
Anindi bergeming. Jarak di antara dirinya dengan orang tersebut hanya sekitar satu meter saja. Beberapa orang memperhatikan mereka. Mengamati keduanya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kamu mau keluar bukan?" tanya sosok itu lagi. Mereka sudah beberapa kali bertemu, tetapi tidak saling mengetahui nama masing-masing.
Anindi tersadar. "Iya." Melihat gerakan si Lelaki yang kini menempelkan ID Card ke tempatnya. "Sekarang bisa keluar." Kalimat itu didengar Anindi begitu jelas.
Anindi mengangguk pelan. Kesempatan yang tak boleh disia-siakan. Setelah Anindi keluar, barulah lelaki itu pun menyusul dengan melakukan hal yang sama.
"Terima kasih." Anindi mengangguk pelan dengan senyum kecil, tetapi menghindari pertemuan mata dengan orang tersebut. Selain harus selalu menjaga jarak dengan baik, ia pun perlu menjaga diri dan pandangan.
Sosok itu memasukkan lagi kartu ke saku jas hitam yang tampak lebih bernilai dibandingkan harga outfit Anindi. "Kamu sudah selesai mengantarkan bunga?" Melihat Anindi sekilas, lalu memalingkan badan ke sembarang arah juga.
"Sudah." Rasa penasaran masih menghinggapi diri. Ingin bertanya, tetapi sedikit canggung. Terlebih mereka bukanlah dua orang yang saling kenal untuk membahas tentang itu.
Setiap karyawan yang bertemu, semuanya mengangguk hormat pada sosok itu. Semakin menggiring rasa penasaran Anindi ke sisi jurang. Jika tidak segera berlari ke depan dan mencari jalan keluar, sudah dipastikan dirinya akan terjun. Setelah dipikir berulang kali, akhirnya Anindi memilih mengutarakan pertanyaan. Mereka berjalan bersama ke arah pintu keluar. "Sebenarnya kamu sebagai apa di perusahaan ini? Aku lihat dari tadi setiap karyawan yang melihatmu, mengangguk hormat."
Begitu mereka keluar melewati pintu utama pun, satpam kantor menyapa dan mengangguk pelan pula. "Selamat siang, Pak." Suaranya penuh kesopanan dan menghormati.
Lelaki itu cukup mengangguk. Kini mereka berdua sudah keluar gedung, masih berjalan ke arah parkiran dengan tetap memperhatikan jarak. "Kenapa memangnya?" Bukannya menjawab, si Lelaki justru mengajukan pertanyaan.
Anindi melirik sebentar, kemudian sesegera mungkin mengalihkan pandangan ke depan. Jangan sampai salah arah. "Aku cuma penasaran." Kening perempuan itu berkerut kencang. "Rasanya, kamu lebih berbeda dengan mereka."
Sosok itu tertawa kecil. "Saya tetap manusia biasa. Kamu kira saya ini makhluk lain." Berhenti tertawa ketika keduanya memasuki area parkiran.
__ADS_1
Sebenarnya Anindi bukan tipe perempuan yang ingin tahu banyak hal tentang orang lain. Akan tetapi, ada masa di mana rasa penasaran lebih dominan di jiwa dan akhirnya mendorong untuk lebih tahu. "Aku bukan bermaksud memvonismu mahluk astral atau mungkin berbeda dari yang lain, tapi melihat pegawai lain yang begitu menghormati. Jelas saja, kamu punya kedudukan tinggi di gedung ini."
"Kedudukan tinggi?" Lelaki itu bertanya lagi. Berhenti di depan mobil yang ternyata berdampingan dengan motor Andini. "Saya rasa, semua orang yang ada di sini sama saja. Saya tidak suka dibedakan."
Anindi mencerna setiap kata yang didengar, kemudian mengolahnya dengan baik agar bisa menentukan langkah selanjutnya.
Lelaki tersebut mendekati pintu mobil kanan dan berkata, "Kedudukan saya tidak penting, tapi menolong orang lain itu penting. Kita tidak perlu melihat jabatan atau status orang untuk melakukan kebaikan, karena sejatinya semua kebaikan itu datang dari Allah. Maaf, saya ada urusan. Assalamualaikum." Lelaki tersebut masuk ke dalam mobil.
Anindi tidak masalah. Tak perlu mendebatkan hal yang tidak terlalu penting. "Wa'alaikum salam."
