Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup

Aku, Kamu, Dan Perjalanan Hidup
Bukan Anak Kecil


__ADS_3

"Kita adalah orang asing. Aku tidak mau terlibat apa pun lagi. Jadi, tolong minggir karena masih banyak pengiriman yang harus aku lakukan," kata Andini dengan nada sedikit kesal.


Arga tidak bergeser sedikit pun, masih saja berada di jalurnya. "Kamu mau ke gedung ini, kan?" Telunjuk kanan Arga mengarah pada gedung tinggi yang berdiri kokoh di antara gedung lainnya. Gedung yang dibangun di jantung kota ini memang cukup menarik perhatian, bukan karena kekuatannya juga. Akan tetapi, tentang kemegahan fasilitas yang ditawarkan. Pantas saja ratusan karyawan betah bekerja di sini.


Anindi mengangguk cepat. "Ya."


Arga menarik pelan buket bunga dari tangan Anindi, sedikit memaksa. "Biar aku yang bawa. Ini terlalu besar dan berat."


Belum sempat Arga mengambil alih, Anindi langsung menarik pelan lagi. "Maaf, Mas, aku tidak butuh bantuan. Ini sudah pekerjaanku." Kali ini sedikit senyum. Berusaha untuk berdamai dengan diri. "Aku cuma minta Mas Arga untuk minggir dari hadapanku!" Sekali pun diberikan sedikit senyuman, tetapi nada suara Anindi tegas.


Arga melepaskan kedua tangan dari buket bunga mawar ini. "Kamu jangan terlalu keras kepala, Anindi." Seolah menyalahkan Anindi atas penolakan yang didapatkannya. "Kamu butuh bantuan orang lain juga karena sejatinya kita itu tidak bisa berdiri sendiri."


Ingin rasanya tertawa, tetapi Anindi menahan sebaik mungkin. Terdengar lucu. "Aku pernah membutuhkan bantuan seseorang sampai aku sadar kalau orang itu jelas-jelas menolakku dengan mentah-mentah. Sedikit sakit, tapi itulah kenyataannya." Raut wajah Anindi menunjukkan sedikit kesedihan. Kalimat itu murni dari hatinya, bukan sekadar rangkaian kata-kata saja.


Arga mulai terpancing amarah. Anindi mengalami perubahan yang drastis untuk kemampuan diri. Bukan hanya dalam membela diri, tetapi cara melindungi diri sendiri dari terpaan badai.


Di sela perdebatan mereka, mendadak suara Rendra menyapa telinga. Tidak sengaja lelaki itu bertemu dengan perempuan yang mungkin tidak ingin berjumpa dengannya lagi. "Kamu!" Rendra berjalan mendekati Anindi dan Arga. Berhenti di samping kanan Anindi, menatap Arga yang kini posisinya berada di depannya juga. "Anda juga ada di sini?" Rendra masih mengingat betul wajah Arga yang terlibat perdebatan beberapa waktu lalu dengannya di dekat toko Anindi. "Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk bertemu dalam keadaan bertiga lagi." Dua sudut bibir Rendra terangkat membentuk senyuman kecil. Ah, sepertinya ada maksud dari itu.


Arga pun rupanya mengingat Rendra sebagai lelaki yang mengaku calon suami Anindi. Namun, pria itu tidak percaya sama sekali. "Kalau boleh memilih, saya lebih senang ditakdirkan bertemu berdua dengan Anindi saja."

__ADS_1


Rendra merasa terabaikan. Akan tetapi, lelaki itu menanggapinya dengan tenang dan santai. "Kita tidak bisa melawan takdir. Saya yakin Anda bukan anak kecil lagi yang perlu penjelasan."


Entah ini menyindir atau bukan, yang jelas Arga tampak tersindir. Ini terlihat jelas dari raut wajah lelaki itu. Arga memperhatikan sekitar, tak ada orang lain lagi yang mendatangi mereka. Artinya, Rendra datang sendiri. "Anda berada di sini ada perlu apa?" Pertanyaan itu ditujukan pada Rendra.


Anindi terdiam. Ingin melangkah, tetapi penasaran juga. Ekor mata kanannya melirik Rendra, bertanya hal yang sama. Sekali pun hanya berani di dalam hati. Namun, apa pun tujuan Rendra di sini, jelas saja itu bukan urusan Anindi.


Rendra melihat sekitar, keadaan depan gedung di sini masih saja sama, ramai dan banyak orang berlalu lalang. Wajar saja disebut berada di jantung kota, memang tempat orang melakukan aktivitas. "Tujuan saya ke sini itu bukan urusan Anda, jadi saya rasa tidak punya kewajiban untuk memberikan jawaban."


Anindi sudah menebak. Rendra ini pintar berbicara. Menghadapi Arga yang menurutnya pandai berkata-kata saja, lelaki itu sanggup. Cukup diacungkan jempol. Untung saja kedatangannya tidak terlalu mepet, setidaknya Anindi sedikit leluasa.


