
Anindi terdiam sejenak. Mengamati sosok tinggi yang kini berdiri dengan tegak sambil mengulurkan tangan kanan. "Maaf." Perempuan itu menolak. Memilih meminta untuk diangkat saja motornya, sedangkan ia akan berdiri sendiri.
"Ok, kamu yang minta." Sosok yang ternyata Rendra itu pun hanya membantu mendirikan motor. Setelah itu, Anindi pun sekuat tenaga untuk bangun sendiri.
Motor Anindi di sisi kanan, tepatnya di belakang mobil Rendra. "Kamu bisa sendiri?" Rendra bertanya sekali lagi. Barangkali Anindi meminta bantuan.
Anindi mengangguk pelan, menyeret kaki kanan yang terasa lebih berat untuk melangkah karena tertimpa badan motor. Untuk saja tidak cidera terlalu berat, hanya ada luka.
Anindi duduk di pinggiran pedagang buah. Beberapa pelanggan yang ada di sana beserta pemilik kios buah pun menghampiri. Tak lupa Anindi diberikan minum agar lebih tenang.
"Mbak, mau ke rumah sakit?" tanya pedagang buah tadi, seorang lelaki paruh baya yang ditaksir usianya sudah setengah abad. Senyumnya ramah, auranya pun menenangkan.
Anindi menggelengkan kepala. "Tidak perlu, Pak. Cederanya kecil, kok." Membalas senyum kecil.
Rendra berdiri di depan Anindi, mengamati kaki kanan gadis itu dan berkata, "Sebaiknya kita periksakan ke rumah sakit." Takutnya Anindi akan kesakitan setelah beberapa hari, jika tidak diperiksa. "Aku antar pakai mobilku."
Anindi merasa tidak butuh. "Tidak perlu. Nanti juga sembuh."
"Kamu ini perempuan keras kepala, ya." Rendra tak habis pikir. Berjongkok di depan Anindi, melihat kaki kanan perempuan itu. "Kalau tidak ditangani dengan cepat, kamu bisa saja tidak bisa ke sana ke mari. Kamu mau?" Kepala Rendra terangkat ke atas.
"Benar itu, Mbak." Pemilik toko kue membenarkan. Pasalnya, cedera kecil pun pasti akan berdampak pada kesehatan. Maka dari itu, lebih baik ditangani secepat mungkin. "Mas, ini benar sekali. Cedera kecil bisa berdampak juga untuk kesehatan."
__ADS_1
Anindi terdiam, menimbang lebih dahulu. Sebab, jika ke rumah sakit, itu artinya ia perlu mengeluarkan biaya lagi. Hal ini yang lumayan memberatkan.
Rendra memperhatikan Anindi, guratan halus di kening perempuan itu menandakan kebimbangan yang tersirat. "Jangan khawatir soal apa pun!" Lelaki itu berdiri lagi. Suaranya terdengar sangat tegas. "Masuk mobil dan kita ke rumah sakit."
Anindi menolak tegas lagi. Namun, Rendra lebih tegas. Mereka berselisih paham sekitar setengah jam, sampai akhirnya keputusan ke rumah sakit pun diambil juga. Anindi dibantu oleh seorang perempuan muda yang baru saja datang ke toko buah.
Anindi duduk di jok belakang, perempuan itu juga membawa serta tas kecil yang sering dibawa. Duduk diam tanpa melihat ke depan, hanya memperhatikan jalanan samping yang terasa lebih indah dari balik kaca mobil.
Rendra fokus ke depan, menyetir dengan tenang. Sesekali melirik Anindi dari kaca depan, mereka hening tanpa pembicaraan apa pun.
Jalanan mendadak macet karena ada kecelakaan di depan. Terpaksa mobil Rendra pun berhenti seperti yang lainnya. "Ibumu sehat? Sudah keluar rumah sakit belum?" Tiba-tiba Rendra teringat pada sosok wanita penuh cinta dan kehangatan itu. Sudah hampir lima hari tidak bertemu, rupanya ada rindu yang membelenggu. Namun, tidak bisa tersampaikan karena Rendra sendiri tidak mengenal betul keluarga Anindi.
Anindi baru menoleh, tidak sengaja bertemu pandangan dengan Rendra. Langsung saja perempuan itu menunduk lagi. "Alhamdulillah, Ibu sehat. Sudah pulang juga hari ini."
