
Hampir seminggu di rumah sakit, Bu Lia selalu menanyakan tentang Rendra ke anaknya. Akan tetapi, Anindi dengan lembut mengatakan jika Rendra sedang pergi ke luar kota.
Anindi dipanggil ke ruangan Dokter. Akhirnya gadis itu pun datang, meninggalkan ibunya dengan Bu Mila lebih dahulu.
"Silakan duduk." Dokter Pras mengarahkan telunjuk tangannya ke kursi yang tersedia.
Anindi menurut, menarik kursi dan duduk. "Terima kasih, Dok." Gadis itu tersenyum manis. Seperti biasa, selalu ramah.
Dokter lelaki membalas senyuman kecil, kemudian berkata, "Baik, mari kita mulai diskusinya." Menarik napas panjang seolah ini adalah pembicaraan yang sangat sensitif.
Anindi pun terlihat serius dan berusaha untuk tenang. Ia sudah pernah melewati yang lebih mengejutkan daripada ini.
"Begini, Bu Lia masih dalam proses penyembuhan. Mungkin membutuhkan waktu lama untuk Beliau mengingat kenangan yang sebenarnya. Pelan, tapi pasti." Dokter Pras terus saja mengingatkan Anindi tentang hal ini. "Jadi, saya sangat berharap Anda bisa bekerja sama dengan baik. Jangan terlalu memaksakan karena ini bisa berakibat fatal pasa saraf otaknya."
Anindi bergeming, mendengarkan sedikit demi sedikit. Mencernanya dengan baik agar bisa menghasilkan keputusan yang baik pula.
Dokter Pras terus menjelaskan lebih detail tentang akibat dari pemaksaan memori otak terhadap Bu Lia. Ia memahami betul bagaimana kondisi pasiennya sehingga bisa dikatakan lebih tahu juga mana yang terbaik.
Anindi menganggukan kepala beberapa kali. Rasanya lebih harus berhati-hati. "Baik, Dok. In Syaa Allah, saya pastikan untuk mengingat semua nasihat Dokter." Wajah Anindi ditekuk. Sedikit resah juga karena merasa bersalah jika harus terus berakting. Sekali pun, sudah beberapa hari ini memang tidak bertemu dengan Rendra.
Dokter Pras memperhatikan Anindi. "Saya memahami kekhawatiran Anda, tapi saya berharap Anda bisa melakukannya yang terbaik. In Syaa Allah, Bu Lia pasti bisa mendapatkan ingatannya kembali. Hanya perlu waktu untuk ada di posisi itu." Sebagai seorang Dokter, ia harus memposisikan diri dengan baik. Salah satunya dengan menenangkan pasien sebisa mungkin.
Perbincangan itu berakhir juga. Anindi kembali keluar, berjalan perlahan. Setiap jengkal kakinya terasa tidak menapak ke lantai. Rasanya ini seperti mimpi, benar-benar di luar perkiraan.
__ADS_1
Setelah dinyatakan boleh pulang, Anindi pun membawa ibunya ke rumah dengan menyewa sebuah mobil dari kenalan. Entah ini rezeki sang Ibu, pemilik mobil menolak untuk menerima upah. "Anggap saja ini hadiah untuk Ibu," katanya. Tentu Anindi sedikit malu, tetapi juga bersyukur. Inilah salah satu rasa sayang Yang Maha Kuasa pada hambaNya.
Dengan diantar Bu Mila, akhirnya Bu Lia dan Anindi pun sampai di rumah. Mereka bisa menikmati waktu lagi di rumah yang penuh kenangan dan kehangatan.
"Bu, jangan banyak aktivitas dulu, ya." Anindi mengingatkan ibunya. "Ingat kata Dokter kalau Ibu harus banyak istirahat."
Bu Lia yang sedang duduk di kursi pun tersenyum kecil. Ekor mata kanannya melirik ke kanan dan ke kiri, tak ada yang dinanti.
Anindi ikut memperhatikan sekitar. Melirik sana sini juga, lalu berkata, "Bu, cari apa?" Daripada penasaran, lebih baik langsung bertanya.
Bu Lia diam, kemudian berujar, "Suamimu belum pulang juga, ya?"
