Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup

Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup
Nasihat Nisa


__ADS_3

Orang itu berhenti tepat di jarak setengah meter dari Anindi bersembunyi. Diam sebentar, lalu mengambil beberapa cemilan dari rak dan pergi lagi ke kasir.


Anindi terdiam, jangan sampai bersuara. Aneh juga dengan tingkahnya karena merasa tidak memiliki salah, tetapi justru bersembunyi.


Suara orang itu terdengar, rupanya sedang berbelanja. Kemudian, kembali terdengar suara pintu terbuka. Entah ada yang masuk atau mungkin justru orang itu yang keluar. Yang pasti Anindi berusaha untuk diam dan menunggu waktu untuk keluar.


Cantika dan Nisa saling melempar pandangan, mempertanyakan keberadaan Anindi yang seolah hilang ditelan bumi.


"Mbak, Anindi tidak kabur, kan?" Cantika sampai bertanya demikian.


Nisa tertegun. "Kabur dari mana, Dek? Kan, jalan keluarnya cuma satu." Telunjuk kanan Nisa menunjuk pada pintu kaca.


"Tapi, lama sekali. Apa dia lagi ngadem?"


"Mungkin juga, Dek. Coba kamu lihat dulu." Nisa khawatir. Anindi hanya pamit untuk mengambil minuman dingin yang bisa melepaskan dahaganya. Namun, justru tidak kembali sampai sepuluh menit. Tak mungkin juga selama itu.


"Iya, Mbak." Cantika hendak saja berjalan ke samping kanan, tetapi ekor mata kiri melihat sosok Anindi keluar dari rak paling pojok. "Itu dia keluar. Astagfirullah, bikin orang cemas aja." Cantika mengelus dada, benar-benar dibuat cemas.


Anindi sudah memastikan orang yang dihindarinya tidak ada, kembali ke kasir. Berdiri tanpa merasa bersalah di antara kedua temannya tersebut. "Aku bayar yang ini saja." Anindi memberikan kaleng kopi pada Cantika sekaligus selembar uang dengan nominal lima puluh ribu rupiah. "Aku lihat, ini yang paling enak."


Nisa dan Cantika kembali lagi saling melempar pandangan. Tidak mengerti dengan sikap Anindi.


"Ada apa?" Andini merasa aneh. Menatap satu per-satu Cantika dan Nisa. Kemudian, memperhatikan penampilannya. Barangkali ada yang salah atau mungkin tidak baik. "Ada yang aneh, ya?"


Cantika mengambil kopi botolan yang diberikan Anindi, tidak lupa men-scan di komputer. "Kamu itu ambil minuman di toko atau di luar negeri?"


Nisa sendiri tidak berani berkata apa pun, mungkin karena tidak terlalu dekat.


Kening Anindi mengerut kencang. "Ya, di toko. Memangnya kenapa?" Masih saja penasaran, takut salah.

__ADS_1


Cantika selesai, tidak lupa mengambil selembar uang. "Lama sekali. Aku sama Mbak Nisa sampai cemas. Malah aku berpikir kalau kamu kabur karena kami palak." Perempuan itu menarik laci, mengambil kembalian untuk temannya. "Memangnya kamu sedang apa di sana? Aku pikir, ambil beberapa kaleng minuman, ternyata cuma satu."


Nisa tersenyum kecil, sedangkan Anindi tidak lagi meladeni Cantika. Biarkan saja perempuan itu berceloteh semuanya. Setelah uang kembali didapat, Anindi bergabung bersama Nisa dan Cantika di dekat kasir dan mereka duduk di bawah. Siap menyantap rujak buah yang memang sangat cocok dinikmati pada siang hari.


Nisa memperhatikan Anindi. "Dek, bagaimana keadaan ibumu sekarang. Apa beliau sehat?" Nisa tahu detail tentang kejadian yang menimpa ibunya Anindi. Pernah menjenguk juga ke rumah, walaupun hanya membawa satu kilo jeruk saja. Yang terpenting niatnya sangat baik.


Cantika sibuk bermain ponsel, membalas pesan Kemal yang katanya akan menjemput perempuan itu sore nanti.


Anindi sendiri baru saja menikmati satu potong mangga muda yang dicocol dengan sambal rujak, segar sekali. Mengunyah sebentar, kemudian berkata, "Alhamdulillah, Mbak. Ibu sudah banyak kemajuan, tapi memang tidak bisa dipaksa untuk tahu beberapa ingatan. Dokter sangat menyarankan agar aku bisa melakukannya perlahan."


"Soal suamimu juga?" Cantika akhirnya angkat bicara, sangat disayangkan jika tidak ikut andil. "Lelaki muda itu, lho."


Nisa mendengarkan. Perihal Rendra, Anindi sendiri yang mengatakan. Mungkin hanya Nisa, Cantika, dan Bu Mila yang tau tentang Rendra. Untung saja mereka tidak banyak berbicara ataupun ikut campur.


Dengan sangat terpaksa Anindi mengangguk pelan, itulah kenyatannya. "Ya."


