
"Muhammad Adib. Anak pertama saya." Ibu tersebut merogoh tas, mengeluarkan ponsel dan mencari sesuatu. Kemudian, memperlihatkan foto anak yang dimaksudnya. "Ini anak saya."
Anindi menelan ludah tatkala melihat sosok Adib di layar ponsel itu. Benar, lelaki itu.
Si Ibu kembali mengambil alih ponsel. Sekali lagi menunjukkan foto yang lainnya. "Ini anak kedua saya. Rendra, namanya. Mereka mirip bukan?"
Jantung Anindi terasa berhenti berdetak. Ternyata mereka memang Adik Kakak di dunia nyata, bukan sekadar perkataan semata.
Ponsel itu kembali di simpan di tas. "Saya senang sekali punya dua putra seperti ini." Ibu paruh baya itu melengkungkan senyuman manis, sementara Anindi terdiam. Belum merespon sejak tadi. "Jadi, kedatangan saya ke sini karena ingin melihat sosok pemilik toko bunga yang berhasil membuat anak sulung saya senang."
Barulah Anindi sadar, menatap ibu tersebut. "Apa sebahagia itu anak ibu?" Bertanya tanpa memikirkan apa pun.
__ADS_1
"Benar. Saya menyaksikan sendiri." Perempuan paruh baya itu mengulurkan tangan ke arah Anindi. "Perkenalkan, Nak, nama saya Bu Dina."
Awalnya Anindi ragu, tetapi tidak sopan juga jika tak merespon. Dengan lembut menyambut baik uluran tangan itu. "Nama saya Anindi, Bu."
Mereka terdiam sambil bersalaman. Mata Bu Dina memperhatikan sosok Anindi yang cukup baik dan terlihat anggun.
Bu Dina melepaskan tangannya, lalu kembali menatap bunga mawar. "Anak sulung saya itu sudah sangat matang untuk memiliki pasangan, tapi dia hampir tidak pernah memperkenalkan perempuan sampai usianya kepala tiga. Makanya, saya penasaran saat dia tiba-tiba membawa buket bunga dengan perasaan bahagia."
"Saya senang dengan bunga dari dulu, tapi kedua anak saya jarang sekali membawa bunga. Tapi, akhir-akhir ini anak sulung saya membawakan buket bunga. Kalau kamu seorang Ibu, apakah akan penasaran dengan perubahan anakmu?" Bu Dina bukan hanya bercerita di sini, tetapi sekaligus mengajak berdiskusi.
Anindi mengangguk cepat. "Tentu saja, Bu. Perubahan sekecil apa pun pasti ada sebabnya dan hal itu menjadi pemicu penasaran."
__ADS_1
"Benar." Ekor mata Bu Dina beralih ke bunga matahari. "Seperti halnya bunga panca warna yang pasti akan berubah-ubah warna. Tentu ada alasan logis untuk menjawab itu."
Anindi merasa sedikit senang dengan perbincangan ini. Untung saja tidak ada pelanggan lain yang datang sehingga waktu mereka lumayan banyak dan tenang.
"Saya ini seorang Ibu yang sangat mengharapkan kedua anak saya hidup bahagia bersama pasangannya. Tapi, dari kedua anak saya itu, satu pun belum memiliki hubungan dengan wanita." Wajah Bu Dina berubah sendu. Jemari kanannya menyentuh salah satu kelopak bunga mawar. Memang lembut. "Tapi, memaksa mereka pun rasanya tidak mungkin. Padahal saya sendiri membutuhkan teman berbicara seperti menantu perempuan."
Anindi menangkap sesuatu, rasa kesepian. Bahasa tubuh Bu Dina mengatakan itu, walaupun mulutnya tidak berbicara banyak hal.
Bu Dina kembali berbalik badan. Sengaja agar bisa melakukan kontak mata dengan Anindi langsung. Bergerak lebih dekat lagi, kemudian berkata, "Kalau kamu diberikan satu pertanyaan, apakah kamu akan menjawab jujur, Nak?"
Percakapan ini semakin tanpa arah. Padahal mereka baru saja bertemu. Akan tetapi, Anindi merasa Bu Dina ini sudah lama mengenalinya. "Insya Allah, Bu. Kejujuran itu sangat penting. Memang pertanyaan seperti apa itu?"
__ADS_1
Bu Dina mengukir senyum manis di bibir. Terdiam sebentar dengan tatapan yang sulit diartikan. "Apa kamu mau menjadi pasangan anak sulung saya?"