Pertanyaan itu berhasil mendobrak diri Anindi. Menghanyutkan sebagian jiwanya yang terasa lelah. Harus jawaban seperti apa yang dipersiapkan. Tak mungkin pula terus mengatakan jika Rendra sedang ke luar kota. Anindi ikut duduk di kursi panjang. Mungkin tepatnya sopa panjang. Mengambil salah satu tangan Bu Lia dan mengelusnya perlahan. "Bu, nanti juga pasti datang. Jangan khawatir, ya." Terpaksa kalimat itu yang keluar. Tidak mungkin sampai berbicara yang sebenarnya.
Anindi tersenyum kecil. Ingatan sang Ibu ternyata begitu jauh. Mengingat dirinya masih berada di rumah dahulu. "Iya, Bu. Boleh, kan?"
Bu Lia tampak bahagia. "Jelas boleh. Ibu, jadi punya teman."
Anindi memeluk ibunya. Ingin menangis, tetapi tidak mungkin. Sebaiknya memang terus seperti ini dahulu, sebelum dirinya benar-benar mendapatkan waktu yang tepat untuk berbicara. "Anindi ke toko sebentar, ya. Maaf. Ada pesanan buket bunga yang harus diantar jam satu siang nanti."
Bu Lia tak masalah. "Iya, Nak. Hati-hati di jalan. Jangan suka melamun kalau sedang menyetir." Ingatan Bu Lia tidak hilang tentang anaknya yang memiliki sifat demikian.
Anindi melepaskan pelukan. Berdiri cepat dan berkata, "In Syaa Allah, Bu. Aku pamit, ya. Assalamualaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikum salam."
Anindi akhirnya pergi dari rumah karena harus mengais rezeki. Mengingat ibunya sudah tak bisa bekerja lagi karena umurnya yang sudah tidak muda, terlebih sekarang ingatannya pun kurang baik. Mengharuskan Anindi untuk berjualan dengan baik dan giat lagi. Harus bisa mengais rezeki karena sang Ibu harus melakukan cek up rutin, dua Minggu sekali.
Anindi menjalankan motor dengan pikiran kacau. Hari ini, ia bisa terhindar dari pertanyaan sang Ibu. Namun, esok hari. Entah bisa atau tidak? Itu yang membuat Anindi sedikit resah.
"Aku rasanya ingin menghilang. Kenapa harus ada dia waktu itu?" Anindi sedikit mengeluh. Andaikan tak ada Rendra ketika kedua bola mata ibunya terbuka, mungkin akan beda lagi ceritanya. "Sebaiknya aku cepat buat buket bunga biar cepat selesai. Toko juga sudah hampir seminggu tutup. Dompetku mulai menipis, semoga saja ke depannya toko terus ramai."
Motor Anindi berjalan dengan kecepatan sedang ke arah kanan. Rumahnya memang tidak jauh dari toko untuk menghemat biaya transportasi. Hal ini dipertimbangkan baik oleh Anindi ketika mengambil keputusan untuk membuka toko bunga. Tempat itu pun sebenarnya hasil dari tabungan Anindi selama gadis, bersyukur masih bisa membeli satu tempat berjualan. Ada pemasukan yang bisa ia nikmati untuk memenuhi kebutuhan dirinya dengan sang Ibu.
Anindi terus mengemudi, tiba-tiba motor di depan gadis itu berhenti secara mendadak. Mengharuskan Anindi melakukan pengereman pula, tetapi perempuan itu terlalu terlambat. Dan, pada akhirnya membanting stir ke samping kanan dan terjatuh. "Astagfirullah." Anindi menjerit.
Sontak saja beberapa pengendara motor memperhatikan Anindi. Bukan menolong, tetapi cukup mengamati sambil berjalan.
Pengemudi motor di depan Anindi pun kaget, langsung menepikan motor ke samping kanan. Untung saja posisi mereka ada di pinggir kanan. Andaikan di tengah, tak tahu akan seperti apa.
Kaki Anindi terhimpit motor. Gadis itu meringis kesakitan. "Astagfirullah." Berusaha untuk mengeluarkan kakinya. Namun, susah.
Pengemudi motor yang menepikan kendaraannya pun menghampiri Anindi, melihat lekat perempuan itu dan berkata, "Kamu!" Menunjuk Anindi dengan tangan kanan.
Anindi tersentak. Kepalanya terangkat ke atas. Dua bola mata itu menangkap sosok tinggi yang berdiri seakan sedang mengamati dirinya.
"Ayo, aku bantu." Sosok itu mengulurkan tangan kanan. Menunggu respons Anindi.
__ADS_1