuan tersebut yang semakin lama hilang dalam pandangan karena sudah berbaur dengan pejalan kaki lainnya.
Dengan cepat lelaki yang kala itu sedang menunggu seseorang pun mengeluarkan ponsel. Menghubungi orang yang sedang dinantinya. Sudah cukup lama ada di sini. "Padahal tadi dia yang mengatakan akan datang ke rumah sakit. Ayah, pasti menunggunya juga." Tidak ada jawaban. Bahkan, nomor ponsel orang yang dituju pun tidak aktif. Lelaki itu berdecak kesal. Selalu saja begini. "Aku mungkin harus lebih tegas lagi mulai sekarang. Tapi, dia itu bisa saja melakukan hal seperti dulu."
Pada akhirnya si lelaki memutuskan pergi dari toilet. Bukan tanpa sebab dirinya ada di sana, selain karena keinginan buang air kecil yang harus diselesaikan. Lelaki itu pun rupanya sedang mengantarkan ayahnya juga untuk melakukan check up rutin. Meninggalkan sang ayah sendiri di ruangan tunggu adalah keputusan yang harus diambil karena dirinya hanya datang sendiri. Sang ibu sedang tidak bisa mengantar, terpaksa ia meluangkan waktu pergi ke rumah sakit.
"Ketemu di rumah, aku kasih pelajaran anak itu!" Si lelaki terus saja mendumel, kesal.
__ADS_1