Pertanyaan itu tidak bisa langsung Anindi jawab. Rasanya jika dikatakan sehat total, jelas tidak. Secara fisik mungkin sehat, tetapi untuk ingatan. Sang Ibu belum banyak mengingat hal kecil sekali pun. Seperti saat ibunya melihat foto pernikahan bersama sang Ayah, ibunya sama sekali tidak mengingat sedikit pun.
Anindi menghela napas kasar. Sulit sekali mengatakannya.
Rendra terdiam. Melihat reaksi Anindi yang pastinya punya banyak beban. "Dengan Beliau pulang saja, itu sudah sehat. Kalau kamu terlalu fokus ke ingatan Beliau, mungkin memang bisa dikatakan belum sepenuhnya." Entah mengapa lelaki itu seolah terlihat bijaksana ketika sedang berbicara. Pantas saja tidak akan ada yang menyangka jika lelaki itu pernah berbuat hal gila.
Anindi tersenyum kecil. "Seharusnya memang seperti itu, tapi aku tetap saja sedikit sedih. Ibu, tidak banyak mengingat momen tentang Almarhum Ayah dan aku. Seperti, Ibu menganggap Almarhum Ayah itu adalah orang lain. Rasanya sakit, itu mungkin perasaanku saja."
__ADS_1
Rendra lagi-lagi cukup memperhatikan Anindi yang sedang menunduk. Perempuan itu sangat menghindari pertemuan kedua matanya dengan orang lain, cukup bagus juga. "Itu namanya proses, orang yang banyak kehilangan ingatan pasti melupakan momen paling berharga di hidupnya. Entah itu pasangan atau kejadian manis. Itulah sebabnya, kita sebagai orang sekitar harus membantu sedikit demi sedikit. Jangan terlalu memaksa juga."
Anindi terdiam. Perkataan Rendra ada benarnya juga, tetapi itu tetap saja tidak bisa membenarkan perihal kebohongan Anindi dengan Rendra yang berperan sebagai pasangan suami istri.
Rendra teringat sesuatu. "Apa ibumu masih menganggapku suamimu?" Penasaran juga. Biasanya, orang yang mengalami amnesia tetap akan meyakini apa yang pertama muncul di pikiran.
Anindi diam dengan wajah menunduk. Itulah hal yang paling berat sekarang, bahkan perempuan itu sudah kehabisan akal untuk memberikan alasan apa lagi untuk ibunya.
"Sudah aku duga." Rendra tak perlu jawaban, reaksi Anindi saja sudah menjelaskan dengan baik.
Kemacetan belum terurai dengan baik. Kecelakaan yang mengakibatkan kemacetan panjang itu pun menyebabkan Rendra dan Anindi terjebak dalam satu kendaraan. Jarak ke rumah sakit terdekat mungkin tidak akan lama dari sini, jika tidak ada kecelakaan.
Rendra meluruskan pandangan ke depan. Ada satu kalimat yang ingin diutarakan, tetapi sulit untuk membuka mulut. Entah ini benar atau tidak. Yang jelas, hatinya terus tersiksa karena ini juga.
"Sebenarnya, sekarang aku sedang bingung." Anindi mulai terbuka. Sebab, Rendra ini menjadi faktor utama dari kebimbangannya. Gadis itu menghela napas kasar, sangat jelas kalau memang sedang bingung. "Ibu terus saja menanyakan ke mana dirimu, padahal aku sudah bilang kalau kamu ke luar kota."
Rendra menyunggingkan senyum, cukup lucu juga. "Benarkah?"
Anindi sekali lagi menghela napas berat lagi sambil mengangguk cepat. "Benar. Aku sampai gila harus jawab apa lagi, kalau Ibu bertanya itu lagi. Sedangkan, aku belum bisa menjelaskan lebih detail. Dokter menyarankan untuk menunggu lebih dulu."
Anindi berada di titik paling rendah. Ingin rasanya berteriak kencang. Namun, suaranya sudah habis sampai dasar. Ah, ini gila. Sampai sulit untuk dijalankan.
__ADS_1
"Apa kamu mau meneruskan drama kita? Aku penulis handal. Bisa membuat alur dengan baik yang pastinya menarik." Rendra menoleh ke belakang, bersamaan dengan Anindi yang mengangkat kepala. Mata mereka tidak sengaja saling bertemu di tengah bisingnya klakson dari kendaraan lain yang tidak sabar menunggu.