
"Sudahlah, aku juga lelah. Kamu tidak perlu mengantarkanku sampai ruang inap." Rendra memilih mengakhiri perbincangan mereka. Berjalan menjauhi Anindi.
Anindi sedikit kesal. Rendra terkadang bersikap semaunya. Akan tetapi, perasaan Anindi pun sedikit kurang baik. Lebih enak menjauh dari banyak orang.
Dokter memeriksa Bu Lia, memperbolehkan pulang dan meresepkan obat juga. Anindi menebus obat tersebut, lalu membawa ibunya pulang setelah semua administrasi diselesaikan.
Cantika datang menjemput dengan Kemal menggunakan mobil sewaan. Tidak mungkin juga membawa Bu Lia dengan angkot.
"Sini aku bantu, Tante." Cantika sudah menganggap Bu Lia itu seperti ibu kandung. Kemal juga sama.
Kemal menyetir, Cantika duduk di bangku belakang bersama Bu Lia, sedangkan Anindi sendiri menggunakan motor kesayangan.
Mereka pulang bersama ke rumah Anindi. Selama di perjalanan, Bu Lia terus saja bercerita tentang suaminya Anindi. Kemal yang belum banyak tahu itu terdiam, sesekali melirik pacarnya, meminta penjelasan.
"Ibu, senang sekali Anindi bisa dapat suami sebaik Nak Rendra. Ibu, juga berharap kalian segera menikah," kata Bu Lia.
Cantika menggenggam ibu dari sahabatnya itu. "Alhamdulilah, Bu, aku ikut senang. Doakan saja, ya, Bu." Hanya itu yang bisa Cantika berikan sebagai jawaban. Ia yakin jika Anindi sedang dalam fase sangat sulit.
Waktu yang ditempuh sekitar sepuluh menit, mobil sewaan itu sampai di depan perkaranvan rumah Bu Lia. Cantika kembali membantu Bu Lia untuk keluar mobil dan masuk rumah, sedangkan Anindi masih belum sampai. Izin membeli buah-buahan untuk ibunya dulu.
Kemal menunggu di teras, duduk di kursi rotan. Perkataan Bu Lia semakin mengusik pemikiran, sebab setahunya Anindi itu sudah berpisah. "Apa dia nikah lagi? Tapi, kok, Cantika nggak ngomong ke aku, ya?" Kemal pusing sendiri.
Cantika kembali keluar setelah membaringkan Bu Lia di kamar. Perempuan itu duduk di bangku sebelah. Kedatangannya langsung disambut oleh pertanyaan Kemal.
"Anindi nikah lagi?" tanya Kemal penuh rasa penasaran.
Cantika bingung menjelaskan, tetapi itu sangat penting juga.
"Hei, kamu bisa jelaskan nggak? Aku pusing nebak sendiri dari tadi, Sayang." Kemal yang sedang pusing dengan pekerjaan memaksa pacarnya untuk berterus terang.
Cantika menoleh ke samping kanan, menghela napas kasar. "Dia nggak nikah lagi, tapi ibunya tetap menganggap dia menikah."
Kening Kemal tentunya berkerut. Aneh. "Sebentar, Sayang. Aku sedikit bingung. Menganggapnya menikah, ini maksudnya?"
Cantika menjelaskan kronologi kejadian yang menjadi alasan Bu Lia seperti ini. Sontak Kemal terkejut, hampir histeris.
__ADS_1
"Jadi, sekarang Anindi sama lelaki itu statusnya apa?" Bertanya lagi.
"Ya, nggak ada status apa pun, mereka itu cuma drama." Cantika berkata jujur.
"Astagfirullah, kenapa jadi seperti ini, sih?" Kemal menggaruk kepala yang tak gatal. "Aku yang dengarnya saja pusing, apalagi Anindi."
Cantika diam sebentar, lalu berkata lagi, "Kalau kamu tau berita terbaru, pasti lebih pusing lagi."
Sontak rasa penasaran Kemal keluar. Berita apalagi. "Tentang apa?" Lelaki itu tak ingin ketinggalan lagi.
Dengan wajah sedikit sendu, Cantika menjawab. "Anindi diminta tinggal di rumah lelaki itu karena keadaanya habis kecelakaan. Kamu tau sendiri, kan, sebelumnya Anindi tinggal sama suaminya yang dulu, tapi pindah karena diusir."
Kemal tak lagi berkata-kata, spektakuler sekali beritanya.
"Yang pasti Anindi sekarang lagi kurang baik, kabarnya." Cantika juga ikut pusing.
Kemal akhirnya diam, dunia itu terkadang menyakitkan bagi sebagian orang. Bahkan, sangat tidak adil untuk segelintir orang. Terlebih skenario di dalamnya itu begitu banyak dan perlunya kelihaian dalam berakting.
Tak berapa lama Anindi datang dengan motornya. Perempuan itu langsung memarkirkan motor di samping mobil dan masuk rumah. Tidak lupa menyapa Cantika dan Kemal lebih dulu. Siang ini mereka akan makan siang bersama, Cantika dan Anindi memasak di dapur. Keduanya membuat sayur sop dengan sambal dan ayam goreng. Perpaduan makanan yang sulit dilupakan.
Anindi belum terpikirkan apa pun. Terlebih malam juga masih panjang. "Iya, Can. Nanti aku pikirkan lagi."
Cantika menyiangi bawang merah, melihat wajah bingung Anindi saja sudah membuat perempuan itu kasihan. Ujian hidup datang bertubi-tubi pada kehidupan Anindi, sekarang justru dihadapkan dengan keadaan yang sulit ditolak. "Semoga saja ada waktu yang tepat untuk bisa katakan ini ke ibumu. Kamu pasti tersiksa, kan?"