Kedua bola mata Nisa membulat sempurna. "Jadi, ibumu masih menganggap lelaki itu suamimu, Dek?" Memastikan perkataan Anindi yang tadi.


Cantika kembali fokus pada ponsel, sedangkan Nisa terdiam.


Selera makan Anindi menurun. Padahal rasa laparnya sudah datang dari sejak satu jam yang lalu. Hanya saja mendadak membahas masalah Rendra, ini yang menjadi pemicu.


"Dek, kamu yakin akan terus bersikap seperti ini?" Nisa hanya khawatir. Apalagi masalahnya bukan kecil. Akan tetapi, sangat berat dan pastinya melibatkan hati.


"Masalahnya, Mbak. Anindi ini bingung juga cara jujur ke ibunya." Cantika ikut nimbrung lagi.


Nisa menghela napas kasar. Benar juga.


"Aku sebenarnya udah merasa kurang enak sama Ibu. Belum lagi kalau ketemu dia itu malah bikin darah emosi. Hari ini aku ketemu dia lagi di gedung tempat pengiriman barang." Anindi bercerita tanpa canggung.

__ADS_1


"Serius?" Cantika yang antusias sampai melepaskan ponsel. Selain Rendra memiliki wajah yang sangat tampan, pria itu rupanya punya daya tarik tersendiri di mata perempuan, termasuk Cantika. "Oppa ganteng itu ketemu kamu lagi?"


"Bukan Oppa, Can. Sepertinya dia lebih muda dari aku." Hanya tebakan Anindi saja. Semoga bukan karena pastinya akan sangat memalukan terlibat masalah dengan lelaki muda.


Cantika semakin histeris. "Berondong, maksud kamu?"


Nisa menutup telinga kanan. Posisi Cantika berada di samping kanannya, sedangkan Anindi sendiri berada di depan mereka. "Suaramu jangan terlalu kencang, Dek."


Ketiganya berbincang-bincang di bawah meja kasir. Untung saja tidak ada pelanggan, biasanya jika siang hari bolong memang tidak terlalu ramai seperti pagi ataupun sore. Hal ini bisa dimanfaatkan mereka untuk menjalin hubungan dengan partner bekerja.


"Aku kaget, Mbak. Kalau sampai lelaki itu berondong, Anindi beruntung dong dapat yang lebih muda," celetuk Cantika yang memang memiliki standar tinggi untuk penilaian pada lelaki.


Anindi menggelengkan kepala beberapa kali, mengulurkan tangan kanan dan menempelkannya di kening Cantika. "Kamu tidak panas, tapi ucapanmu itu ngawur. Astagfirullah."


Cantika menghempaskan tangan Anindi dan berkata, "Aku masih sehat!" Tidak senang dengan kalimat Anindi yang sekarang.


Nisa terdiam, memperhatikan kedua perempuan yang tidak jauh umurnya itu. Mengamati setiap gerakan tubuh Anindi yang menunjukkan ketidaksukaannya pada topik ini.


Anindi menatap Cantika dalam. "Aku tidak peduli dia berondong atau bukan, yang pastinya aku mau secepatnya lepas dari dia."


"Memang kalian punya hubungan?" tanya Cantika kaget.


"Maksud aku, lepas dari semua urusan sama dia. Kalau Ibu belum tau sebenarnya, dia pasti menghantui aku terus. Belum lagi dia sendiri mengakui aku sebagai calon istri di depan banyak orang. Astagfirullah, entah harus taruh di mana wajahku ini?" Anindi hampir ingin menangis mengenang perbuatan Rendra. Lelaki menyebalkan yang bisa membuat jiwanya tersiksa dan juga otaknya sulit berpikir. "Jujur, aku maunya dia itu pergi jauh aja sekalian. Aku tidak mau bertemu dengannya lagi."


Melihat keputusasaan Anindi menarik simpati Nisa. Andaikan dirinya berada di posisi Anindi pun belum tentu bisa kuat menghadapi. Cukup tangguh perempuan itu.


Cantika mengetik pesan lebih dahulu. Memberitahu Kemal jika dirinya akan pulang ke rumah Anindi malam ini dengan tujuan menjenguk ibu dari temannya itu. Dengan kata lain, Cantika menolak halus penawaran yang diberikan sang kekasih. Biarkan saja lelaki itu berpikir lebih dalam perihal hubungan mereka.


"Coba kamu pikir, Dek. Lelaki itu susah sekali menerima wanita yang sebelumnya pernah menikah. Mungkin bukan dari lelakinya, tapi dari keluarganya. Makanya, aku cukup menasihatimu saja. Jangan sampai hanyut, ingatkan dia juga. Kalau memang drama ini harus berlanjut, jangan sampai melibatkan hati," kata Nisa yang pastinya sudah merasakan suka duka dalam perjalanan hidup selama ini.

__ADS_1


Cantika tertegun. Keningnya berkerut menandakan sedang berpikir keras. "Tapi, bukannya ada beberapa orang juga yang bisa menerima? Sepertinya tergantung orangnya, Mbak. Tidak semua wanita yang sudah pernah menikah itu dipandang jelek juga di mata keluarga calon."


__ADS_2