
Anindi berlarian ke arah lift setelah pamit pada ibunya dulu karena sang ibu sempat memanggil namanya. Anindi turun ke lantai bawah, di mana keberadaan Rendra ada di unit gawat darurat. Mengingat Rendra ada di rumah sakit yang sama juga.
Entah mengapa Anindi cemas. Bukan karena cinta juga.
Anindi akhirnya sampai di tempat tujuan, mencari keberadaan Rendra dengan kedua bola mata. Tak ada satu pun. Dengan cepat perempuan itu menanyakan Rendra dan akhirnya menemukan jawaban.
"Pasien atas nama Rendra sudah dipindahkan ke ruangan VIP," jawab suster perempuan.
Anindi terkejut. Tak lupa berterima kasih, kemudian berlarian ke arah lift lagi. Kali ini ia harus naik ke lantai lima, di mana terdapat ruangan VIP paling mewah di rumah sakit ini. Ruangan yang sering dipakai oleh orang-orang kaya dan para pejabat. Lantai itu pun lebih banyak fasilitas dibandingkan yang lain, namanya uang berkuasa.
Anindi sampai di lantai delapan. Lupa menanyakan kamar ke satu atau dua, sebab di lantai ini ada dua kamar VIP. "Aku harus cari sendiri." Dengan rasa cemas luar biasa yang tidak bisa dihindari, Anindi mencoba mengetuk salah satu pintu kamar. Tidak ada jawaban, mungkin kosong pikirnya.
Kali ini Anindi bergerak ke kamar sebelah. Jaraknya lumayan jauh dikarenakan satu kamar itu cukup luas dengan berbagai fasilitas. Aninid menghela napas kasar, mengetuk pintu kencang. Menunggu jawaban. Tidak ada jawaban juga, tetapi kali ini Anindi penasaran. Ia menggeserkan pintu dari kayu jati itu ke samping kanan. Pemandangan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, Rendra ada di sana. Namun, kali ini pria itu bersama seorang wanita yang memakai baju kaos berlengan pendek juga celana jeans pendek. Mereka menoleh ke arah pintu, bertemu pandangan dengan Anindi. Membuat Anindi sedikit gugup. "Assalamualaikum."
Rendra terkejut, tetapi wanita di sampingnya bersikap biasa saja. "Kamu." Rendra menunjuk wajah Anindi, tidak menyangka akan bertemu di sini. "Wa'alaikum salam."
"Dia temanmu?" tanya wanita yang ternyata adalah Raina. "Aku baru melihatnya." Perempuan itu menatap lekat Anindi.
__ADS_1
Anindi masih diam. Sudah terlanjur datang ke sini, tidak mungkin hanya diam saja. Oleh sebab itu, Anindi pun memberanikan diri melangkah ke depan. Mendekati Rendra dan Raina. Berdiri di depan mereka.
"Kamu tau aku di sini?" Rendra bertanya lagi, bingung. Mencari jawaban pasti, tetapi tidak juga menemukan. "Dari siapa?"
Anindi mencoba tenang. "Aku tadi sempat menghubungimu, tapi ternyata yang mengangkat itu suster di rumah sakit."
Rendra diam, ingat. "Aku pikir suster menghubungi keluargaku, ternyata kamu." Rendra tidak bisa menyalahkan suster. Ia yang pingsan karena kecelakaan ringan tadi, tidak terlalu ingat banyak, kecuali tentang perkataan suster bahwa mereka menghubungi keluarga Rendra.
Anindi sendiri tidak langsung datang begitu menerima kabar karena harus menemui ibunya.
"Maaf, aku lama datang. Tapi, aku bersyukur keadaanmu baik-baik saja," kata Anindi tanpa ingin melihat kedua bola mata Rendra.
"Jaga bicaramu!" Rendra marah.
Anindi mengangkat kepala. Rasa khawatir itu hilang ketika melihat keadaan lelaki tersebut tidak terlalu parah. Memang Rendra memakai perban di pelipis kanan juga ada bekas jahitan di lengan kiri. Namun, itu menunjukkan tidak terlalu parah. "Aku datang karena takut kamu belum ada keluarga, tapi sepertinya sekarang sudah. Kalau seperti itu, aku pamit."
Anindi hendak berbalik badan, tetapi Rendra melarangnya.
__ADS_1
"Keluargaku belum datang. Apa kamu bisa diam di sini?" Rendra tak segan meminta.
"Hei, kamu pikir aku ini apa?" Raina protes, tak dianggap keluarga.
"Kamu itu teman, bukan keluarga. Tapi, perempuan itu beda lagi." Rendra menjawab semaunya.
Anindi tertegun.
Raina semakin penasaran tentang kedudukan Anindi di mata Rendra. Rasa curiga pun datang. Jangan sampai pemikirannya benar. "Maksudmu berbeda?" Tatapan itu masih saja difokuskan ke Anindi seolah ingin menerkam mentah-mentah.
"Dia i–." Kalimat Rendra terhenti ketika Anindi membuka suara lagi.
"Baiklah, aku tunggu kamu di sini," potong Anindi. Yakin jika Rendra akan menjawab seenak udelnya saja, apalagi jika sampai mengakui dirinya sebagai calon istri. Bisa gawat.
Rendra melirik Anindi, sudut kanannya terangkat ke atas membentuk senyuman. Merasakan ketakutan yang terpancar jelas di kedua bola mata Anindi. "Syukurlah." Lelaki itu memang. "Aku lapar, tapi sayang tanganku diperban. Menurutmu aku harus seperti apa?"
Raina geram. "Tadi aku tanya, kamu nggak mau makan!" Perempuan itu berada di level kekesalan paling tinggi.
__ADS_1
Anindi mengerutkan kening. Menebak hubungan antara Rendra dan sosok wanita di depannya ini. Mungkinkah mereka berpacaran? Bisa jadi.
"Aku bertanya ke Anindi, bukan kamu." Rendra mengacuhkan Raina. Kedatangan gadis itu tidak diinginkannya, entah dapat kabar dari mana juga tentang kecelakaan ini. "Jadi, bagaimana menurutmu, Anindi?" Rendra bertanya lagi. Mengukir senyum kecil, seperti biasanya.