Anindi yang kala itu sedang menggoreng ayam hanya bisa mengangguk pelan. Tak ada kata-kata yang bisa melambangkan perasaannya sekarang.
"Kalau aku di posisi kamu, belum tentu kuat. Kamu hebat, Nin." Cantika melempar senyum.
Anindi menoleh ke samping kanan. "Bukan aku yang hebat, Can. Tapi, Allah yang memberiku kekuatan. Aku juga tidak menyangka akan ada di posisi ini." Dalam otak Anindi, sama sekali tidak terpikirkan bisa mengambil peran sebagai istri palsu dari seorang lelaki yang bahkan tidak dikenalnya dengan benar. Sungguh … dunia ini memang gila.
"Sebaiknya kita makan siang dulu yang banyak biar bisa menghadapi kenyataan yang pahit." Cantika tertawa kencang, berniat menghibur Anindi.
Anindi tersenyum kecil, ada-ada saja kelakuan Cantika ini. Akan tetapi, tidak dipungkiri jika sikap itu bisa menghiburnya sedikit. Setidaknya, Anindi bisa melupakan sebentar saja permasalahan yang ada.
Kemal datang dengan perut lapar ke dapur. Mendapati dua gadis itu justru tertawa senang, lelaki itu tersenyum. Baginya, Anindi itu juga penting karena teman karib Cantika. Semoga saja kebahagiaan selalu menyertai mereka. "Aku lapar, Sayang. Kamu malah enak-enak ketawa." Kemal bersuara.
__ADS_1
Cantika melirik Kemal. "Perutmu itu setiap detik memang sering lapar. Kamu sebenarnya manusia atau apa?" Cantika tertawa kecil.
"Hus, Can. Tidak baik." Anindi menegur.
Cantika tertunduk, menyesal. "Maaf."
Kemal suka dengan interaksi keduanya karena bisa saling mengingatkan satu sama lain. Wajar saja jika Cantika begitu menyayangi Anindi, perempuan itu sudah seperti seorang Kakak yang menjaga adiknya dengan baik. Bisa berperan layaknya Ibu yang memberikan kedamaian lewat sentuhan tangan dan kasih sayangnya.
"Dia mah udah biasa, Nin. Jangan khawatir," kata Kemal yang sudah tidak asing lagi.
Cantika tersenyum manis. Melihat kegagalan pernikahan Anindi memang sedikit menakutinya untuk terjun ke dunia itu, tetapi hati nurani Cantika jelas ingin mencoba. Siapa pun di dunia ini pasti ingin merasakan masuk ke gerbang pernikahan, di mana dunia baru bagi setiap insan.
Setelah masakan siap sedia, Anindi memanggil ibunya untuk makan. Keempat orang itu pun menikmati makan siang dengan sesekali tertawa dan bercerita.
Tepat pukul satu siang, sebelum sift siang di mulai, Cantika dan Kemal pamit. Cantika harus masuk kerja, begitu pun dengan Kemal. Sebelum pulang, Cantika sendiri mengajak kembali Anindi untuk tinggal di kost-nya setiap malam, tetapi Aninidi masih memikirkannya.
Waktu terus berjalan sampai akhirnya sore menjelang Magrib pun datang. Setelah salat Ashar dan menyiram tanaman, Bu Lia mendatangi Anindi. Mengingatkan anaknya untuk segera pulang menemui Rendra. "Kamu masak dulu untuk suamimu, jadi nanti dia bisa langsung makan," pesan sang ibu. Anindi cukup menjawab dengan anggukan. Kembali mengikuti keinginan sang ibu dan lagi-lagi harus terlibat dengan Rendra.
Sesuai saran ibunya, setelah azan Magrib Anindi masak menu baru. Ia juga membungkusnya di kotak makan, seperti seorang istri yang akan memberikan makan malam pada suaminya sendiri.
"Jangan lupa bawakan buah-buahan juga. Jaga suamimu, ya, Nak." Kembali lagi pesan baik diberikan pada Anindi dari sang ibu.
"Iya, Bu. Aku pamit pulang, Ibu baik-baik di rumah. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Anindi terpaksa melangkahkan kaki dari rumah ini di malam hari. Entah apa seperti apa nasib nasi kotaknya ini. Mana mungkin Anindi bertemu Rendra di malam hari, itu hanya akan menimbulkan fitnah kejam.
Dengan motor kesayangan, Anindi meluncur keluar dari pekarangan rumah ibunya. Ingin pergi ke rumah Cantika, tetapi pasti merepotkan. Memang lebih baik ke toko saja.
Dari jalanan perumahan, motor Anindi bergabung di jalan raya. Meluncur ke arah kanan. Tumben sekali keadaannya tidak seramai biasanya, Anindi fokus ke arah depan tanpa melihat ke mana pun. Ketika melewati belokan, ia melihat dari spion kanan ada motor besar yang berada di belakang.
Awalnya Anindi biasa saja, tetapi lama kelamaan motor itu sama sekali tidak menyalip, sekali pun Anindi memberikan ruang. Barulah Anindi ketar ketir, sedikit curiga sekaligus takut. Keadaan jalanan juga mendadak tidak seramai biasanya, heran.
Anindi terus meluncur ke arah depan, menambah kecepatan. Dan, tanpa diduga motor di belakangnya pun melakukan hal yang sama. Ini bahaya. Bisa saja pengemudi motor besar itu memiliki tujuan buruk.
__ADS_1