Arga merenggangkan rahang, mulai kesal. Rendra seperti anak kecil yang ditanya dan memberikan jawaban seenaknya saja. "Saya rasa juga Anda itu bukan anak kecil!" Intonasi bicara Arga mulai naik satu tingkat, menunjukkan ada gejolak emosi yang ikut andil. "Seharusnya Anda bisa membaca situasi, kalau saat ini Anda sedang berbicara dengan orang dewasa juga. Yang artinya, Anda tidak bisa seenaknya memberikan jawaban yang lucu."


Tawa Rendra lepas. Benar-benar mengekspresikan siapa dirinya, lelaki yang tidak terlalu serius dalam menanggapi masalah. Namun, bukan artian semua masalah dianggap enteng. Hanya saja, Rendra selalu berusaha untuk mengamati lebih dahulu sebelum akhirnya bertindak. Tidak selamanya begitu, terkadang Rendra pun ceroboh. Manusiawi memang. "Justru karena saya tau lawan bicara saya itu orang dewasa, saya tidak perlu menjelaskan secara detail. Bukankah kita bisa saling memahami sebagai orang dewasa?" Kali ini sudut bibir kanan Rendra terangkat ke atas, tersenyum miring lagi. Rendra diam sejenak, kemudian meneruskan perkataannya. "Kalau lawan bicara saya ini anak kecil, sudah dipastikan saya harus menjelaskan dengan bahasa yang mudah dicerna sesuai umurnya. Jadi, apakah Anda mau saya anggap orang dewas atau anak kecil?"


Di sinilah Arga mulai kesulitan menahan amarah. Wajahnya memerah, ia tersinggung. Dengan cepat Anindi melerai perdebatan itu. "Stop!" teriaknya, berhasil membuat Anindi menjadi sasaran pandangan kedua lelaki itu.


"Sebaiknya kamu jangan melerai kamu!" Arga sudah tahu maksud Anindi. Tangan kanan pria itu mengepal, sudah sulit menahan emosi. "Biarkan aku dan dia menyelesaikannya sebagai seorang lelaki."


Rendra tenang. "Lantas, sebagai seorang lelaki, apa yang seharusnya kita lakukan untuk menyelesaikan ini?" Rendra seolah menantang Arga, menguji kesabaran lawan bicaranya dengan sedikit mengolok-olok juga. "Berkelahi? Saya rasa itu bukan sikap lelaki yang sebenarnya."

__ADS_1


Arga kian marah. Sorot mata lelaki itu begitu tajam, bahkan silet pun kalah tajam. "Kenapa? Apa Anda takut?" Arga sudah bersiap-siap dengan mengepalkan kedua tangan. Jangan sampai harga dirinya terinjak-injak hanya karena perkataan seorang lelaki yang tidak dikenalnya secara detail. "Jangan bilang, Iya."


Rendra benar-benar terhibur. Lelaki itu melirik Anindi yang tampaknya sangat khawatir. Andaikan bukan karena perempuan itu, sudah pasti pertandingan gulat akan terjadi di sini. "Maaf, tapi saya bukan lawan yang pantas untuk Anda."


"Apa Anda mengolok-olok saya?" Arga menaikkan suara. Semakin panas dengan kalimat itu. "Jangan hanya karena Anda pengecut sampai harus memojokkan orang lain."


Rendra berusaha sebisa mungkin menahan diri. Jangan, jangan! Ini bukan sesuatu yang baik dan dirinya pun sudah berjanji pada anak-anak panti untuk tidak melukai diri sendiri. Rendra berjalan dua langkah ke depan, kini posisinya berada di samping Arga, kemudian berbisik, "Kalau saja saya tidak sedang menahan diri, Anda mungkin sudah terkapar di rumah sakit sekarang!"


Arga terbelalak. Kalimat itu singkat, tetapi padat dengan makna yang lumayan mengerikan. Mengisyaratkan Rendra bukanlah seorang pengecut yang perlu diragukan lagi. Hanya saja, Arga pun tidak ingin memperlihatkan kekalahan pada lawan bicaranya.


"Ingat satu hal, Andai kita bertemu lagi. Berdua saja, maka saat itulah Anda bisa merasakan sentuhan tangan saya. Berdoa saja kita tidak bertemu lagi," lanjut Rendra yang langsung berjalan ke depan tanpa ingin tahu ekspresi Arga.


Hati Anindi tak karuan, cemas. Berharap tidak terjadi perkelahian. Begitu melihat Rendra berlalu, ia sedikit lega. Sekali pun belum bisa sepenuhnya tenang karena melihat kemarahan di sorot mata Arga.


Rendra berada satu meter dari Anindi dan Arga, pria itu berhenti lalu berkata, "Satu lagi, jangan sampai saya melihat Anda berbicara dengan calon istri saya. Itu bisa mengundang rasa cemburu."


Bukan hanya Anindi dan Arga yang mendengar, tetapi satpam kantor dan juga beberapa karyawan yang kebetulan ada di sana pun menjadi saksi keluarnya kalimat itu dari Rendra.


"Dia memang manis, jadi harap menahan diri Anda untuk tidak mengambil milik orang lain!" Rendra memperingati Arga lagi.

__ADS_1


__ADS_2