
Adib terdiam sejenak, kemudian berkata, "Aku tidak mendengar apa-apa. Memangnya kenapa?" Lelaki itu justru bertanya balik. Penasaran dibuatnya.
Anindi berusaha tenang. Syukurlah Adib tidak mendengar apa pun. "Tidak. Aku cuma bertanya. Jadi, berapa buket bunga yang mau kamu pesan?" Anindi mengalihkan perbincangan. Jangan sampai berbuntut panjang.
"Satu saja."
Percakapan mereka berakhir. Anindi melakukan tugasnya, sedangkan Adib hanya tinggal menunggu. Kecanggungan muncul ke permukaan lagi, baik Adib maupun Anindi sama-sama tidak ingin membuka mulut.
Buket selesai. Adib membayar sesuai tarif yang berlaku, lalu pergi. Sementara Anindi menyelesaikan sisa pekerjaan. Hari ini jadwal ibunya check up kembali, sekitar pukul dua siang. Anindi harus bekerja lebih keras lagi agar bisa selesai sebelum waktu check up. "Ibu, pasti menunggu." Itu yang ada di pikiran Anindi.
Waktu terus berlalu, Anindi akhirnya menyelesaikan beberapa pesanan buket bunga kecil sebelum Dzuhur. Begitu azan, perempuan berhijab hitam menutup dada itu pun melakukan salat lebih dahulu di toko, kemudian menutup toko dan pulang.
Selama mengemudikan motor, pikiran Anindi bercabang ke mana-mana. Banyak beban yang ditanggung, tetapi juga perlu tersenyum agar hari-harinya tidak terlalu berat.
Perlahan, tetapi pasti. Anindi bisa sampai di rumah. Ia membuka pagar, memasukkan motor ke halaman dan memarkirkan benda itu di sana. Membuka helm, kemudian bergegas pergi ke arah pintu rumah. "Assalamualaikum." Anindi mengetuk pintu. Namun, justru pintu itu terbuka begitu saja. Anindi terdiam, tidak biasanya sang Ibu membiarkan pintu tak berkunci.
"Ibu." Anindi melangkahkan kaki ke depan, masuk rumah. Mengamati sekitar dan tak menemukan siapa pun. "Ibu, di mana?" Terus berjalan masuk ke area ruangan keluarga yang sekaligus juga ruangan tamu. Kemudian, berjalan ke arah dapur. Belum juga menemukan sosok ibunya.
Anindi berjalan terus sampai mencari ke kamar. Membuka pintu itu dan langsung histeris ketika melihat tubuh ibunya tergeletak di bawah lantai. "Ibu!" Berlarian menghampiri, meraih tubuh sang Ibu. "Ibu, kenapa?"
Bu Lia sama sekali tidak menjawab. Kedua matanya pun tertutup rapat seolah sedang tidur pulas.
"Ibu, Ibu!" Anindi menangis histeris sekaligus panik. Takut terjadi hal di luar pikiran. Perempuan itu berpikir keras, akhirnya memutuskan untuk membawa ibunya ke rumah sakit.
__ADS_1
Anindi meninggalkan ibunya di kamar, mencari bantuan orang lain untuk bisa membawa sang Ibu ke rumah sakit. Tetangga sebelah rumah mereka rupanya sedang ada di rumah, langsung saja menawarkan diri untuk menolong.
Tanpa pikir panjang Bu Lia dibawa ke rumah sakit dengan kondisi Anindi terus menangis karena panik. Perempuan itu menggenggam tangan kanan ibunya yang tertidur di pangkuan. "Ibu, sadar, Bu!" Tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini dalam hidup. Semenjak kecelakaan, Anindi memang sangat khawatir pada sang ibu. Terkadang bekerja pun rasanya tidak tenang.
"Mbak, jangan panik, ya. Ibu mungkin cuma pingsan," kata tetangga yang mengantarkan Anindi.
Anindi cukup mengangguk pelan. Melihat ke arah depan, berharap segera sampai di rumah sakit. Perjalanan menuju rumah sakit berjalan lancar. Anindi bisa sampai dan segera menyerahkan ibunya pada dokter dan perawat yang bertugas. Menemani beliau dengan berharap yang terbaik.
Setelah diperiksa, Bu Lia rupanya perlu perawatan lebih lanjut demi menghindari terjadinya hal-hal yang lain. Dengan sangat terpaksa, Anindi pun menyetujui rawat inap untuk ibunya. Kesehatan sang ibu adalah hal paling utama.