Mobil berwarna hitam itu pun meluncur ke depan lebih dahulu sambil diperhatikan oleh Anindi. Mereka terpisah tanpa saling menyebutkan nama satu sama lain. Memang tidak berniat untuk berkenalan. Sebab, semua orang pasti selalu berpapasan beberapa kali dengan orang yang sama. Itu wajar saja, sekali pun dunia ini memang lebar dan luas. Namun, tidak menutup kemungkinan bisa bertemu dengan orang yang sama pula.
Anindi pun langsung pergi dari sana menggunakan kendaraanya. Bersiap kembali ke toko dan pulang. Berteman lagi dengan kebimbangan karena pastinya sang Ibu akan terus menanyakan tentang suami.
***
Sebelum pergi ke tempat tujuan, Rendra sendiri memilih membelikan beberapa buah tangan berubah makanan siap saji juga buah-buahan. Biasanya, mereka sangat suka dengan makanan tersebut.
"Biasa, ya, empat puluh porsi." Rendra berbicara pada kasir di outlite ayam crispy.
"Dengan nasi, Mas Rendra?" Lelaki muda yang ditaksir Rendra baru berusia sembilan belas tahun itu bertanya balik.
Rendra mengangguk cepat. "Seperti biasa aja." Rendra berjalan ke arah tempat duduk.
__ADS_1
Outlet penjual ayam ini sangat terkenal enak dengan harga ekonomis. Bayangkan saja, masih ada harga dua belas ribu untuk satu paket ayam tepung dengan nasi juga sambal atau saos. Untuk ukuran kota besar, itu terbilang sangat murah. Di tengah harga pasar yang melonjak tajam, makanan ini bagaikan angin segar untuk para pecinta ayam dengan kantong menipis. Lumayan lah.
Rendra duduk di sebelah dua anak sekolah menengah atas yang sedang asyik membicarakan tentang percintaan. Lelaki itu diam, mendengarkan. Tidak sengaja sebenarnya.
"Eh, kamu yakin mau sama dia?" Anak perempuan dengan rambut sebahu serta memakai seragam salah satu sekolah favorit di bagian timur kota ini pun bertanya pada teman di sampingnya.
Anak perempuan satu lagi dengan rambut panjang dikuncir kuda itu pun terdiam. Sesekali menyeruput es jeruk yang tinggal setengah gelas lagi. Cuaca Ibu kota siang ini cetar membahana. Sang Mentari memperlihatkan kekuatannya dalam menggosongkan kulit penghuni semesta. Benar-benar dahsyat. "Aku nggak tau. Bingung juga."
"Jangan bingung. Kalau emang nggak suka, tinggal tolak aja."
"Tapi, dia itu tampan, lho."
Anak perempuan berambut sebahu tertawa lepas. Menarik perhatian beberapa pelanggan yang sedang makan di tempat, tetapi tidak dengan Rendra. Lelaki itu cukup tersenyum kecil, cinta masa sekolah memang terdengar indah. Membuai setiap jiwa yang tersentuh. Namun, justru di sanalah ujian paling besar. Di mana para anak sesuai sekolah itu masih proses mencari jati diri, jadi tentunya belum bisa mengontrol perasaan dan melihat kenyataan. Hanya indah saja yang mereka pikirkan.
"Kalau memang tampan, ya tinggal terima aja. Lagian si Kei itu anak campuran. Wajar aja kalau tampannya kebangetan," kata anak perempuan berambut sebahu.
Mereka terus terlibat percakapan, sampai nama Rendra disebut. Keduanya melirik Rendra, terpesona dengan pria dewasa yang kini berdiri dan melewati keduanya.
"Kakaknya, tampan, ya?" tanya anak perempuan rambut dikuncir.
"Iya, tampan banget." Temannya menambahkan.
Rendra membayar sesuai harga, bahkan sering dilebihkan. Sudah biasa. "Aku pamit, ya. Assalamualaikum." Membawa dua plastik besar berisi kotak makanan.
__ADS_1
"Iya, Mas. Makasih. Wa'alaikum salam." Kasir muda itu bahagia. Rendra melebihkan uang sekitar tiga puluh ribu rupiah.
Rendra berjalan melewati dua gadis itu yang masih mencuri pandangan. Berhenti sebentar, lalu berkata, "Jangan terpana dengan penampilanku, kalian belum tau bagaimana ganasnya seorang lelaki." Tersenyum manis dengan menatap kedua mata mereka satu persatu, lalu pergi dari tempat itu.