
"Pasangan, Bu?" Anindi bertanya lagi. Takutnya, kuping perempuan itu salah mendengar.
Bu Dina tersenyum manis lagi. "Iya, Nak. Insyaa Allah, anak Ibu itu baik. Adib juga sudah mapan dan penyayang. Hanya saja, dia tidak terlalu senang bertemu perempuan, kecuali sedang dalam fase bekerja."
Anindi diam. Pantas saja Adib seperti kurang nyaman ketika bertemu dengannya.
Bu Dina semakin mendekati Anindi. Jaraknya semakin dekat saja. Perlahan tangan kanan Bu Dina meraih kedua tangan Anindi. Sesuai ekspektasi, tangan Anindi begitu lembut dan hangat. Pantas saja tumbuhan bisa terjaga dengan baik.
Anindi kaget, tetapi menikmati. Terlebih ketika kedua tangan itu disentuh, seperti sedang digenggam oleh seorang ibu. Hangat sekali.
"Mungkin ini terdengar gila, Nak." Bu Dina menampilkan wajah sendu. Anindi saja tertegun. "Semua orang Ibu di dunia ingin sekali melihat anak-anaknya segera memiliki pasangan saat usia mereka sudah matang. Mungkin dengan itu, kami bisa pulang ke pangkuan Ilahi dengan tenang."
__ADS_1
Dua bola mat Anindi membesar. Tidak menyangka akan ke arah sini.
"Kalau memang kamu berkenan dan cocok dengan putra sulung Ibu. Insyaa Allah, Ibu sekeluarga akan segera datang ke rumahmu, Nak," sambung Bu Dina.
"Ke-ke rumah, Bu?" Anindi bertanya dengan terbata-bata. Masalah apa lagi yang harus datang menemuinya.
Bu Dina mengangguk pelan. "Melihat dari cara Adib membawa buket bunga dan menceritakan tentangmu saja, Ibu sudah yakin kalau anak Ibu itu menyimpan rasa untukmu. Sayangnya, dia bukan tipe lelaki yang bisa semudah itu berinteraksi atau memulai hubungan. Makanya, Ibu memilih maju lebih awal."
Anindi tidak habis pikir dengan kejadian ini. Memang sudah takdir, tetapi rasanya skenario Yang Maha Kuasa kali ini terlalu bercanda. Sudah terlibat suami istri palsu dengan adiknya, lalu kini ibu dari dua lelaki tersebut justru datang melamar. Ini mimpi? Anindi berharap demikian.
Bu Dina melepaskan genggaman tangan, tersenyum manis lagi. "Kamu bisa pikirkan baik-baik lagi. Jangan terlalu terburu-buru karena Ibu juga belum membicarakan ini dengan Adib. Tapi, Ibu yakin dia pasti senang."
__ADS_1
Anindi tak banyak berbicara, terlalu shock.
Merasa sudah cukup berbicara di pertemuan pertama ini, Bu Dina sebaiknya segera pamit. Ada beberapa tujuan yang harus segera dikunjungi. "Maaf, kalau kedatangan Ibu mengejutkan. Senang bisa bertemu denganmu, Nak. Ibu, pamit dulu. Assalamualaikum."
Anindi sadar dan mendengar semuanya. "Iya, Bu. Wa'alaikum salam."
Anindi mengantarkan Bu Dina keluar sampai masuk mobil dan akhirnya pergi. Anindi masih berdiri di depan toko. Menenangkan diri dari pertanyaan yang cukup mengejutkan. "Menjadi pasangan? Itu terdengar gila." Anindi menghela napas kasar. Baru saja perempuan itu berbalik badan, suara mobil datang dan berhenti tepat di tokonya. Siapa lagi yang datang? Namun, Anindi harus memasang wajah ceria. Dengan cepat perempuan itu membalikkan badan lagi. "Selamat datang."
Rupanya Rendra yang datang. Lelaki itu berdiri dengan gayanya yang seperti berandalan, seperti biasa. "Assalamualaikum, Calon Istriku."
Anindi tersentak. Terlebih lelaki itu setengah berteriak. Bisa-bisanya.
__ADS_1