Seperti yang dokter sarankan, Bu Lia dipindahkan ke ruangan kelas satu. Di mana biayanya memang akan dicover oleh asuransi, Anindi cukup bersyukur.
Anindi berdiri di depan sang ibu yang belum juga sadar. Infus di tangan ibunya sudah terpasang, menurut penuturan dokter bahwa ibunya bisa saja mengalami pusing berat karena memaksakan diri dalam mengingat sesuatu. Hal ini menjadi pertimbangan Anindi untuk membongkar dramanya dengan Rendra.
Anindi tertegun. Selalu saja nama itu yang diucapkan ibunya. "Ibu, ini Anindi." Pegangan tangan semakin erat di tangan Bu Lia. "Ibu, sudah sadar?"
Bu Lia memfokuskan pandangan ke depan, benar itu Anindi. "Nak, di mana suamimu?" Sekali lagi menanyakan sosok Rendra.
Anindi diam. Entah jawaban seperti apa yang harus diberikan.
"Kenapa dia tidak pernah datang lagi? Apa kalian bertengkar?" Bu Lia terus mengajukan pertanyaan yang berhasil membuat Anindi semakin bimbang. "Kamu sudah memberikan makan siang untuknya, kan?"
Seperti hari-hari kemarin, Anindi mengantarkan makan siang pada Rendra. Untung saja pria itu meninggalkan nomor ponsel yang sewaktu-waktu bisa dihubungi. Terpaksa, itulah yang dilakukan Anindi. Mengingat ibunya terus saja menanyakan sosok Rendra. "Hari ini aku belum antar, Bu. Tadi lupa."
__ADS_1
Biasanya Rendra datang tepat di jam makan siang. Namun, kali ini pria itu tidak ada ke toko. Entah apa yang terjadi, Anindi kurang tahu, lebih tepatnya tidak ingin tahu urusan orang lain.
"Kenapa? Kasian suamimu, Nak." Bu Lia masih saja mengkhawatirkan Rendra bukan dirinya. "Apa boleh kamu suruh suamimu datang? Ibu ingin berbicara."
Anindi terdiam sejenak, berpikir sebentar. Susah menolak. "Baik, Bu. Nanti aku suruh Mas Rendra datang." Pada kenyataannya Anindi kesulitan untuk mencari alasan menolak permintaan sang ibu, terlebih keadaan ibunya seperti ini. "Ibu, sebaiknya istirahat dulu."
Bu Lia menurut. Anindi menemani sang ibu sampai tenang sambil mendengarkan cerita tentangnya dengan Rendra yang pasti bukanlah kenyataan. Hanya semata-mata khayalan Bu Lia saja. Akan tetapi, Anindi menanggapinya juga.
Bu Lia sudah tenang. Anindi pamit keluar untuk menghubungi Rendra. Jika belum dipertemukan, pastinya ibunya akan terus menanyakan. Anindi duduk di kursi tunggu, mengeluarkan ponsel dari tas kecil. Mencari nomor ponsel lelaki itu yang baru disimpan beberapa waktu lalu.
Tangan Anindi ragu untuk menekan tombol panggilan, tetapi butuh juga. Ia memejamkan mata sebentar, menghela napas kasar, lalu berkata, "Ini demi Ibu. Jangan ragu."
Anindi meyakinkan diri memencet tombol bergambar ponsel berwarna hijau, mencoba menghubungi lelaki yang sangat kental di ingatan ibunya. Drama ini belum berakhir, diperkirakan akan sangat panjang dan tidak tahu akan seperti apalagi.
Satu kali, tak ada jawaban. Entah ke mana pria itu. Anindi mencoba sekali lagi, semoga saja berhasil. Menunggu sekitar satu menit, barulah panggilan telepon itu tersambung dan langsung disambut oleh suara wanita. "Selamat siang, apakah ini temannya pemilik ponsel?" Pertanyaan itu menyapa telinga Anindi.
Anindi terdiam sejenak, kemudian berujar, "Siang juga. Benar."
"Apakah bisa datang ke rumah sakit Cemara sekarang. Pemilik ponsel ini baru saja kecelakaan."
Kedua bola mata Anindi membulat sempurna, terkejut bukan main.
"Kami baru akan menghubungi keluarganya untuk mengabari soal ini," lanjut wanita itu.
__ADS_1